Kontes SEO Gudangpoker.com

Kunjungi

Selasa, 15 September 2009

.................tiada bulan...................


Tiada bulan

Roran hanya bisa memandang zian penuh harap. Semua cintanya hanya ditujukan pada Zian. Haruskah aku kehilangan orang yang kusayangi lagi, itulah yang sekarang ini ada dibenak Roran. Muka pucat pasi, tubuh kurus yang terbalut jarum-jarum infus itu membuat Roran semakin sedih. Dia takut kehilangan Zian. Roran merasa tak sanggup bila itu terjadi. Perlahan Roran menyandarkan tubuh lemasnya di pintu ruang ICU.
>,<
‘Dokter mau kemana?’
‘Aku ingin pergi sebentar’
‘Kemana Dok?’
‘Untuk hari ini, ada pasien untukku?’
‘Ada dok............tapi......’
‘Kau tanggani saja dulu’
Jawab Roran singkat sembari pergi.
Tentu saja sikap Roran jadi begitu. Semua itu karena Ghea pergi meninggalkannya. Dia hanya perlu waktu untuk berfikir rasional saja. Karena itulah ia mengarah ke teras rumah sakit yang terletak di lantai teratas. Dilihatnya seorang gadis telah mendahuluinnya.tanpa rasa bersalah, Roran pergi kesisi loteng yang lain.
‘Dokter sedang apa disini?’ tanya gadis itu
Roran bingung, dengan memelingkn tubuh yang tegap itu Roran menjawab
‘Hanya refresing’ dan melanjutkan langkahnya pergi
‘Aku juga,tujuan kita ternyata sama yah’ jawab gadis itu ramah.
Roran membatalkan niatnya pergi. Dia berbalik menhampiri gadis itu.
‘Kamu pasien disini?’
‘Ah, tidak dok. Aku hanya menemani saudaraku yang sakit.’
‘Tapi kau pucat?’
‘Oh, ini bawaan sejak lahir, kok.’
‘Turunan?’ tanya Roran
‘Yupp!!! Betul sekali’ jawabnya semangat
‘Zian Alfazeul’ kata Zian sembari mengulurkan tangannya
‘Aku.........’ belum sempat Roran menjawab
‘Dr. Roran Orlondo Sinc, dokter spesialis bedah. Wow, hebat!!!’ tungkasnya
Roran menyadari bahwa Zian telah membaca nama dadanya. Dia tersenyum dan saling tersenyum. Agaknya dengan kehadiran Zian disitu dapat menghibur hati Roran yang seharusnya pedih. Sampai-sampai roran mulai melupakan kesedihannya yang lalu.
>,<
‘Tolong suster siapkan semua berkas-berkas pak ruan. Saya mau keluar sebentar. Kira-kira 1jam lagi saya kembali’ kata roran semangat.
‘Baik Dok. Tapi dok, maaf mencampuri urusan pribadi dokter’
‘Ya, ada apa sus???’
‘Sepertinya Dokter pagi ini ceria sekali, ada apa ya dok, tidak seperti biasanya dok, terutama 2 minggu yang lalu?’tanya Suster Cindy bingung
‘rahasia’ jawab Roran sembari pergi.
Sejak tadi senyum Roran terus beerkembang. Tentu saja, hari ini jadwal kencannya dngan Zian. Memang ini tidak bisa disebut sebagai kencan, tetapi Roran menganggapnya begitu. Saat Roran membuka pintu teras, dia mendapati sosok Zian tak ada disana. Senyum Roran begitu miris. Lalu benaknya berkata, padahal aku kan ingin mengungkapkan perasaanku padanya hari ini, sayang sekali dia tak datang. Lalu Roran memalingkan tubuhnya meninggalkan teras, menuju ruang kerjanya kembali. Dalam langkahnya, Roran mencari-cari alasan yang mungkin terjadi sehingga Zian tak sempat datang kali ini. Terlintas dipikirkannya, umh, mungkin saudaranya yang dirawat disini sudah sembuh dan dia sudah tak disini lagi. Sejenak dia menhela nafas, kalau itu benar berarti dia tidak akan pernah bertemu dengan Zian.
