Kontes SEO Gudangpoker.com

Kunjungi

Selasa, 07 Mei 2013

Pengkajian Sistem Pernafasan

BAB I
PENDAHULUAN

1.1          Latar Belakang

Pernapasan adalah proses pengambilan gas oksigen dari lingkungan dan pengeluaran karbon dioksida dari dalam tubuh makhluk hidup. Sistem pernapasan adalah sistem organ yang digunakan untuk pertukaran gas.
Sistem pernapasan manusia dapat berlangsung berkat keberadaan alat-alat pernafasan. Bila salah satu organ pernafasan tidak mampu berfungsi secara normal maka bisa mempengaruhi kerja sistem pernafasan secara umum. Alat-alat pernapasan berfungsi memasukkan udara yang mengandung oksigen dan mengeluarkan udara yang mengandung karbon dioksida dan uap air.
Bidan yang memberikan asuhan kebidanan pada klien dengan gangguan pernapasan melakukan dan menginterpretasi berbagai prosedur pengkajian. Data yang dikumpulkan selama pengkajian digunakan sebagai dasar untuk membuat rencana asuhan kebidanan klien. Proses pengkajian kebidanan harus dilakukan dengan sangat individual (sesua masalah dan kebutuhan klien saat ini). Dalam menelaah status pernapasan klien, bidan melakukan wawancara dan pemeriksaan fisik untuk memaksimalkan data yang dikumpulkan tanpa harus menambah distres pernapasan klien. Setelah pengkajian awal bidan memilih komponen pemeriksaan yang sesuai dengan tingkat distres pernapasan yang dialami klien. Komponen pemeriksaan pulmonal harus mencakup tiga kategori distres pernapasan yaitu akut, sedang, dan ringan. Karena tubuh bergantung pada sistem pernapasan untuk dapat hidup, pengkajian pernapasan mengandung aspek penting dalam mengevaluasi kesehatan klien.
Sistem pernapasan terutama berfungsi untuk mempertahankan pertukaran oksigen dan karbon dioksida dalam paru-paru dan jaringan serta untuk mengatur keseimbangan asam-basa Setiap perubahan dalam sistem ini akan mempengaruhi sistem tubuh lainnya. Pada penyakit pernapasan kronis, perubahan status pulmonal terjadi secara lambat, sehingga memungkinkan tubuh klien untuk beradaptasi terhadap hipoksia. Namun demikian, pada perubahan pernapasan akut seperti pneumotoraks atau pneumonia aspirasi, hipoksia terjadi secara mendadak dan tubuh tidak mempunyai waktu untuk beradaptasi, sehingga dapat menyebabkan kematian.

1.2          Rumusan Masalah
1.    Apa yang harus dikaji untuk mengetahui riwayat kesehatan pasien?
2.    Apa saja gejala yang dialami oleh pasien?
3.    Analisis gejala apa saja yang harus dikaji?
4.    Pemeriksaan fisik apa saja yang harus dilakukan pada pasien?
5.    Pengkajian Diagnostik apa yang harus dilakukan pada Sistem Pernapasan?

1.3          Tujuan
1.    Untuk mengetahui informasi riwayat kesehatan tentang adanya penyakit pada pasien.
2.    Untuk menetapkan prioritas intervensi dan mengkaji tingkat pemahaman pasien tentang kondisi kesehatannya saat ini.
3.    Untuk mengkaji karakteristik setiap manifestasi klinis yang tampak dan memberikan analisis gejala yang komprehensif.
4.    Untuk mengetahui kondisi pasien secara akurat.
5.    Untuk membantu dalam pengkajian pasien sehingga tindakan yang dilakukan pada pasien akan lebih terarah dan lebih berguna.


















BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Pengkajian Riwayat Kesehatan
Riwayat kesehatan klien diawali dengan mengumpulkan informasi tentang data biografi, yang mencakup nama, usia, jenis kelamin, dan situasi kehidupan klien. Data subjektif biasanya dicatat pada formulir pengkajian rumah sakit atau klinik. Perhatikan usia biologi klien dan bandingkan dengan penampilannya. Kelainan seperti kanker paru dan penyakit paru kronis sering membuat klien tampak lebih tua dari usia sebenarnya.
Riwayat pernapasan mengandung informasi tentang kondisi klien saat ini dan masalah-masalah pernapasan sebelumnya. Wawancarai klien dan keluarga dan fokuskan pada manifestasi klinik tentang keluhan utama, peristiwa yang mengarah pada kondisi saat ini, riwayat kesehatan terdahulu, riwayat keluarga, dan riwayat psikososial.

