Kontes SEO Gudangpoker.com

Kunjungi

Selasa, 07 Mei 2013

Perkembangan Nilai Budaya

Bab I
Pendahuluan
1.1             Latar Belakang
Kebudayaan atau disebut juga kultur (culture) merupakan keseluruhan cara hidup manusia sebagai warisan sosial yang diperoleh individu dari kelompoknya. Setiap kehidupan di dunia ini tergantung pada kemampuan beradaptasi terhadap lingkungannya dalam arti luas.Akan tetapi berbeda dengan kehidupan lainnya, manusia membina hubungan dengan lingkungannya secara aktif.Manusia tidak sekedar mengandalkan hidup mereka pada kemurahan lingkungan hidupnya. Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia akan  mengelola lingkungan dan mengolah sumberdaya secara aktif sesuai dengan kebutuhannya. Karena itulah manusia mengembangkan kebiasaan yang melembaga dalam struktur sosial dan kebudayaan mereka.Karena kemampuannya beradaptasi secara aktif itu pula, manusia berhasil menempatkan diri sebagai makhluk yang tertinggi derajatnya di muka bumi dan paling luas persebarannya memenuhi dunia.
Di lain pihak, kemampuan manusia membina hubungan dengan lingkungannya secara aktif itu telah membuka peluang bagi pengembangan berbagai bentuk organisasi dan kebudayaan menuju peradaban. Dinamika sosial itu telah mewujudkan aneka ragam masyarakat dan kebudayaan dunia, baik sebagai perwujudan adaptasi kelompok sosial terhadap lingkungan setempat maupun karena kecepatan perkembangannya.
Dalam tiap kebudayaan juga terdapat berbagai kepercayaan yang berkaitan dengan kesehatan. Terdapat kebudayaan yang bertentangan dengan kesehatan namun, di sisi lain ada kebudayaan yang sejalan dengan aspek kesehatan. Dalam arti kebudayaan yang berlaku tersebut tidak bertentangan bahkan saling mendukung dengan aspek kesehatan. Dalam hal ini petugas kesehatan harus mendukung kebudayaan tersebut. Tetapi kadangkala rasionalisasinya tidak tepat sehingga peran petugas kesehatan adalah meluruskan anggapan tersebut.

1.2            Rumusan Masalah
1.      Bagaimana perkembangan nilai kebudayaan yang ada di Indonesia sekarang ini?
2.      Apa hubungan antara perkembangan nilai-nilai kebudayaan yang ada di masyarakat multikultural dengan proses akulturasi?
3.      Apa yang dimaksud dengan penetrasi kebudayaan ?
4.      Apa saja cara pandang terhadap kebudayaan?
5.      Bagaimana perkembangan nilai budaya individu?
6.      Apa saja komponen kebudayaan?
7.      Apa hubungan antara unsur-unsur kebudayaan?
8.      Apa saja jenis agama serta kepercayaan yang ada di dunia yang berkaitannya dengan kebudayaan ?
9.      Apa yang dimaksud ilmu pengetahuan dan perubahan sosial?
10.  Apa saja jenis-jenis kebudayaan tradisional?
11.  Apa yang mengendalikan ilmu sosial budaya dasar untuk kebidanan?
12.  Apa  hubungan antara perkembangan nilai budaya dengan kesehatan masyarakat?

1.3            Tujuan Penelitian
1.      Mengetahui bagaimana perkembangan nilai budaya yang ada di masyarakat Indonesia.
2.      Mengetahui hubungan antara perkembangan nilai budaya di masyarakat multikultural dengan proses akulturasi.
3.      Mengetahui hubungan perkembangan nilai budaya dengan kesehatan masyarakat.
4.      Mengetahui apa itu penetrasi kebudayaan.
5.      Mengetahui cara-cara pandang terhadap kebudayaan.
6.      Mengetahui perkembangan nilai budaya individu dengan kesehatan masyarakat.
7.      Mengetahui komponen-komponen kebudayaan.
8.      Mengetahui hubungan antara unsur-unsur kebudayaan.
9.      Mengetahui hal yang mengendalikan  ilmu sosial budaya dasar untuk kebidanan.
10.  Mengetahui berbagai jenis agama dan kepercayaan di dunia yang kaitannya dengan kebudayaan.
11.  Mengetahui ilmu pengetahuan dan perubahan sosial.
12.  Mengetahui jenis-jenis kebudayaan tradisional.