‘Ah aku tau, dia kan pernah bilang padaku kalau saudaranya sakit DBD’ teriak Roran kegirangan
Karena kini dia tau apa yang harus ia lakukan untuk dapat menggetahui semua data-data tentang Zian lewat saudaranya itu. Roran bergegas menuju bagian resepsionis dengan semangat keingin tahuannya tentang zian yang belum pernah dia ketahui itu.
‘Ada apa Dok, ada yang bisa kami bantu??’
‘Saya ingin mencari data pasien’
‘Tentang apa Dok, mungkin data tentang kapan dia msuk kesini mungkin?’
‘Dia masuk kesini kira-kira dua Minggu yang lalu karena sakit DBD’
‘Oh ya ada Dok, sekitar 4 orang yang masuk di rumah sakit ini dengan penyakit serupa dengan klasifikasi Dokter, boleh saya tau nama atau alamatnya Dok?’
‘Ah tidak, tidak perlu, kalau begitu apa boleh aku meminta data 4 orang tersebut?’
‘Tapi kalau boleh kami tau Dok, data ini digunakan untuk apa ya?’
‘Salah satu pasien saya menderita amnesia, dia ingin sekali bertemu dengan anggota keluarganya, hanya saja yang dia ingat hanya kapan dan sakit apa saudaranya itu’
‘Oh begitu Dok, baiklah kalau begitu’
‘Ya terima kasih, langsung saja kirim ke komputer ruang kerja saya’
‘Baik Dok’
>,<
‘Ah.......ini sudah rumah yang ke-4, tapi kenapa tak cocok ya?’ gumam roran bingung
‘Kalau begitu terima kasih ya pak, permisi....’ lanjut roran lesu
‘Oh ya sama-sama dok’
Roran beranjak pergi dari rumah terakhir itu. Kini yang ada di pikirannya hanya, mungkinkah Zian berbohong kepadaku. Dia terus berpikir berulang-ulang, antara ya dan tidak. Kini dia meragukan tentang semua yang mereka bicarakan di teras selama 2 minggu ini. Ah tidak aku harus percaya padanya, batin Roran.
Saat Roran hendak memasuki mobilnya, handphone nya berdering.
‘Ada apa Suster?,’
‘Gawat Dok, dokter harus secepatnya kembali!’
‘Ada pasien untuk saya?,’
‘ Iya Dok, keadaannya sangat gawat, harus segera dilakukan pembedahan,’
‘Baiklah saya akan segera kesana’
Dengan cepat Roran menutup teleponnya, secepat itu pula Roran menuju rumah sakit
>,<
‘Tolong bacakan data tentang pasien suster!’
‘Baik Dok. Pasien bernama Zian alfazeul, menderita....’
‘ Tunggu Suster, siapa tadi nama pasiennya?’
Potong roran sambil menghentikan langkahnya berlari.
‘ Zian Alfazeul Dok’
‘..............’
Roran terdiam sambil melanjutkan langkahnya
‘ Pasien mengalami anemia hemolitik autoimun dingin, penyebabnya masih belum diketahui dok, dokter harus segera melakukan pengangkatan limpa’
‘................’
Roran masih diam dan tidak menjawab.
Waktu memasuki ruang oprasi, biasanya Roran begitu percaya diri bisa menyembuhkan siapapun dan apapun penyakit pasiennya. Karena dilihat dari latar belakang pendidikan Roran, dialah dokter termuda dan terhandal dalam soal pembedahan, mencapai 90% oprasi yang dia lakukan berhasil. Karena motivasinya adalah membuat semua pasiennya sembuh.
Tapi untuk kali ini rasa seperti itu sirna. Dia bahkan takut menghadapi ruang oprasi. Dia juga takut mengetahui bahwa benar pasiennya kali ini adalah Zian. Dia takut terpukul untuk yang kedua kalinya. Dia ingin menghentikan langkah kakinya, tapi tak bisa.
Saat dia mendekati tubuh kurus pucat itu, ternyata benar dia adalah Zian. Terpukul memang terpukul. Tapi inilah kenyataannya. Dia harus mengusahakan yang terbaik untuk Zian.
