Kontes SEO Gudangpoker.com

Kunjungi

Rabu, 06 Agustus 2014

Hormon Plasenta

Hormone plasenta
Sebagai kelanjutan proses fertilisasi dan implantasi atau nidasi adalah terbentuknya plasenta. Plasenta adalah organ endokrin yang unik dan merupakan organ endokrin terbesar pada manusia yang menghasilkan berbagai macam hormon steroid, peptida, faktor-faktor pertumbuhan, dan sitokinin.
Pada trimester I plasenta berkembang sangat cepat akibat multiplikasi sel-sel sitotrofoblas. Vili korialis primer tersusun oleh sel-sel sinsisiotrofoblas di lapisan luar. Sel-sel mesenkim yang berasal dari mesenkim ekstraembrional akan menginvasi vili korialis primer sehingga terbentuk vili korialis sekunder, sedangkan vili korialis tersier terbentuk bersamaan dengan terbentuknya pembuluh darah-pembuluh darah janin. Sinsisiotrofoblas pada umumnya berperan dalam pembentukan hormon steroid, neurohormon atau neuropeptida, sitokin, faktor pertumbuhan, dan “pituitary-like hormone”, sedangkan sitotrofoblas lebih berperan dalam sekresi faktor-faktor pertumbuhan.
Hormon-hormon yang dihasilkan oleh plasenta:
  1. Sintesis hormon polipeptide: Human Chorionic Gonadotropin (hCG) dan Human Placental Lactogen (hPL)
  2. Hormon steroid (Progesteron dan Estrogen)
  3. Hormon-hormon protein: corionic adrenocorticotropin (CACTH), corionic tyrotropin(CT), relacsin, paratyroid hormone, relatid protein (PTHrP), Growth Hormon variant (hGH-V).
  4. Hormon-hormon peptida: neuropeptida-Y (NPY), inhibin dan aktivin.
  5. Hypotalamus-relacsin hormone (GnRHP): gonadotropin relacsin hormone (GnRH), corticotropin relacsin hormone (CRH), tirotropin relacsin hormone (cTRH), dan growth hormone relacsin hormone (GHRH)
Human Chorionic Gonadotropin (hCG)
Plasenta merupakan tempat utama sintesis dan sekresi hCG. Sama dengan gonadotropin yang lain, hCG adalah suatu glikoprotein yang mempunyai berat molekul 39.000 dalton, terdiri atas 2 subunit alpha dan beta yang masing-masing tidak mempunyai aktivitas biologik kecuali bila dikombinasikan. hCG-alpha hampir mirip dengan LH-alpha dan FSH-alpha, sedangkan hCG-beta identik dengan LH-beta. Tiga puluh persen komponen hCG adalah karbohidrat. Lapisan luar sinsisium merupakan tempat biosintesis hCG. Di dalam sinsisium ini, terdapat struktur untuk sintesis dan sekresi protein seperti retikulum endoplasma, kompleks golgi dan mitokondria.
Regulasi produksi hCG plasenta melibatkan interaksi antara sistem autokrin dan parakrin. Sinsiotrofoblas dapat diumpamakan sebagai hipofisis yang menyekresi hCG, hPL, dan ACTH, sedangkan sitotrofoblas bertindak sebagai hipotalamus yang menyekresi GnRH dan CRH (corticotropin releasing hormone). GnRH yang disintesis oleh plasenta meningkatkan pelepasan hCG pada kultur plasenta. Efek ini lebih tampak nyata pada kultur plasenta kehamilan trimester pertama bila dibanding denxgan plasenta kehamilan aterm. Pelepasan hCG juga juga dipacu oleh estradiol, faktor-faktor pertumbuhan seperti: FGF (fibroblast growth factor), EGF (epidermal growth factor), IGF-1 (insulin-like growth factor-1), IGF-2 (insulin-like growth factor-2), dan interleukin-1, sedangkan pelepasan hCG dihambat oleh GnRh antagonis, progesteron, dan opioid.
hCG mulai dapat dideteksi 1 hari setelah implantasi. Sekresi hormon ini akan memperpanjang hidup korpus luteum dan menstimulasi produksi progesteron melalui sistem adenilatsiklase. Keadaan ini terus dipertahankan sampai usia kehamilan usia kehamilan kurang lebih 11 minggu saat plasenta sudah mampu mensintesis progesteron.