Kotak Displai 2-1 Pedoman Melakukan Pengkajian Klinik
Pengkajian Awal
Komponen pengkajian awal yang digunakan termasuk:
1.   Menentukan keluhan utama
2.   Inspeksi cepat penampilan umum, pola atau frekuensi pernafasan dan konfigurasi toraksa.
Berdasarkan tanda-tanda klinis yang teramati selama pengkajian awal, status pernafasan pasien mungkin termasuk dalam salah satu kategori berikut:
1.   Distress pernafasan akut
a.    Penampilan umum
1)    Pasien tampak sangat gelisah atau letargik
2)    Pasien mengucapkan, “saya tidak bisa bernafas,” atau tidak mampu berbicara
3)    Kulit berkeringat, pucat, kebiruan atau kemerahan.
b.    Pola atau frekuensi pernafasan
1)    Frekuensi meningkat > 20 kali atau menurun < 12 kali
2)    Nafas dalam dan megap-megap
3)    Terdapat pola abnormal seperti mengi, krakels (rales)
4)    Rasio inspirasi atau ekspirasi ( I : E ) memanjang
c.    Konfigurasi toraks
1)    Pernafasan menggunakan otot-otot asesori dengan naiknya klavikula sangat jelas terlihat, peregangan saat ekspansi paru
2.   Distress pernafasan sedang
a.    Penampilan umum
1)    Tampak agak gelisah atau mencoba utnuk meminimalkan distress pernafasan
2)    Kulit tampak berkeringat, kemerahan atau keabu-abuan
b.    Pola atau frekuensi pernafasan
1)    Frekuensi pernafasan agak meningkat
2)    Rasio inspirasi atau ekspirasi agak sedikit memanjang
c.    Konfigurasi toraks
1)    Sedikit ada kenaikan klavikula
3.   Distress pernafasan ringan
a.    Penampilan umum
1)    Rileks
2)    Dapat mengungkapkan keluhan utama secara detail
3)    Kulit tampak translusen, warna dalam batas anormal
b.    Pola atau frekuensi pernafasan
1)    Normal atau sedikit meningkat
c.    Konfigurasi toraks
1)    Pernafasan toraks atau diagfragma
(* Dikutip Dari : Wilma J. Phipps et al, Medical Surgical Nursing : Concept And Clinical Practice, Edisi Ke-5. 2000. St. Louise.  Mosby.)
Rincian dan waktu yang dibutuhkan untuk pengumpulan riwayat pernapasan bergantung pada kondisi klien (misalnya akut, kronis, atau darurat). Ucapkan pertanyaan sederhana, menggunakan kalimat pendek yang mudah dipahami. Bilamana diperlukan, ulang pertanyaan untuk memperjelas pernyataan yang tidak dimengerti oleh klien. Ajukan pertanyaan yang mengarah pada aktivitas sehari-hari klien.
Kumpulkan riwayat pernapasan yang lengkap sesuai dengan kondisi klien. Mengajukan pertanyaan secara detail akan memberikan petunjuk yang bermanfaat tentang (1) manifestasi gangguan pernapasan, (2) tingkat disfungsi pernapasan, (3) pengertian klien dan keluarga tentang kondisi dan penatalaksanaannya, dan (4) sistem pendukung dan kemampuan keluarga untuk mengatasi kondisi.

2.2  Gejala Umum
Keluhan utama dikumpulkan untuk menetapkan prioritas intervensi keperawatan dan untuk mengkaji tingkat pemahaman klien tentang kondisi kesehatannya saat ini. Keluhan umum penyakit pernapasan mencakup dispnea, batuk, pembentukan sputum, hemoptisis, mengi, dan nyeri dada. Fokuskan pada manifestasi dan prioritaskan pertanyaan untuk mendapatkan suatu analisis gejala.
a.   Dispnea
Dispnea yang berkaitan dengan penyakit pernapasan, terjadi akibat perubahan patologi yang meningkatkan tekanan jalan napas, penurunan kompliens pulmonal, perubahan system pulmonal, atau melemahnya otot-otot pernapasan. Bedakan dispne dari tanda dan gejala lain. Takipnea mengacu pada frekuensi pernapasan lebih dari normal yang mungkin terjadi dengan atau tanpa dispnea.
Klien yang yang mengalami dispnea sebagai gejala utama biasanya mempunyai salah satu dari kondisi (1) penyakit kardiovaskular, (2) emboli pulmonal, (3) penyakit paru interstisial atau alveolar, (4) gangguan dinding atau otot dada, (5) penyakit paru obstruktif, atau (6) ansietas.
Dispnea adalah gejala menonjol pada penyakit yang menyerang percabangan trakheobronkhial, parenkim paru, spasium pleural. Dispnea juga dialami bila otot-otot pernapasan lemah, paralise, dan keletihan.
b.  Batuk
Batuk adalah refleks protektif yang disebabkan oleh iritasi pada percabang trakheobronkhial. Pada klien dengan batuk kronis, biasanya sulit untuk mengkaji waktu aktual awitan batuk. Klien biasanya tidak menyadari kapan batuknya mulai timbul. Identifikasi faktor-faktor yang diyakini oleh klien (dan pasangan atau teman) sebagai pencetus terjadinya batuk. Hal-hal yang perlu dikaji adalah aktivitas, posisi tubuh, iritan di lingkungan (rumah atau tempat kerja), vokalisasi (bicara normal, berteriak, bernyanyi atau berbisik), cuaca, ansietas, dan infeksi.
Stimuli yang secara khas menyebabkan batuk adalah stimuli mekanik, kimiawi, dan inflamasi. Menghirup asap, debu, atau benda asing merupakan penyebab batuk yang paling umum. Bronkhitis kronis, asma, tuberkulosis, dan pneumonia secara khas menunjukkan batuk sebagai gejala yang menonjol. Batuk dapat dideskripsikan berdasarkan waktu (kronis, akut, dan paroksismal) ; berdasarkan kualitas (produktif-nonproduktif, kering-basah, batuk keras menggonggong, serak, dan batuk pendek).
c.    Pembentukan Sputum
Sputum secara konstan dikeluarkan ke atas menuju faring  oleh silia paru. Sputum yang terdiri atas lendir, debris selular, mikroorganisme, darah, pus, dan benda asing dikeluarkan dari paru-paru dengan membatukkan atau membersihkan tenggorok.
Pembentukan sputum disertai dengan batuk adalah hal yang tidak normal. Tanyakan klien tentang warna sputum (jernih, kuning, hijau, kemerahan, atau mengandung darah), bau, kualitas (berair, berserabut, berbusa, kental), dan kuantitas (sendok teh, sendok makan, cangkir). Tanyakan juga apakah sputum hanya dibentuk setelah klien berbaring dalam posisi tertentu.
Warna dari sputum mempunyai makna klinis yang penting. Sputum yang berwarna kuning menandakan suatu infeksi. Sputum berwarnal hijau menandakan adanya pus yang tergenang, yang umum ditemukan pada bronkhiekstasis. Karakter dan konsistensi sputum juga penting untuk dicatat.
d.    Hemoptisis
Hemoptisis adalah membatukkan darah, atau sputum bercampur darah. Sumber perdarahan dapat berasal dari jalan napas atas atau bawah, atau berasal dari parenkim paru.
Lakukan pengkajian tentang awitan, durasi, jumlah, dan warna (misalnya merah terang atau berbusa). Kenali perbedaan antara hemoptisis dengan hematemesis. Pada hemoptisis biasanya darah yang keluar berbusa, pH (darah) basa sementara pada hematemesis darah yang dikeluarkan tidak berbusa dan pH (darah) asam.
e.    Mengi
Bunyi mengi dihasilkan ketika udara mengalir melalui jalan napas yang sebagian tersumbat atau menyempit pada saat inspirasi atau ekspirasi. Mengi dapat terdengar hanya dengan menggunakan stetoskop. Klien mungkin tidak mengeluh tentang mengi, tetapi sebaliknya dapat mengeluh tentang dada yang sesak atau tidak nyaman pada dada.
Minta klien mengidentifikasi kapan mengi terjadi dan apakah hilang dengan sendirinya atau dengan menggunakan obat-obatan seperti bronkhodilator. Tidak semua mengi mengacu pada asma. Mengi dapat disebabkan oleh edema mukosa, sekresi dalam jalan napas, kolaps jalan napas akibat kehilangan elastisitas jaringan, dan benda asing atau tumor yang sebagian menyumbat aliran udara.
f.     Nyeri Dada
Nyeri dada mungkin berkaitan dengan masalah pulmonal dan jantung, membedakannya satu sama lain memberikan makna klinis yang berarti. Lakukan analisis gejala yang lengkap pada nyeri dada.
Table 2 – 1. Nyeri Dada Torakal – Pulmonal
SUMBER
KARAKTER
KEMUNGKINAN PENYEBAB
Dinding Dada
Sakit konstan pada tempat yang jelas, meningkat dengan gerakan.
Trauma,batuk, herpes zooster
Pleura
Tajam, awitan mendadak, meningkat dengan pernafasan atau dengan upaya ventilasi mendadak (batuk, bersin) unilateral.
Inflamasi pleural (pleurity), infark pulmonal, pneumotoraks, tumor.
Parenkim Paru
Tumpul, sakit konstan, letak tidak jelas.
Tumor jinak pulmonal, karsinoma pneumotoraks.