1.4             Manfaat Penelitian
Hasil dari penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak khususnya kepada mahasiswi untuk menambah pengetahuan dan wawasan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan nilai kebudayaan dengan kesehatan masyarakat.

Bab II
Pembahasan
Kebudayaan atau disebut juga kultur (culture) merupakan keseluruhan cara hidup manusia sebagai warisan sosial yang diperoleh individu dari kelompoknya. Perkembangan nilai budaya ini juga dipengaruhi oleh tingkat akulturasi yang ada di daerahnya. Akulturasi atau disebut juga asimilasi adalah konsep untuk merujuk proses di mana seseorang pendatang luar, imigran, aturan kelompok subordinate menjadi menyatu secara tak kentara lagi ke dalam masyarakat tuan rumah yang dominan. Selain itu pengetahuan tentang suatu kebudayaan tertentu dapat digunakan untuk meramalkan berbagai kepercayaan dan perilaku anggotanya. Untuk itu petugas kesehatan perlu mempelajari kebudayaan sebagai upaya mengetahui perilaku masyarakat di kebudayaan tersebut sehingga dapat turut berperan serta memperbaiki status kesehatan di masyarakat tersebut.
Dalam tiap kebudayaan terdapat berbagai kepercayaan yang berkaitan dengan kesehatan. Di pedesaan masyarakat jawa, ibu nifas tidak boleh makan yang amis-amis (misalnya : Ikan) karena menurut kepercayaan akan membuat jahitan perineum sulit sembuh dan darah nifas tidak berhenti. Menurut ilmu gizi hal tersebut tidak dibenarkan karena justru ikan harus dikonsumsi karena mengandung protein sehingga mempercepat pemulihan ibu nifas. Disinilah peran petugas kesehatan untuk meluruskan anggapan tersebut.
Di daerah Langkat, Sumatera Utara ada kebudayaan yang melarang ibu nifas untuk melakukan mobilisasi selama satu minggu sejak persalinan. Ibu nifas harus bedrest total selama seminggu karena dianggap masih lemah dan belum mampu beraktivitas sehungga harus istirahat di tempat tidur. Mereka juga menganggap bahwa dengan ilmu pengetahuan saat ini bahwa dengan beraktivitas maka proses penyembuhan setelah persalinan akan terhambat. Hal ini bertentangan dengan ilmu pengetahuan saat ini bahwa ibu nifas harus melakukan mobilisasi dini agar cepat pulih kondisinya. Dengan mengetahui kebudayaan di daerah tersebut, petugas kesehatan dapat masuk perlahan-lahan untuk memberi pengertian yang benar kepada masyarakat.
Di sisi lain ada kebudayaan yang sejalan dengan aspek kesehatan. Dalam arti kebudayaan yang berlaku tersebut tidak bertentangan bahkan saling mendukung dengan aspek kesehatan. Dalam hal ini petugas kesehatan harus mendukung kebudayaan tersebut. Tetapi kadangkala rasionalisasinya tidak tepat sehingga peran petugas kesehatan adalah meluruskan anggapan tersebut. Sebagai contoh, ada kebudayaan yang menganjurkan ibu hamil minum air kacang hijau agar rambut bayinya lebat. Kacang hijau sangat baik bagi kesehatan karena banyak mengandung vitamin B yang berguna bagi metabolisme tubuh. Petugas kesehatan mendukung kebiasaan minum air kacang hijau tetapi meluruskan anggapan bahwa bukan membuat rambut bayi lebat tetapi karena memang air kacang hujau banyak vitaminnya. Ada juag kebudayaan yang menganjurkan ibu menyusui untuk amakan jagung goring (di Jawa disebut “marning”) untuk melancarkan air susu. Hal ini tidak bertentangan dengan kesehatan. Bila ibu makan jagung goring maka dia akan mudah haus. Karena haus dia akan minum  banyak. Banyak minum inilah yang dapat melancarkan air susu.