>,<
2 jam oprasi pengangkatan limpa telah selesai. Roran masih murung. Wajahnya tak dapat disebut sedang marah ataupun sedih, bahagia atau kecewa. Karena semua rasa itu sekarang sedang bergulat dihatinya. Dia masih tak berani mendekati ruang ICU. Tapi suatu saat nanti aku harus kuat, aku harus mempertanyakan tentang ini semua padanya, batin Roran.
Roran masih menunggu kesadaran Zian. Sambil memantau perkembangan keadaan zian lewat kaca pintu ruang ICU. Karena kini Zian menjadi tanggung jawab penuh Dr. Roran.
‘ Dok, maaf menggangu’
‘ Ya tak apa, kenapa?’
‘ Sepertinya oprasi yang kita lakukan tempo hari pada pasien anda, Zian Alfazeul, mengalami kegagalan dok. Penghancuran Hb masih terus berlanjut oleh autoantibodi. Mohon pengarahan selanjutnya Dok’
Roran tercenggang. Hal yang paling ditakutinya kini terjadi. Secepatnya, dia berlari keruangan ICU. Disana Zian masih belum sadarkan diri. Roran memulai pemeriksaannya. Sedih memang, ini kenyataan tuhan paling pahit untukku, batin Roran.
‘Suster, segera hubungi Dr. Fizqa, dokter spesialis organ dalam, karena ini diluar kendaliku’
‘ Baik Dok’
Setelah suster cindy, suster pendamping Roran, bergegas pergi meninggalkan ruang ICU, Roran masih berada disana. Dia menampakkan raut sedihnya kali ini. Dia merasa tak bisa apa-apa. Dia hanya bisa melihat Zian yang begitu pucat. Roran hanya bisa membelai lembut rambut Zian sebelum ia meninggalkan ruang ICU.
>,<
Itulah kejadian yang terjadi sebelum Zian sadar dari komanya, dengan keadaan Zian yang separah ini. Saat Zian tersadar, Zian tahu bahwa dia sebentar lagi akan menghadapi kematiannya. Tapi kenapa wajahnya begitu tenang.
Roran tiba-tiba masuk ke ruangan ICU. Dengan raut muka yang kurang bersahabat, Roran membanting kertas yang sejak tadi dipegangnya erat-erat ke atas ranjang tempat tidur Zian sekarang ini.
‘Apa Ini?, kenapa kamu membohongi ku, hah!!!!!’ bentak Roran
Saat itu Zian hanya bisa menunduk sambil menangis. Dia tak sanggup melihat raut wajah Roran yang telah mengetahui penyakitnya itu.
‘Maaf........’
‘Maaf?kamu bilang maaf?’
‘Maafkan aku’
‘Argh,......apakah kau tahu,,aku disini seperti orang bodoh’
‘ Aku sebenarnya ingin....’
‘Ingin apa? Menyakiti aku lebih parah lagi?, apakah kau tahu, aku disini seperti orang bodoh yang tidak bisa melakukan apapun untukmu. Lalu apa sekarang alasanmu tidak pernah mengatakannya padaku?’ jelas roran panjang lebar.
‘ Aku hanya tak ingin kehilanganmu’
‘Kehilangan?, seharusnya aku yang berkata begitu’
‘Aku tak tahu kalau aku jadi menyukaimu’
‘Lalu sekarang apakah kamu lebih tidak memikirkan perasaanku yang terlanjur menyukaimu.’
‘Aku hanya ingin menolak kenyataan atas diriku’
‘Oh begitu...kamu egois, seharusnya waktu itu aku tak pernah bertemu ddenganmu’
Roran beranjak pergi dengan amarahnya yang meluap. Dia benci keadaan seperti ini.
‘Aku hanya ingin mencicipi manisnya cinta, apa itu tak boleh?’
‘Tapi kalau seperti ini berarti kamu menghilangkan kesempatan orang lain yang juga menginginkan hal tersebut, itu namanya egois.’ Kata Roran tanpa memalingkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan ruangan ICU.