Nyeri dada terjadi pada tempat inflamasi dan biasanya terlokalisasi dengan nyeri meningkat serta gerakan dinding dada seperti saat batuk atau bersin dan napas dalam. Pasien yang mengalami nyeri jenis ini akan mempunyai pola pernapasan cepat dan dangkal dan takut melakukan gerakan. Tindakan menekan pada bagian yang nyeri biasanya memberikan peredaan.
Karakteristik angina dengan nyeri dada lainnya berbeda. Nyeri dada jantung biasanya digambarkan sebagai nyeri yang sangat sakit, hebat, sensasi seperti diremas-remas, dengan rasa tertekan atau sesak pada area substernal. Angina dapat juga menjalar ke dalam leher dan lengan. Tanyakan klien apa yang menyebabkan nyerinya (aktivitas, batuk, gerakan) dan apa yang meredakan nyerinya (nitrogliserin, membebat dinding dada).
2.3  Pengkajian Gejala Umum
Jika klien menggambarkan gejala pernapasan tertentu, kaji setting, waktu, persepsi klien, kualitas dan kuantitas sputum, lokasinya, faktor-faktor yang memperburuk dan yang meredakan, serta manifestasi yang berkaitan.
Setting mengacu pada waktu dan tempat atau situasi tertentu-setting fisik dan lingkungan psikososial- saat klien mengalami keluhan. Misalnya batuk pada pagi hari setelah klien merokok, atau karyawan yang mengeluh distres pernapasan di tempat kerja.
Waktu menunjukkan baik awitan (gejala terjadi bertahap atau mendadak) dan periode (berhari-hari, minggu, atau bulan). Tanyakan pada klien apakah terdapat saat spesifik dimana masalah paling sering terjadi, misalnya batuk pada pagi hari atau sesak napas berkaitan dengan berbaring telentang pada malam hari.
Persepsi klien dicatat sesuai dengan kata-kata klien. Perhatikan hal-hal unik tentang keluhan. Gunakan kutipan langsung untuk mendokumentasikan keluhan klien misalnya klien melaporkan “nyeri tajam” pada dada posterior kiri ketika napas dalam.
Kualitas dan kuantitas masalah harus diuraikan dalam bahasa yang umum. Minta klien untuk melaporkan besar, ukuran, jumlah, dan keluasan keluhan utama. Terutama masalah yang berkaitan dengan pembentukan sputum, minta klien memperkirakan jumlah sputum yang dikeluarkan sehari-secangkir, satu sendok teh, satu sendok makan. Hindari istilah seperti “sedikit” atau “banyak” karena istilah ini mempunyai arti tidak jelas. Gunakan skala nyeri 1 sampai 10 untuk menggambarkan nyeri dengan 1 tak ada nyeri dan 10 nyeri terasa paling hebat. Saat mengkaji batuk gunakan istilah sesak, kering, basah, atau berlendir. Minta klien untuk menggambarkan ciri keluhan utama dengan kata-katanya sendiri.
Lokasi yang menjadi keluhan harus dicatat. Lokasi ini terutama penting ketika klien mengeluh tentang nyeri, karena lokasi membedakan apakah nyeri yang diderita klien berasal dari kelainan jantung atau pernapasan.
Mengenai faktor yang memperburuk dan meredakan, Tanyakan pada klien hal-hal apa yang dapat menimbulkan atau menghilangkan gejala yang dialaminya. Adakah keterkaitan aktivitas tertentu dengan gejala yang dialami. Apakah gejala timbul setelah klien menggunakan obat-obat tertentu.
Manifestasi yang berkaitan. Adakah manifestasi lain yang terjadi dalam hubungannya dengan keluhan utama. Misalnya menggigil, demam, berkeringat malam hari, anoreksia, penurunan berat badan, keletihan yang berlebihan, ansietas dan suara serak. Anda dapat mengenali bahwa menggigil dan demam umumnya menyertai kelainan paru akibat infeksi, sementara anoreksia dan penurunan berat badan dapat terjadi pada klien dengan kelainan yang mengarah pada dispnea.
Riwayat Kesehatan Masa Lalu
Riwayat kesehatan masa lalu memberikan informasi tentang riwayat kesehatan klien dan anggota keluarganya. Kaji klien terhadap kondisi kronis manifestasi pernapasan, misalnya batuk, dispnea, pembentukan sputum, atau mengi, karena kondisi ini memberikan petunjuk tentang penyebab masalah baru. Selain mengumpulkan data tentang penyakit pada masa kanak-kanak dan status imunisasi, tanyakan klien tentang kejadian TBC, bronkhitis, influenza, asma, pneumonia, dan frekuensi infeksi saluran napas bawah setelah terjadinya infeksi saluran napas atas. Tetapkan keberadaan masalah kongenital seperti fibrosis kistik atau riwayat kelahiran bayi prematur. Masalah ini berkaitan dengan komplikasi pernapasan seperti penyakit pulmonal obstruktif atau restriktif.
Tanyakan klien tentang perawatan di rumah sakit atau pengobatan masalah pernapasan sebelumnya. Dapatkan pula informasi tentang kapan penyakit terjadi atau waktu perawatan, tindakan medis (termasuk pembedahan, penggunaan ventilator, dan pengobatan inhalasi atau terapi oksigen), dan status masalah saat ini. Tanyakan apakah klien telah menjalani pemeriksaan rontngen dan kapan, dan apakah pemeriksaan diagnostik pulmonal dilakukan. Informasi ini penting untuk membantu dalam mengevaluasi masalah saat ini. Dapatkan keterangan tentang cedera mulut, hidung, tenggorok, atau dada sebelumnya (seperti trauma tumpul, fraktur iga, atau pneumotoraks), juga informasi detail tentang penggunaan obat-obat bebas atau yang diresepkan.
Tanyakan klien adakah riwayat keluarga tentang penyakit pernapasan. Misalnya asma, fibrosis kistik, emfisema atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), kanker paru, infeksi pernapasan, tuberkulosis, atau alergi. Sebutkan usia dan penyebab kematian anggota keluarga, termasuk ayah, ibu, adik, kakak, anak-anak, nenek-kakek, bibi dan paman. Tanyakan apakah ada anggota keluarga yang perokok. Perokok pasif sering kali mengalami gejala pernapasan lebih buruk.
Riwayat Psikososial
Dapatkan informasi tentang aspek-aspek psikososial klien yang mencakup lingkungan, pekerjaan, letak geografi, kebiasaan, pola olahraga, dan nutrisi. Identifikasi semua agens lingkungan yang mungkin mempengaruhi kondisi klien, lingkungan kerja dan hobi.
Tanyakan tentang kondisi kehidupan klien, seperti jumlah anggota keluarga yang tinggal serumah. Kondisi kehidupan yang padat meningkatkan risiko penyakit pernapasan seperti tuberkulosis. Kaji terhadap bahaya lingkungan seperti sirkulasi udara yang buruk.
Kumpulkan riwayat merokok, berapa banyak sehari dan sudah berapa lama. Tanyakan juga tentang penggunaan alkohol. Tanyakan apakah toleransi terhadap aktivitas menurun atau tetap stabil. Minta klien untuk menggambarkan aktivitas khusus seperti berjalan, pekerjaan rumah yang ringan, atau berbelanja kebutuhan rumah tangga yang dapat ditoleransi klien toleransi atau sebaliknya, yang mengakibatkan sesak napas. Kaji masukan gizi selama 24 jam terakhir, minta klien mengingat pola masukan makanan seminggu terakhir.