Dalam makalah ini kita mempelajari tentang perkembanagn nilai budaya dan kaitannya dengan kesehatan masyarakat. Hal ini berkaitan dengan pentingnya petugas kesehatan mempelajari kebudayaan di suatu wilayah agar dapat memperbaiki status kesehatan masyarakat di daerah tersebut.
2.1 Perkembangan Nilai Budaya di Indonesia
Dinamika sosial dan kebudayaan itu, tidak terkecuali melanda masyarakat Indonesia, walaupun luas spektrum dan kecepatannya berbeda-beda.Demikian pula masyarakat dan kebudayaan Indonesia pernah berkembang dengan pesatnya di masa lampau, walaupun perkembangannya dewasa ini agak tertinggal apabila dibandingkan dengan perkembangan di negeri maju lainnya.Betapapun, masyarakat dan kebudayaan Indonesia yang beranekaragam itu tidak pernah mengalami kemandegan sebagai perwujudan tanggapan aktif masyarakat terhadap tantangan yang timbul akibat perubahan lingkungan dalam arti luas maupun pergantian generasi.
Ada sejumlah kekuatan yang mendorong terjadinya perkembangan sosial budaya masyarakat Indonesia.Secara kategorikal ada 2 kekuatan yang mmicu perubahan sosial, Petama, adalah kekuatan dari dalam masyarakat sendiri (internal factor), seperti pergantian generasi dan berbagai penemuan dan rekayasa setempat. Kedua, adalah kekuatan dari luar masyarakat (external factor), seperti pengaruh kontak-kontak antar budaya (culture contact) secara langsung maupun persebaran (unsur) kebudayaan serta perubahan lingkungan hidup yang pada gilirannya dapat memacu perkembangan sosial dan kebudayaan masyarakat yang harus menata kembali kehidupan mereka .
Betapapun cepat atau lambatnya perkembangan sosial budaya yang melanda, dan factor apapun penyebabnya, setiap perubahan yang terjadi akan menimbulkan reaksi pro dan kontra terhadap masyarakat atau bangsa yang bersangkutan. Besar kecilnya reaksi pro dan kontra itu dapat mengancam kemapanan dan bahkan dapat pula menimbulkan disintegrasi sosial terutama dalam masyarakat majemuk dengan multi kultur seperti Indonesia.
Masyarakat Indonesia dewasa ini sedang mengalami masa pancaroba yang amat dahsyat sebagai akibat tuntutan reformasi secara menyeluruh.Sedang tuntutan reformasi itu berpangkal pada kegiatan pembangunan nasional yang menerapkan teknologi maju untuk mempercepat pelaksanaannya.Di lain pihak, tanpa disadari, penerapan teknologi maju itu menuntut acuan nilai-nilai budaya, norma-norma sosial dan orientasi baru.Tidaklah mengherankan apabila masyarakat Indonesia yang majemuk dengan multi kulturalnya itu seolah-olah mengalami kelimbungan dalam menata kembali tatanan sosial, politik dan kebudayaan dewasa ini.
Penerapan teknologi maju
Penerapan teknologi maju untuk mempercepat pebangunan nasional selama 32 tahun yang lalu telah menuntut pengembangan perangkat nilai budaya, norma sosial disamping ketrampilan dan keahlian tenagakerja dengn sikap mental yang mendukungnya. Penerapan teknologi maju yang mahal biayanya itu memerlukan penanaman modal yang besar (intensive capital investment); Modal yang besar itu harus dikelola secara professional (management) agar dapat mendatangkan keuntungan materi seoptimal mungkin; Karena itu juga memerlukan tenagakerja yang berketrampilan dan professional dengan orientasi senantiasa mengejar keberhasilan (achievement orientation).