Fungsi hCG yang lain adalah merangsang proses diferensisasi sitotrofoblas, stimulasi produksi testoteron testis janin dan diduga mempunyai efek imunosupresi selama kehamilan. Secara klinik, pengukuran kadar hCG umumnya digunakan untuk menunjang diagnosis kehamilan, evaluasi setelah terapi penyakit trofoblas, dan evaluasi abnormalitas kehamilan (misalnya: kehamilan ektopik). Kadar hCG yang lebih tinggi daripada kadar normal pada trimester kedua seringkali dihubungkan dengan trisomi 21, trisomi 13, trisomi 20, sindroma Turner dan Klinefelter, sebaliknya kadar yang lebih rendah sering ditemukan pada janin dengan trisomi 18. Atas dasar ini pulalah hCG digunakan sebagai salah satu cara skrining adanya aneuploidi pada janin.
Human Placental Lactogen (hPL)
hPL merupakan polipeptide rantai tunggal dengan berat molekul 22.300 dalton. Struktur kimia hPL mirip dengan prolaktin dan growth hormone hipofisis. hPL disintesis di sinsisiotrofoblas dan dapat dideteksi mulai haris ke 12 setelah fertilisasi atau segera setelah implantasi. Kadar hPL dalam plasma maternal meningkat seiring dengan peningkatan berat plasenta dan berat badan janin. Peningkatan ini mulai tampak sejak usia keehamilan 5minggu dan mencapai puncaknya pada 4 minggu terakhir kehamilan (35 minggu) yaitu dari 0,3 µg/ml pada trimester pertama sampai 5,4 µg/ml pada trimester ketiga. Selama 24 jam, kurang lebih sebanyak 300 µg hPL disekresikan lewat urin. Pada plasenta sendiri didapatkan 10 sampai 20 mg/100g berat plasenta. hPL juga dapat dideteksi dalam sirkulasi janin, tetapi dengan kadar yang rendah (15,5 µg/ml dalam darah tali pusat) dan dalam cairan amnion (0,5 µg/ml) pada kehamilan aterm. Efek utama hPL adalah terhadap insulin dan metabolisme glukosa, tetapi bagaimana mekanisme kerjanya sampai sekarang belum diketahui dengan jelas. Efek hPL terhadap lipolisis dan glucose-sparing terutama pada perempuan hamil yang sedang berpuasa menunjukkan bahwa hPL mempunyai efek proteksi atau melindungi janin. Keadaan puasa akan merangsang sekresi hPL sehingga penggunaan glucose oleh ibu akan menurun. Hal ini akan menjamin tercukupinya sumber senergi janin.
Pengukuran kadar hPL sangat jarang digunakan untuk kepentingan evaluasi keabnormalitas kehamilan. Umumnya disepakati bahwa kadar hPl < 4 µg/ml pada usia kehamilan 30 minggu merupakan batas bahwa janin dalam keadaan bahaya (fetal danger zone). Pada plasenta yang besar seperti pada kehamilan ganda dan kehamilan dengan diabetes mellitus, akan dipaparkan kadar hPL yang lebih tinggi. Sebaliknya, kadar hPL yang rendah ditemukan pada pertumbuhan janin terhambat, preeklampsia dan neoplasma trofoblas. Pada kasus abortus iminens, kadar hPL yang rendah menunjukkan bahwa kehamilan sulit dapat dipertahankan.
Corionic Adrenocorticotropin (CACTH)
Protein yang mirip dengan ACTH berhasil diindentifikasi pada plasenta yang kemudian disebut Chorionic adrenocorticotropin (CACTH). Peranan fisiologis dari CACTH samapai sekarang belum jelas. ACTH dalam kehamilan kadarnya lebih rendah daripada laki-laki dan perempuan tidak hamil, tetapi kadarnya meningkat seiring denganbertambahnya usia kehamilan. Plasenta menghasislkan ACTH yang kemudian diekresikan ke dalam sirkulasi maternal dan janin, tetapi ACTH maternal tidak masuk ke dalam sirkulasi janin.