2.4  Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan setelah pengumpulan riwayat kesehatan. Gunakan teknik inspeksi, palpasi, dan auskultasi. Palpasi, perkusi, dan auskultasi dilakukan dari depan ke belakang atau dari satu sisi toraks ke sisi lainnya sehingga Anda dapat secara kontinu mengevaluasi temuan dengan menggunakan sisi sebelahnya sebagai standar perbandingan.
Kondisi dan warna kulit  klien diperhatikan selama pemeriksaan toraks (pucat, biru, kemerahan). Kaji tingkat kesadaran klien dan orientasikan selama pemeriksaan untuk menentukan kecukupan pertukaran gas.
a.   INSPEKSI
Pengkajian fisik sebenarnya dimulai sejak pengumpulan riwayat kesehatan saat  Anda mengamati klien dan respons klien terhadap pertanyaan. Perhatikan manifestasi distres pernapasan saat ini: posisi yang nyaman, takipnea, mengap-mengap, sianosis, mulut terbuka, cuping hidung  mengembang, dispnea, warna kulit wajah dan bibir, dan penggunaan otot-otot asesori pernapasan. Perhatikan rasio inspirasi ke ekspirasi, karena lamanya ekspirasi normal dua kali dari lamanya inspirasi normal, maka rasio normal ekspirasi – inspirasi 2 : 1.
 Amati pola bicara. Berapa banyak kata atau kalimat yang dapat diucapkan sebelum mengambil napas berikutnya? Klien yang sesak napas mungkin hanya mampu mengucapkan tiga atau empat kata sebelum mengambil napas berikutnya.
Inspeksi dimulai dengan pengamatan kepala dan area leher untuk mengetahui setiap kelainan utama yang dapat mengganggu pernapasan. Perhatikan bau napas dan apakah ada sputum. Perhatikan pengembangan cuping hidung, napas bibir dimonyong-kan, atau sianosis membran mukosa. Catat adanya penggunaan otot aksesori pernapasan, seperti fleksi otot sternokleidomastoid.
Amati penampilan umum klien, frekuensi serta pola pernapasan, dan konfigurasi toraks. Luangkan waktu yang cukup untuk mengamati pasien secara menyuluruh sebelum beralih pada pemeriksaan lainnya. Dengan mengamati penampilan umum, frekuensi dan pola pernapasan, adanya dan karakter batuk, dan pernbentukan sputum, perawat dapat menentukan komponen pemeriksaan pulmonal mana yang sesuai untuk mengkaji status pernapasan pasien saat ini.
Table 2 – 2. Temuan pada Pemeriksaan Inspeksi Paru
INSPEKSI
NORMAL
ABNORMAL
Penampilan umum
Pernafasan tenang.