Tanpa disadari, kenyataan tersebut, telah memacu perkembangan tatanan sosial di segenap sector kehidupan yang pada gilirannya telah menimbulkan berbagai reaksi pro dan kontra di kalangan masyarakat. Dalam proses perkembangan sosial budaya itu, biasanya hanya mereka yang mempunyai berbagai keunggulan sosial-politik, ekonomi dan teknologi yang akan keluar sebagai pemenang dalam persaingan bebas. Akibatnya mereka yang tidak siap akan tergusur dan semakin terpuruk hidupnya, dan memperlebar serta memperdalam kesenjangan sosial yang pada gilirannya dapat menimbulkan kecemburuan sosial yang memperbesar potensi konflik sosial.dalam masyarakat majemuk dengan multi kulturnya.
Keterbatasan lingkungan (environment scarcity)
Penerapan teknologi maju yang mahal biayanya cenderung bersifat exploitative dan expansif dalam pelaksanaannya.Untuk mengejar keuntungan materi seoptimal mungkin, mesin-mesin berat yang mahal harganya dan beaya perawatannya, mendorong pengusaha untuk menggunakannya secara intensif tanpa mengenal waktu.Pembabatan dhutan secara besar-besaran tanpa mengenal waktu siang dan malam, demikian juga mesin pabrik harus bekerja terus menerus dan mengoah bahan mentah menjadi barang jadi yang siap di lempar ke pasar.Pemenuhan bahan mentah yang diperlukan telah menimbulkan tekanan pada lingkungan yang pada gilirannya mengancam kehidupan penduduk yang dilahirkan, dibesarkan dan mengembangkan kehidupan di lingkungan yang di explotasi secara besar-besaran.
Di samping itu penerapan teknologi maju juga cenderung tidak mengenal batas lingkungan geografik, sosial dan kebudayaan maupun politik.Di mana ada sumber daya alam yang diperlukan untuk memperlancar kegiatan industri yang ditopang dengan peralatan modern, kesana pula mesin-mesin modern didatangkan dan digunakan tanpa memperhatikan kearifan lingkungan (ecological wisdom) penduduk setempat.
Ketimpangan sosial-budaya antar penduduk pedesaan dan perkotaan ini pada gilirannya juga menjadi salah satu pemicu perkembangan norma-norma sosial dan nilai-nilai budaya yang befungsi sebagai pedoman dan kerangka acuan penduduk perdesaan yang harus nmampu memperluas jaringan sosial secara menguntungkan.Apa yang seringkali dilupakan orang adalah lumpuhnya pranata sosial lama sehingga penduduk seolah-olahkehilangan pedoman dalam melakukan kegiatan. Kalaupun pranata sosial itu masih ada, namun tidak berfungsi lagi dalam menata kehidupan pendudduk sehari-hari. Seolah-olah terah terjadi kelumpuhan sosial seperti kasus lumpur panas Sidoarjo, pembalakan liar oleh orang kota, penyitaan kayu tebangan tanpa alas an hokum yang jelas, penguasaan lahan oleh mereka yang tidak berhak.
Kelumpuhan sosial itu telah menimbulkan konflik sosial yang berkepanjangan dan berlanjut dengan pertikaian yang disertai kekerasan ataupun amuk.
2.2 Perkembangan Nilai dengan Akulturasi pada Masyarakat Multikultural