Sementara Zian, hanya bisa menangisi keadaannya yang sekarang ini.
>,<
Waktu Zian hanya tersisa 1 bulan. Saat itu roran masih bingung dan tak mau menerima hal ini. Dia mendekati ruang ICU.
‘apakah kamu tidak membutuhkanku?’
‘tentu saja aku membutuhkanmu, tapi dengan rasa cinta mu saja sudah cukup buatku. Itu sudah membuatku puas’
Roran mendekati ranjang zian dan duduk di sebelahnya. Roran memegang tangan Zian yang masih pucat saat itu.
‘Aku tak bisa kehilanganmu’
‘Aku juga dok, tapi kita harus’
‘Aku tidak bisa.........tidak.....bisa..........’
>,<
Setelah kematian Zian dipelukan Roran. Roran berubah 180 derajat. Dia kini begitu pendiam. Seperti tak punya harapan hidup lagi. Pandangannya pun kosong, sering tak masuk kerja, dan minum-minuman keras. Baginya waktu dia hidup begitu tak adil. Hingga ia ingin mati.
Saat Roran memutuskan ingin mati, setuhan lembut memeluknya dari belakang dan berkata,
‘Jangan mati, kumohon’
‘Aku tak bisa kehilanganmu’
‘Aku pasti menunggumu disana, aku janji, tapi jangan mati sekarang Roran, kumohon. Aku memang ingin bersamamu tapi tak begini caranya. Aku ingin kamu berjanji satu hal padaku..’
‘Apa?’
‘Jangan mati sekarang. Teruslah hidup dan sembuhkan pasien-pasienmu’
‘Aku tak bisa’
‘Kamu pasti bisa roran menjalani hidup tanpaku, ingatlah, aku akan selalu berada didekatmu, aku janji’
‘Baiklah Zian, aku janji’
‘Terima kasih’
‘Aku membutuhkanmu’
‘Aku juga’
>,<
‘Yah.....sekarang sudah menjelang 5 tahun setelah kematian Zian. Tapi aku tetap tidak menyerah untuk memenuhi janjiku. Karena itu Inoze, teruslah hidup. Masih banyak hal-hal menarik yang menunggu untuk kamu rasakan’
‘Begitu ya dok, terima kasih.’
‘Yah..........sama-sama. Cepat sembuh yah Inoze’
Inoze, salah satu pasien Roran yang juga menderita penyakit yang sama dengan zian. Setelah mendengar cerita tentang Roran dan Zian itu, timbul semangat hidup yang sebelumnya mati didalam hatinya. Sebelum ia meninggalkan ruangan Roran, lamgkahnya terhenti, lalu berbalik,
‘Tahukah dokter, aku juga sempat menyukai dokter, sama halnya dengan Zian. Sekarang aku tahu kenapa Zian bisa menyukai dokter dan juga kenapa Zian tidak menginginkan dokter mati waktu itu. Sungguh Zian beruntung sekali mendapatkan dokter,’
‘Ya........terima kasih’
Lalu setelah itu Inoze keluar dari ruangan Roran dan kembali keruangannya dibantu oleh suster Cindy. Sedangkan Roran berbalik menghadap meja kerjanya lagi. Dia tersenyum heran. Kenapa bisa orang yang baru dikenalnya itu dapat mengetahui apa yang belum ia mengerti, padahal ialah tokoh utama dalam ceritanya sendiri. Sambil menghela nafas, Roran tahu zian berada di dektnya,
‘Lihatkan, aku sudah memenuhi janjiku padamu’
‘Yah terima kasih’ kata Zian sembari memeluk Roran dari belakang seperti dulu.
‘Benarkah kau akan terus menungguku, Zian’
‘Selamanya aku akan menunggumu’
Tangan Roran kemudian memegang tangan Zian yang melekat di tubuhnya. Roran hanya ingin menikmati lagi saat-saat bersama Zian yang tak berlangsung lama itu. Karena bayangan Zian telah semu.



The end

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Your CommEnT........