Duduk atau bangun bersandar tanpa kesulitan.
Kulit tranlusen, tampak kering.
Bidang kuku merah muda.
Membran mukosa merah muda dan lembab.
Sianosis atau pucat dikaji dengan menetapkan nilai dasar individual sebelumnya.
Bibir monyong ketika menghirup nafas.
Tampak resah dan gelisah.
Condong ke depan dengan tangan dan siku di atas lutut.
Kulit : berkeringat, sedikit pucat atau agak kemerahan.
Sianosis : kulit atau membran mukosa tampak kebiruan.
Sianosis sentral : akibat penurunan oksigenasi darah
Sianosis perifer : akibat vasokontriksi setempat atau penurunan curah jantung.
Kuku tabuh : perbesaran falang terminale tanpa nyeri yang berkaitan dengan hipoksia dengan jaringan kronis.
Trachea
Bagian tengah leher
Deviasi trachea : pergeseran tempat baik lateral, anterior atau posterior.
Distensi vena jugularis
Batuk : kuat atau lemah, kering atau basah, produktif atau non produktif.
Pembentukan sputum : jumlah, warna, bau, konsistensi
Frekuensi
Eupneau : 12 sampai 20 kali.
Takipnea : frekuensi = 20 kali / menit, bradipnea : frekuensi = 10 kali / menit.
Pola pernafasan
Upaya inspirasi minimal : pasif, ekspirasi tenang.
Rasio inspirasi / ekspirasi = 1 : 2 Pria : pernafasan diafragma, wanita : pernafasan toraks.
Hiperpnea : peningkatan kedalaman pernafasan
Pernafasan dengan otot-otot aksesoris.
Apnea : tidak ada pernafasan total.
Biot : irama tak teratur dengan periode apnea.
Kussmaul : pernafasan cepat, dalam dan teratur.
Paradok : bagian dinding dada bergerak ke dalam selama inhalasi dan keluar selama ekshalasi.
Stridor : bunyi yang terdengar jelas, keras, tidak nyaring selama inhalasi dan ekshalasi.
Konfigurasi toraks
Tampak simetris

Diameter anteroposterior (AP) lebih kecil dari diameter transversal.
Tulang belakang lurus.


Scapula pada bidang horizontal yang sama.
Ekspansi dada tak sama
Perkembangan muskuler asimetris
Dada tong : diameter AP meningkat dalam hubungannya dengan diameter transversal
Kifosis : fleksi ektensi tulang belakang
Scoliosis : peningkatan lengkung lateral
Letak scapula asimetris

b.  PALPASI
Palpasi dilakukan dengan menggunakan tangan untuk meraba struktur di atas atau di bawah permukaan tubuh. Dada dipalpasi untuk mengevaluasi kulit dan dinding dada. Palpasi dada dan medula spinalis adalah teknik skrining umum untuk mengidentifikasi adanya abnormalitas seperti inflamasi.
Perlahan letakan ibu jari tangan yang akan mempalpasi pada satu sisi trakhea dan jari-jari lainnya pada sisi sebelahnya. Gerakan trakhea dengan lembut dari satu sisi ke sisi lainnya sepanjang trakhea sambil mempalpasi terhadap adanya massa krepitus, atau deviasi dari garis tengah. Trakhea biasanya agak mudah digerakkan dan dengan cepat kembali ke posisi garis tengah setelah digeser. Masa dada, goiter, atau cedera dada akut dapat mengubah letak trakhea.
Palpasi dinding dada menggunakan bagian tumit atau ulnar tangan Anda. Abnormalitas yang ditemukan saat inspeksi lebih lanjut diselidiki selama pemeriksaan palpasi. Palpasi dengan inspeksi terutama efektif dalam mengkaji apakah gerakan, atau ekskursi toraks selama inspirasi dan ekspirasi, amplitudonya simetris atau sama. Selama palpasi kaji adanya krepitus (udara dalam jaringan subkutan); defek atau nyeri tekan dinding dada; tonus otot; edema; dan fremitus taktil, atau vibrasi gerakan udara melalui dinding dada ketika klien sedang bicara.
Untuk mengevaluasi ekskursi toraks, klien diminta untuk duduk tegak, dan tangan pemeriksa diletakkan pada dinding dada posterior klien (bagian punggung). Ibu jari tangan pemeriksa saling berhadapan satu sama lain pada kedua sisi tulang belakang, dan jari-jari lainnya menghadap ke atas membentuk posisi seperti kupu-kupu. Saat klien menghirup napas tangan pemeriksa harus bergerak ke atas dan keluar secara simetri. Adanya gerakan asimetri dapat menunjukkan proses penyakit pada region tersebut.
Palpasi dinding dada posterior saat klien mengucapkan kata-kata yang menghasilkan vibrasi yang relatif keras (misalnya tujuh-tujuh). Vibrasi ditransmisikan dari laring melalui jalan napas dan dapat dipalpasi pada dinding dada. Intensitas vibrasi pada kedua sisi dibandingkan terhadap simetrisnya. Vibrasi terkuat teraba di atas area yang terdapat konsolidasi paru (misalnya pneumonia). Penurunan fremitus taktil biasanya berkaitan dengan abnormalitas yang menggerakkan paru lebih jauh dari dinding dada, seperti efusi pleural dan pneumotoraks.

Table 2-3. Temuan pada Pemeriksaan Palpasi Paru
PALPASI
NORMAL
ABNORMAL
Kulit dan dinding dada
Kulit tak nyeri tekan, lembut, hangat dan kering.