Akulturasi atau disebut juga asimilasi adalah konsep untuk merujuk proses di mana seseorang pendatang luar, imigran, aturan kelompok subordinate menjadi menyatu secara tak kentara lagi ke dalam masyarakat tuan rumah yang dominan. Dalam asimilasi atau akulturasi, didasarkan pada asumsi adanya kelompok masyarakat yang lemah (subordinate group) dan kelompok masyarakat yang kuat (dominant group).Dewasa ini ada dua konsep masyarakat majemuk yang muncul dari berbagai hasil penelitian yaitu: (1) konsep “kancah pembauran” (melting pot), dan (2) konsep “pluralisme kebudayaan” (cultural pluralism). Teori kancah pembauran pada dasarnya, mempunyai asumsi bahwa integrasi (kesatuan) akan terjadi dengan sendirinya pada suatu waktu apabila orang berkumpul pada suatu tempat yang berbaur, seperti di sebuah kota atau pemukiman industri. Sebaliknya konsep pluralisme kebudayaan justru menentang konsep kancah pembauran di atas. Menurut Horace Kallen, salah seorang pelopor konsep pluralisme kebudayaan tersebut, menyatakan bahwa kelompok-kelompok etnis atau ras yang berbeda tersebut malah harus di dorong untuk mengembangkan sistem mereka sendiri dalam kebersamaan, memperkaya kehidupan masyarakat majemuk mereka. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa konsep kancah pembauran hanyalah suatu mitos.Mitos yang tidak pernah menjadi kenyataan, sedang pluralisme kebudayaan menurut berbagai ahli telah mengangkat Amerika Serikat, Cina, Rusia, Kanada, dan India menjadi negara yang kuat.Masyarakat majemuk Indonesia lebih sesuai didekati dari konsep pluralisme kebudayaan, sebab integrasi nasional yang hendak diciptakan tidak berkeinginan untuk melebur identitas ratusan kelompok etnis bangsa kita. Disamping dijamin oleh UUD 45, pluralisme juga diperlukan dalam pembangunan nasional. Masalahnya ialah bagaimana mengelola pluralisme itu dan menjauhkan dampak negatifnya dalam “National Building”.
Dalam masyarakat multikultural, konsepnya ialah bahwa di atas pluralisme masyarakat itu hendaknya dibangun suatu rasa kebangsaan bersama, tetapi dengan tetap menghargai, mengedepankan, dan mengembangkan pluralisme masyarakat itu (multiculturalism celebrate culture variety). Dengan demikian, ada tiga syarat bagi adanya suatu masyarakat multikultural, yaitu: 1) adanya pluralisme masyarakat; 2) adanya cita-cita untuk mengembangkan semangat kebangsaan yang sama; 3) adanya kebanggaan mengenai pluralisme tersebut.
2.3 Penetrasi Kebudayaan
Penetrasi kebudayaan adalah masuknya pengaruh suatu kebudayaan ke kebudayaan lainnya. Penetrasi kebudayaan dapat terjadi dengan dua cara:
1.      Penetrasi Damai (Penetration Pasifique)
Masuknya sebuah kebudayaan dengan jalan damai. Misalnya: masuknya penagruh kebudayaan Hindu dan Islam ke Indonesia. Penerimaan kedua macam kebudayaan tersebut tidak mengakibatkan konflik, tetapi memperkaya khasanah budaya masyarakat setempat. Pengaruh kedua kebudayaan ini pun tidak mengakibatkan hilangnya unsur-unsur asli udaya masyarakat. Penyebaran kebudayaan secara damai akan menghasilkan akulturasi, asimilasi, atau sintesis. Akulturasi adalah bersatunya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru tanpa menghilangakan unsure kebudayaan asli. Contohnya:bentuk bangunana Candi Borobudur yang merupakan perpaduan antara kebudayaan asli Indonesia dan kebudayaaan India. Asimilasi adalah bercampurnya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru. Sedangkan sintesis adalah bercampurnya dua kebudayaan yang berakibat pada terbentuknya sebuah kebudayaan baru yang sangat berbeda dengan kebudayaan asli.