Thyrotropin Relacsin Hormone (cTRH) dan Growth Hormone Relacsin Hormone (GHRH)
Baik cTRH maupun GHRH juga dikenal sebagai somatokrinin, dapat dideteksi pada plasenta tetapi bagaimana sintesis dan aktivitas biologis keduanya sampai saat ini belum diketahui.
Sintesis Hormone Steroid
Plasenta menyintesis sejumlah besar hormon steroid selama kehamilan. Dua hormone steroid yang utama adalah progesteron yang berfdungsi untuk mempertahankan kehamilan dan eterogen yang berguna untuk pertumbuhan organ-organ reproduksi. Keduanya juga diperlukan untuk perubahan-perubahan metabolik yang terjadi selama kehamilan. Dalam sintesis hormon steroid, plasenta bukanlah organ yang outonom, tetapi memerlukan perkusor-perkusor untuk sekresi estrogen dan progesteron. Perkusor-perkusor tersebut berasal dari adrenal janin dan mateernal untuk sekresi estrogen serta kolesterol maternal untuk sekresi progesteron.
Progesteron
Produksi steroid selama kehamilan merupakan hasil dari kerja sama antara maternal, plasenta dan janin. Saat tidak terjadi konsepsi, korpus luteum menghasilkan progesteron dalam kurun waktu kurang lebih 14 hari sebelum akhirnya mengalami regresi. Jika terjadi konsepsi, umur korpus luteum diperpanjang akibat pengaruh hormone hCG, sehingga tetap mampu menghasilkan progesteron sampai usia 10 minggu. Pada masa awal kehamilan ini (6-7 minggu) progesteron dari korpus luteum ini sangat diperlukan untuk mempertahankan kehamilan, sehingga jika pada masa ini dilakukan ablasi korpus luteum, misalnya dengan ovarektomi, maka akan terjadi penurunan steroidogenesis dan akan berakhir dengan abortus. Setelah masa transisi (antara minggu ke 7 dan 11), plasenta mengambil alih peran korpus luteum dalam menghasilkan progesteron. Sintesis progesteron plasenzta sangat bergantung pada hubungan antara maternal dan plasenta, tetapi sama sekali tidak bergantung pada perkusor janin. Sumber utama sintesis progesteron adalah kolesterol LDL (low density lipoprotein). Kolesterol LDL ini masuk ke dalam sitoplasma  sel-sel trofoblas dengan cara indositosis setelah sebelumnya berikatan dengan reseptor membaran sel yang spesifik. Vesikel yang mengandung kompleks kolesterol LDL atau reseptor ini kemungkinan bergabung denxgan lisosom dan mengalami hidrolisis sehingga kolesterol dilepaskan dan reseptor kembali menjalankan fungsinya lagi (resiklet). Di dalam mitokondria, kolesterol dipecah dengan cara hidroksilasi oleh enzim P450 sitokrom (P450 cc) menjadi premenolon yang kemudian dibentuk menjadi progesteron oleh tiga beta atau hidrosisteroid dehidrogenase. Sebagian besar (90%) progesteron yang dihasilkan akan diekskresikan ke dalam sirkulasi maternal, tetapi kadar dalam sirkulasi maternal ini lebih rendah jika dibanding dengan kadar progesteron plasma janin. Saat usia kehamilan aterm, plasenta menghasilkan progesteron kurang lebih 210 mg/hari dengan MCR ±2110 l/hari. Kadar esterogen plasma maternal meningkat secara linier dari 40 µg/ml (trimester 1) sampai lebih dari 175 µg/ml (trimester 3). Progesteron mempunyai beberapa fungsi fisiologis selama kehamilan. Fungsi utama adalah mempersiapkan endometrium untuk implantasi dan mempertahankan kehamilan. Mekanisme kerja progesteron adalah berikatan dengan reseptor spesifik yang kemudian berinteraksi dengan DNA genom. Reseptor-reseptor ini telah dikenali dan ditemukan pada inti dan sitoplasma sel sinsisiotrofoblas dan sitotrofoblas serta sel-sel endotel desidua pada awal kehamilan. Progesteron juga meningkatkan produksi faktor-faktor uterus yang menghambat blastogenesis limfosit dan produksi sitokin, mengatur populasi limfosit fetoplasenta, dan meningkatkan perkusor limfosit B sumsum tulang yang mengalami pengurangan akibat pengaruh estrogen.
Fungsi progesteron yang lain adalah terhadap otot polos yaitu terutama mempertahankan keadaan tenang uterus dengan cara mempertahankan keadaan afinitas yang tinggi dari reseptor β2-adrenergik miometrium sehingga produksi cAMP meningkat dan menghambat fosforilase miosin. Progesteron juga berpengaruh pada muskular tuba seperti halnya berpengaruh pada motilitas gastrotestinal, disamping berpengaruh juga terhadap otot polos arteriol sehingga kapasitas vaskular meningkat dan tahanan perifeer menurun. Progesteron plasenta juga berperan selaku substrat bagi produksi glukocorticoid dan mineralocorticoid oleh adrenal janin. Pengukuran kadar progesteron untuk menilai keadaan janin secara klinik umumnya tidak begitu bermanfaat. Pada kematian janin dalam rahim, kelainan konginetal (anensefal) dan defisiensi sulfat plasenta, kadar progesteron tidak berubah sama sekali. Meskipun demikian, ppengukuran kadar progesteron tidak dapat digunakan sebagai prediktor yang reliable untuk menentukan fiabilitas kehamilan bila terjadi ancaman abortus pada usia kehamilan ≤ 77 hari. 



sumber: buku ilmu kebidanan (sarwono prawirohardjo)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Your CommEnT........