Tulang belakang dan iga tak nyeri tekan.
Kulit lembab atau terlalu kering
Krepitus—berbunyi tajam ketika kulit dipalpasi yang disebabkan oleh kebocoran udara dari paru-paru ke dalam jaringan subkutan
Nyeri tekan setempat
Fremitus
Simetris, vibrasi ringan teraba pada dinding dada selama bersuara
Peningkatan fremitus—akibat vibrasi melalui media padat, seperti pada tumor paru.
Penurunan fremitus—akibat vibrasi melalui peningkatan ruang dalam dada, seperti pada pneumothoraks atau obesitas
Fremitus asimetris merupakan suatu kondisi yang selalu tidak normal
Ekspansi dada lateral
Ekspansi simetris 3 sampai 8 cm
Ekspansi kurang dari 3 cm, nyeri atau asimetris.

c.   PERKUSI
Perkusi adalah teknik pengkajian yang menghasilkan bunyi dengan mengetuk dinding dada dengan tangan. Perkusi dimulai pada apeks dan diteruskan sampai ke dasar, beralih dari area posterior ke area lateral dan kemudian ke area anterior. Dada posterior paling baik diperkusi dengan posisi klien berdiri tegak dan tangan disilangkan di depan dada untuk memisahkan skapula.
Perkusi juga dilakukan untuk mengkaji ekskursi diafragma. Minta klien untuk menghirup napas dalam dan menahannya ketika Anda memperkusi ke arah bawah bidang paru posterior dan dengarkan bunyi perkusi yang berubah dari bunyi resonan ke pekak. Tandai area ini dengan pena. Proses ini diulang setelah klien menghembuskan napas, tandai lagi area ini. Kaji kedua sisi kanan dan kiri. Jarak antara dua tanda seharusnya 3 sampai 6 cm, jarak lebih pendek ditemukan pada wanita dan lebih panjang pada pria.
Table 2-4. Temuan pada Pemeriksaan Perkusi Paru
PERKUSI
NORMAL
ABNORMAL
Bidang paru
Bunyi resonana tingkat kenyaringan rendah, menggaung, mudah terdengar, kualitas sama pada kedua sisi.
Hiperesonan : akan terdengar pada pengumpulan udara atau pneumothoraks.
Pekak atau datar : terjadi akibat penurunan udara di dalam paru-paru (tumor, cairan)
Gerakan dan posisi diafragma
Letak diafragma pada vetebra torakik ke-10, setiap hemidiafragma bergerak -6 cm.
Posisi tinggi—distensi lambung atau kerusakan saraf frenikus. Penurunan atau tanpa gerakan pada kedua hemodiafragma.

d.  AUSKULTASI
Auskultasi adalah mendengarkan bunyi dengan menggunakan stetoskop. Dengan mendengarkan paru-paru ketika klien bernapas melalui mulut, pemeriksa mampu mengkaji karakter bunyi napas, adanya bunyi napas tambahan, dan karakter suara yang diucapkan atau dibisikan. Dengarkan semua area paru dan dengarkan pada keadaan tanpa pakaian; jangan dengarkan bunyi paru dengan klien mengenakan pakaian, selimut, gaun, atau kaus. Karena bunyi yang terdengar kemungkinan hanya bunyi gerakan pakaian di bawah stetoskop.
Status patensi jalan napas dan paru dapat dikaji dengan mengauskultasi napas dan bunyi suara yang ditransmisikan melalui dinding dada. Untuk dapat mendengarkan bunyi napas di seluruh bidang paru, kita harus meminta klien untuk bernapas lambat, sedang sampai napas dalam melalui mulut. Bunyi napas dikaji selama inspirasi dan ekspirasi. Lama masa inspirasi dan ekspirasi, intensitas dan puncak bunyi napas juga dikaji. Umumnya bunyi napas tidak terdengar pada lobus kiri atas, intensitas dan karakter bunyi napas harus mendekati simetris bila dibandingkan pada kedua paru. Bunyi napas normal disebut sebagai vesikular, bronkhial, dan bronkhovesikular.
Perubahan dalam bunyi napas yang mungkin menandakan keadaan patologi termasuk penurunan atau tidak terdengar bunyi napas, peningkatan bunyi napas, dan bunyi napas saling mendahului atau yang dikenal dengan bunyi adventiosa. Peningkatan bunyi napas akan terdengar bila kondisi seperti atelektasis dan pneumonia meningkatkan densitas (ketebalan) jaringan paru. Penurunan atau tidak terdengarnya bunyi napas terjadi bila transmisi gelombang bunyi yang melewati jaringan paru atau dinding dada berkurang.


2.5  Pengkajian Diagnostik
Prosedur diagnostik membantu dalam pengkajian klien dengan gangguan pernapasan. Pemeriksaan kultur dan biopsi adalah prosedur yang paling sering digunakan dalam menegakkan diagnosis gangguan saluran pernapasan atas. jika memang kondisinya mengharuskan, dibutuhkan pemeriksaan diagnostik yang lebih ekstensif.
Pemeriksaan pencitraan termasuk didalamnya pemeriksaan sinar-X jaringan lunak, CT scan, pemeriksaan dengan zat kontras, dan MRI (pencitraan resonansi magnetik). Pemeriksaan tersebut mungkin dilakukan sebagai bagian integral dari pemeriksaan diagnostik untuk menentukan keluasan infeksi pada sinusitis atau pertumbuhan tumor dalam kasus tumor.
a.   PEMERIKSAAN RADIOLOGI TORAKS DAN PARU-PARU
Pemeriksaan radiologi memberikan informasi mengenai (1) status sangkar iga, termasuk tulang rusuk, pleura, dan kontur diafragma dan jalan napas atas; (2) ukuran, kontur, dan posisi mediastinum dan hilus paru, termasuk jantung, aorta, nodus limfe, dan percabangan bronkhial; (3) tekstur dan tingkat penyebaran udara dari parenkim paru; dan (4) ukuran, bentuk, jumlah, dan lokasi lesi pulmonal, termasuk kavitasi, area fibrosis, dan daerah konsolidasi.
Pemeriksaan ronsen atau radiologi dada diindikasikan untuk (1) mendeteksi perubahan paru yang disebabkan oleh proses patologis, seperti tumor, inflamasi, fraktur, akumulasi cairan atau udara, (2) menentukan terapi yang sesuai, (3) mengevaluasi kesangkilan pengobatan, (4) menetapkan posisi selang dan kateter, dan (5) memberikan gambaran tentang suatu proses progresif dari penyakit paru. Kaji status kehamilan klien (untuk klien wanita); wanita hamil seharusnya tidak boleh terpajan pada radiasi.
b.  PEMERIKSAAN ULTRASONOGRAFI
Ultrasonografi toraks dapat memberikan informasi tentang efusi pleural atau opasitas dalam paru.