2.      Penetrasi kekerasan (Penetration violante)
Masuknya sebuah kebudayaan dengan cara memaksa dan merusak. Contohnya:masuknya kebudayaan Barat ke Indonesia pada zaman penjajahan disertai  dengan kekerasan sehingga menimbulkan goncangan-goncangan yang merusak keseimbangan dalam masyarakat. Wujud budaya dunia barat anatar lain adalah budaya dari Belanda yang menjajah selama 350 tahun lamanya. Budaya warisan Belanda masih melekat di Indonesia antara lain pada system pemerintahan Indonesia. 

2.4  Cara Pandang Masyarakat Terhadap Kebudayaan

1.    Kebudayaan Sebagai Peradaban
Saat ini, kebanyakan orang memahami gagasan :budaya” yang dikembangkan di Eropa pada abad ke-18 dan awal abad Ke-19. Gagasan tentang “budaya” ini merefleksian adanya ketidakseimbangan antara kekuatan Eropa dan kekuatan daerah-daerah yang dijajahnya. Mereka menganggap ‘kebudayaan’ sebagai “peradaban” sebagai lawan kata dari “alam”. Menurut cara pikir ini, kebudayaan satu dengan kebudayaan lain dapat diperbandingkan; salah satu kebudayaan pasti lebih tinggi dari kebudayaan lainnnya. Pada praktiknya, kata kebudayaan merujuk pada benda-benda dan aktivitas yang “elit” seperti misalnya memakai baju yang berkelas, fine art, atau mendengarkan musik klasik, sementara kata berkebudayaan digunakan untuk menggambarkan orang yang mengetahui,dan mengambil bagian, dari aktivitas-aktivitas di atas. Sebagai contoh, jika seseorang berpendapat bahwa musik klasik adalah musik yanng “berkelas”, elit, dan bercita rasa seni, sementara musik tradisional dianggap sebagai musik yang kampungan dan ketinggalan zaman, maka timbul anggapan bahwa ia adalah orang yang sudah “berkebudayaan “ .
Orang yang amenggunakan kata “kebudayaan” dengan cara ini tidak percaya ada kebudayaan lain yang eksis; mereka percaya bahwa kebudayaan hanya ada satu dan menjadi tolak ukur norma dan nilai di seluruh dunia. Menurut cara pandang ini, seseorang yang memiliki  kebiasaan yang berbeda dengan mereka yang  “berkebudayaan “ disebut sebagai orang yang  “tidak berkebudayaan “ ; bukan sebagai orang “dari kebudayaan yang lain.” Orang yang  “tidak berkebudayaan “ dikatakan lebih “alam” , dan para pengamat sering kali mempertahankan elemen dari kebudayaan tingkat tinggi (high culture) untuk  menekan pemikiran “manusia alami” (human nature).
Sejak abad ke-18,beberapa kritik sosial telah menerima adanya perbedaan antara berkebudayaan dan tidak berkebudayaan, tetapi perbandingan itu, berkebudayaan dan tidak berkebudayaan, dapat menekan interpretasi perbaikan dan interpretasi pengalaman sebagai perkembangan yang merusak dan “tidak alami” yang mengaburkan dan menyimpangkan sifat dasar dasar manusia. Dalam hal ini,musik tradisional ( yanng diciptakan oleh masyarakt kelas pekerja) dianggap mengekspresikan “jalan hidup yang alami” (natural way of life), dan musik klasik sebagai suatu kemunduran dan kemerosotan.
Saat ini kebanyakan ilmuwan sosial menolak untuk memperbandingkanantara kebudayaan dengan alam dan konsep monadik yang pernah berlaku. Mereka menganggap bahwa kebudayaan yang sebelumnya dianggap “tidak elit” dan “:kebudayaan” adalah sama masing-masing masyarakat memiliki kebudayaan yang tidak dapar diperbandingkan. Pengamat sosial membedakan beberapa kebudayaan sebagai kultur populer (popular culture) atau pop kultu, yang berarti barang atau aktivitas  yang diproduksi dan dikonsumsi oleh banyak orang.

2.   Kebudayaan sebagai “Sudut Pandang Umum”
Selama era Romantis, para cendekiawan di Jerman, khususnya mereka yang peduli terhadap gerakan nasionalisme seperti misalnya, perjuangan nasionalis untuk menyatukan Jerman, dan perjuangan nasionalis dari etnis minoritas melawan Kekaisaran Austria-Hongaria mengembangkan sebuah gagasan kebudayaan dalam “sudur pandang umum”. Pemikiran ini menganggap suatu budaya dengan budaya lainnya memiliki perbedaan dan kekhasan masing-masing. Karenanya, budaya tidak dapat diperbandingkan.meskipun begitu, gagasan ini masih mengakui adanya pemisahan antara “berkebudayan” dengan “tidak berkebudayaan” atau kebudayaan “primitif”.
Pada akhir abad ke-19, para ahli antropologi telah memakai kata kebudayaan dengan definisi yang lebih luas. Bertolak dari teori evolusi, memreka mengamsumsikan bahwa setiap manusia tumbuh dan berevolusi bersama, dan dari evolusi itulah tercipta kebudayaan. Pada tahun 50-an, subkebudayaan-kelompok dengan perilaku yang sedikit berbeda dari kebudayaan induknya-mulai dijasikan subyek penelitian oleh para sosiologi. Pada abad ini pula, terjadi popularisasi ide kebudayaan perusahaan-perbedaan dan bakat dalam konteks pekerja organisasi atau tempat bekerja.