COMPUTED TOMOGRAPH (CT)
Klien dipuasakan, dan jelaskan bahwa pemeriksaan ini sering membutuhkan media kontras. Karena media kontras biasanya mengandung yodium (Juga disebut zat warna), tanyakan klien apakah ia mempunyai alergi terhadap yodium, zat warna, atau kerang. Ingatkan agar klien tidak bergerak selama prosedur.
c.   PEMERIKSAAN FLUOROSKOPI
Pemeriksaan ini dilakukan jika dibutuhkan informasi tentang dinamika dada seperti gerakan diafragmatik, ekspansi dan ventilasi paru, atau kerja jantung. Penggunaan fluoroskopi termasuk untuk (1) mengamati diafragma saat inspirasi dan ekspirasi, (2) mendeteksi gerakan mediastinal selama napas dalam, (3) mengkaji jantung, pembuluh darah dan struktur yang berkaitan, (4) mengidentifikasi abnormalitas esofagus, dan (5) mendeteksi massa mediastinal.
d.  PEMERIKSAAN ANGIOGRAFI PULMONAL
Pemeriksaan ini digunakan untuk mendeteksi embolisme pulmonal dan berbagai lesi kongenital dan didapat pada pembuluh pulmonal. Angiografi pulmonal dilakukan untuk mendeteksi (1) abnormalitas kongenital percabangan vaskular pulmonal, (2) abnormalitas sirkulasi vena pulmonal, (3) penyakit sirkulasi vena dan arteri pulmonal didapat, (4) efek destruktif dari emfisema, (5) keuntungan potensial reseksi untuk karsinoma bronkhogenik, (6) lesi pulmonal perifer, dan (7) luasnya tromboembolisme dalam paru-paru. Kaji status kehamilan klien; klien hamil tidak boleh terpajan pada radiasi.
e.   PEMERIKSAAN BRONKOSKOPI
Pemeriksaan diagnostik bronkoskopi termasuk pengamatan cabang trakheobronkhial, terhadap abnormalitas, biopsi jaringan, dan aspirasi sputum untuk bahan pemeriksaan. Bronkhoskopi digunakan untuk membantu dalam mendiagnosis kanker paru.
f.    UJI FUNGSI PULMONAL
Pemeriksaan fungsi pulmonal memberikan informasi tentang manifestasi klien dengan mengukur volume paru, mekanisme paru, dan kemampuan difusi paru. Uji fungsi pulmonal (UFP) digunakan untuk (1) skrining penyakit pulmonal, (2) evaluasi preoperatif, (3) mengevaluasi kondisi untuk melakukan penyapihan dari ventilator, (4) pemeriksaan fisiologi pulmonal, (5) mendokumentasikan kemajuan penyakit pulmonal atau efek terapi, (6) meneliti efek latihan pada fisiologi pernapasan.
Kemampuan fungsi paru-paru dikaji dengan mengukur properti yang mempengaruhi ventilasi (statis dan dinamis) dan respirasi (difusi dan perfusi). Penilaian fungsi pulmonal dilakukan dengan mempertimbangkan variabel-variabel dari setiap individu yang dievaluasi termasuk: usia, jenis kelamin, berat badan dan tinggi badan, serta upaya individu dalam melakukan setiap pemeriksaan.
g.  PEMERIKSAAN OKSIMETRI NADI
Oksimetri nadi adalah metoda noninvasif pemantauan kontinu saturasi oksigen-hemoglobin (SaO2). Meskipun pemeriksaan ini tidak dapat menggantikan pemeriksaan analisis gas darah, namun pemeriksaan ini sangat efektif untuk memantau pasien terhadap perubahan mendadak atau perubahan kecil saturasi oksigen.
h.  PEMERIKSAAN GAS DARAH ARTERI
Analisis gas darah arteri memberikan determinasi objektif tentang oksigenasi darah arteri, pertukaran gas, ventilasi alveolar, dan keseimbangan asam-basa. Dalam pemeriksaan ini, dibutuhkan sampel darah arteri yang diambil dari arteri femoralis, radialis, atau brakhialis dengan menggunakan spuit yang telah diberi heparin untuk mencegah pembekuan darah. Kaji patensia kedua arteri secara bergantian.
Table 2-5. Gas – gas darah arteri
FUNGSI PERNAFASAN
PENGUKURAN
NILAI NORMAL
Keseimbangan asam –basa oksigenasi
pH : konsentrasi ion hydrogen
PaO2 : tekanan parsial kelarutan O­2 di dalam darah
SaO2 : persentasi ikatan O2 dengan hemoglobin
7,35 – 7,45

80 – 100 mm Hg


95 % - 98 %
Ventilasi
PaCO2 : tekanan parsial kelarutan CO­2 dalam darah
38 – 45 mm Hg

i.    PEMERIKSAAN SPUTUM
Pemeriksaan sputum biasanya diperlukan jika diduga adanya penyakit paru. Membran mukosa saluran pernapasan berespons terhadap inflamasi dengan meningkatkan keluaran sekresi yang sering mengandung organisme penyebab.
Perhatikan dan catat volume, konsistensi, warna dan bau sputum. Pemeriksaan sputum mencakup pemeriksaan :
1.   Pewarnaan Gram, biasanya pemeriksaan ini memberikan cukup informasi tentang organisme yang cukup untuk menegakan diagnosis presumtif.
2.   Kultur sputum mengidentifikasi organisme spesifik untuk menegakkan diagnosa defmitif. Untuk keperluan pemeriksaan ini, sputum harus dikumpulkan sebelum dilakukan terapi antibiotik dan setelahnya untuk menentukan kemanjuran terapi.
3.   Sensitivitas berfungsi sebagai pedoman terapi antibiotik dengan mengidentifikasi antibiotik yang mencegah pertumbuhan organisme yang terdapat dalam sputum. Untuk pemeriksaan ini sputum dikumpulkan sebelum pemberian antibiotik. Pemeriksaan kultur dan sensitivitas biasanya diinstruksikan bersamaan.
4.   Basil tahan asam (BTA) menentukan adanya mikobakterium tuberkulosis, yang setelah dilakukan pewarnaan bakteri ini tidak mengalami perubahan warna oleh alkohol asam.
5.   Sitologi membantu dalam mengidentifikasi karsinoma paru. Sputum mengandung runtuhan sel dari percabangan trakheobronkhial; sehingga mungkin saja terdapat sel-sel malignan. Sel-sel malignan menunjukkan adanya karsinoma, tidak terdapatnya sel ini bukan berarti tidak adanya tumor atau tumor yang terdapat tidak meruntuhkan sel.
6.   Tes kuantitatif adalah pengumpulan sputum selama 24 sampai 72 jam.
j.    TORASENTESIS
Torasentesis adalah penusukan jarum ke dalam spasium pleural. Indikasi pemeriksaan torasentesis termasuk:
1.      Pengangkatan cairan pleural untuk tujuan diagnostik.
a.   Pemeriksaan untuk mengetahui berat jenis, jumlah sel darah putih, bitung banding sel, jumlah sel darah merah, dan kosentrasi protein, glukosa, dan amilase.
b.   Pembuatan kultur dan pemeriksaan terhadap adanya bakteri dan sel-sel abnormal atau malignan.
c.   Penampilan umum cairan, kuantitas yang didapat, dan lokasi dari letak torasentesis harus dipesankan.
2.    Biopsi pleural.
3.    Pembuangan cairan pleural jika cairan tersebut mengancam dan mengakibatkan ketidaknyamanan klien.
4.    Instilasi antibiotik atau obat lainnya ke dalam spasium pleural
Prosedur
.
Setelah prosedur, klien biasanya dibaringkan pada sisi yang tidak sakit selama 1 jam untuk memudahkan ekspansi paru. Kaji tanda vital sesuai ketentuan institusi. Frekuensi dan karakter pernapasan dan bunyi napas harus dikaji dengan cermat. Takipnea, dispnea, sianosis, retraksi, atau tidak terdengarnya bunyi napas yang dapat menandakan pneumotoraks harus dilaporkan pada dokter.
Jumlah cairan yang dikeluarkan harus dicatat sebagai haluaran cairan. Pemeriksaan ronsen dada mungkin dilakukan untuk mengevaluasi tingkat reekspansi paru dan pneumotoraks. Emfisema subkutan dapat menyertai prosedur ini, karena udara dalam rongga pleura masuk ke dalam jaringan subkutan. Jaringan ini teraba seperti kertas (krepitus) ketika dipalpasi. Biasanya emfisema subkutan tidak menjadi masalah kecuali bila terjadi peningkatan dan menghambat organ lain (misalnya trakhea).































BAB III
PENUTUP

3.1  KESIMPULAN
Pengkajian riwayat pernapasan mengandung informasi tentang kondisi klien saat ini dan masalah-masalah pernapasan sebelumnya. Wawancarai klien dan keluarga dan fokuskan pada manifestasi klinik tentang keluhan utama, peristiwa yang mengarah pada kondisi saat ini, riwayat kesehatan terdahulu, riwayat keluarga, dan riwayat psikososial.
Kumpulkan riwayat pernapasan yang lengkap sesuai dengan kondisi klien. Mengajukan pertanyaan secara detail akan memberikan petunjuk yang bermanfaat tentang (1) manifestasi gangguan pernapasan, (2) tingkat disfungsi pernapasan, (3) pengertian klien dan keluarga tentang kondisi dan penatalaksanaannya, dan (4) sistem pendukung dan kemampuan keluarga untuk mengatasi kondisi.
Keluhan umum penyakit pernapasan mencakup dispnea, batuk, pembentukan sputum, hemoptisis, mengi, dan nyeri dada. Fokuskan pada manifestasi dan prioritaskan pertanyaan untuk mendapatkan suatu analisis gejala.
Pemeriksaan fisik dilakukan setelah pengumpulan riwayat kesehatan. Gunakan teknik inspeksi, palpasi, dan auskultasi. Kondisi dan warna kulit klien diperhatikan selama pemeriksaan toraks (pucat, biru, kemerahan). Kaji tingkat kesadaran klien dan orientasikan selama pemeriksaan untuk menentukan kecukupan pertukaran gas.
Prosedur diagnostik membantu dalam pengkajian klien dengan gangguan pernapasan. Pemeriksaan kultur dan biopsi adalah prosedur yang paling sering digunakan dalam menegakkan diagnosis gangguan saluran pernapasan atas. Jika memang kondisinya mengharuskan, bisa saja dibutuhkan pemeriksaan diagnostik yang lebih ekstensif. Pemeriksaan pencitraan termasuk didalamnya pemeriksaan sinar-X jaringan lunak,CTscan, pemeriksaan dengan zat kontras, dan MRI (pencitraan resonansi magnetik)



Daftar Pustaka

Sloane, Ethel (2004).  Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran. EGC.
Alsagaff, Hood, Amin, Muhammad, dkk. (2010).  Buku Ajar Ilmu Penyakit Paru 2010. Surabaya: Departemen Ilmu Penyakit Paru FK UNAIR-RSUD Dr. Soetomo.
Griffith M.D. H. Winter. Buku Pintar Kesehatan. Jakarta: Penerbit Arcan.
Bersumber dari Http://asuhan-keperawatan-kebutuhan-oksigenasi.html. [diakses tanggal 5 Desember 2012]
Bersumber dari http://PENGKAJIAN%20SISTEM%20PERNAFASAN%20Ppt%20Presentation.html. [diakses tanggal 5 Desember 2012]
Bersumber dari http:// pengkajian-pada-sistem-pernapasan.html. [diakses tanggal 5 Desember 2012]
Mukty, Abdul dkk. Pedoman Diagnosis dan Terapi – Ilmu Penyakit Paru. Surabaya: RSUD Dr. Soetomo. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Your CommEnT........