3.   Kebudayaan sebagai Mekanisme Stabilisasi
Teori-teori yang ada saat ini menganggap bahwa (suatu) kebudayaan adalah sebuah produk dari stabilisasi yang melekat dalam tekanan evolusi menuju kebersamaan dan kesadaran bersama dalam suatu masyarakat, atau biasa disebut dengan tribalisme.

2.5 Perkembangan Nilai Budaya Individu dengan  Kesehatan Masyarakat
1. Kebudayaan di antara Masyarakat
Sebuah kebudayaan besar biasanya memiliki kebudayaan (sub-kultur), yaitu sebuah kebudayaan yang memiliki sedikit perbedaan dalam hal perilaku dan kepercayaan dari kebudayaan induknya. Munculnya subkultur disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya karena perbedaan umur, ras, etnisitas, kelas, estetik, agama, pekerjaan, pandangan politik dan gender.
Ada beberapa cara yang dilakukan masyarakat ketika berhadapan dengan imigran dan kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan asli. Cara yang dipilih masyarakat tergantung pada seberapa besar perbedaan kebudayaan induk dengan kebudayaan minoritas, seberapa banyak imigran yang datang, watak dari penduduk asli, keefektifan dan keintensifan komunikasi antar budaya, dan tipe pemerintahan yang berkuasa.
a.  Monokulturalisme : Pemerintah mengusahakan terjadinya asimilasi kebudayaan sehingga masyarakat yang berbeda kebudayaan menjadi satu dan saling bekerja sama.
b.  Letikultur (kebudayaan inti) : Sebuah model yang dikembangkan oleh Bassam Tibi di Jerman. Dalam Letikultur, kelompok minoritas dapat menjaga dan mengembangkan kebudayaan sendiri, tanpa bertentangan dengan kebudayaan induk yang ada dalam masyarakat asli.
c.  Melting pot : Kebudayaan imigran / asing berbaur dan bergabung dengan kebudayaan asli tanpa campur tangan pemerintah.
d.  Multikulturalisme : Sebuah kebijakan yang mengharuskan imigran dan kelompok minoritas untuk menjaga kebudayaan mereka masing-masing dan berinteraksi secara damai dengan kebudayaan induk.

2.  Kebudayaan Menurut Wilayah
Seiring dengan kemajuan teknologi dan informasi, hubungan dan saling keterkaitan kebudayaan-kebudayaan di dunia saat ini sangat tinggi. Selain kemajuan teknologi dan informasi, hal tersebut juga dipengaruhi oleh factor ekonomi, migrasi, dan agama.
a.  Afrika
Beberapa kebudayaan di benua Afrika terbentuk melalui penjajahan Eropa, seperti kebudayaan Sub-Sahara. Sementara itu, wilayah Afrika Utara lebih banyak terpengaruh oleh kebudayaan Arab dan Islam.
b.  Amerika
Kebudayaan di benua Amerika dipengaruhi oleh suku-suku Asli benua Amerika; orang-orang dari Afrika (terutama di Amerika Serikat), dan para imigran Eropa terutama Spanyol, Inggris, Perancis, Portugis, Jerman, dan Belanda.
c.  Asia
Asia memiliki berbagai kebudayaanyang berbeda satu sama lain , meskipun begitu , beberapa dari kebudayaan tersebut memiliki pengaruh yang menonjol terhadap kebudayaan lain , seperti misalnya pengaruh kebudayaan Tiongkok kepada kebudayaan jepang , korea ,dan Vietnam.Dalam bidang agama , agama Budha dan Taoisme banyak mempengaruhi kebudayaan di Asia Timur . Selain kedua Agama tersebut , norma dan nilai Agama Islam juga turut mempengaruhi kebudayaan terutama di wilayah Asia Selatan dan tenggara
d.  Australia
Kebanyakan budaya di Australia masa kini berakar dari kebudayaan Eropa dan Amerika . Kebudayaan Eropa dan Amerika  tersebut  kemudian dikembangkan dan disesuaikan dengan lingkungan benua Australia , serta diintegrasikan dengan kebudayaan penduduk asli benua Australia , Aborigin.
e.   Eropa
Kebudayaan Eropa banyak terpengaruh oleh kebudayaan Negara –negara yang pernah dijajahnya .Kebudayaan ini dikenal juga dengan sebutan ‘’kebudayaan barat‘’.Kebudayaan ini telah diserap oleh banyak kebudayaan ,hal ini terbukti dengan banyaknya pengguna bahasa Inggris dan bahasa Eropa lainnya di seluruh dunia.Selain dipengaruhi oleh kebudayaan Negara yang pernah dijajah, kebudayaan ini juga dipengaruhi oleh kebudayaan Yunani kuno, Romawi kuno, dan agama Kristen, meskipun kepercayaan akan agama banyak mengalami kemunduran beberapa tahun ini  .
f.   Timur Tengah dan Afrika Utara
Kebudayaan di daerah Timur Tengah dan Afrika Utara saat ini kebanyakan sangat  dipengaruhi oleh nilai dan norma agama Islam, meskipun tidak hanya agama Islam yang berkembang di daerah ini.

3.  Dinamika Masyarakat dan Kebudayaan
Untuk menganalisis secara ilmiah tentang gejala-gejala dan kejadian sosial budaya di masyarakat sebagai proses-proses yang sedang berjalan atau bergeser kita memerlukan beberapa konsep. Konsep- konsep tersebut sangat perlu untuk menganalisa proses pergeseran masyarakat dan kebudayaan serta dalam sebuah penelitian antropologi dan sosiologi yang disebut dinamik sosial (social dynamic). Konsep-konsep penting tersebut antara lain internalisasi (internalization), sosialisasi (socialization), dan enkulturasi (enculturation). Kemudian ada juga evolusi kebudayaan ( cultural evolution) yang mengamati perkembangan kebudayaan manusia dari bentuk yang sederhana hingga bentuk yang semakin lama semakin kompleks. Proses lain adalah proses belajar unsur-unsur kebudayaan asing oleh warga suatu masyarakat, yaitu proses akulturasi (acculturation) dan asimilasi (assimilation). Akhirnya ada proses pembaharuan atau inovasi (innovation), yang berhubungan erat dengan penemuan baru (discovery dan invention).

4. Proses Belajar Kebudayaan Sendiri
a. Proses Internalisasi
Manusia mempunyai    diri dalam gen-nya untuk mengembangkan berbagia macam perasaan, hasrat, nafsu, serta emosi kepribadiannya. Tetapi wujud dari kepribadiannya itu sangat dipengaruhi oleh berbagai macam stimuli yang ada di sekitar alam dan lingkungan sosial dan budayanya. Maka proses internalisasi yang dimaksud adalah proses panjang sejak seorang individu dilahirkan sampai ia hampir meninggal, dimana ia belajar menanamkan dalam kepribadiannya segala hasrat, perasaan, nafsu, serta emosi yang diperlukan sepanjang hidupnya.

b. Proses Sosialisasi
Proses ini bersangkutan dengan proses belajar kebudayaan dalam hubungan dengan sitem sosial. Dalam proses itu seorang individu dari masa anak-anak hingga masa tuanya belajar pola-pola tindakan dalam interaksi dengan segala macam individu di sekelilingnya yang menduduki beraneka macam peranan sosial yang mungkin ada dalam kehidupan sehari-hari.

c. Proses Enkulturasi
Dalam proses ini seorang individu mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya dengan adat istiadat, sistem norma, serta peratuaran-peraturan yang hidup dalam kebudayaannya. Kata enkulturasi dalam bahasa Indonesia juga berarti “pembudayaan”. Seorang individu dalam hidupnya juga sering meniru dan membudayakan berbagai macam tindakan setelah perasaan dan nilai budaya yang meberi motivasi akan tindakan meniru itu telah diinternalisasi dalam kepribadiannya.


d. Proses Evolusi Sosial
1)  Proses Microscopic dan Macroscopic dalam Evolusi Sosial
Proses sosial dari suatu masyarakat dan kebudayaan dapat dianalisa oleh seorang peneliti seolah-olah dari dekat secara detail (microscopic), atau dapat juga dipandang dari jauh hanya dengan memperhatikan perubahan-perubahan yang besar saja (macroscopic). Proses evolusi sosial budaya yang dianalisa secara detail akan membuka mata seorang penelitiuntuk berbagai macam proses perubahan yang terjadi dalam dinamika kehidupan sehari-hari dalam setiap masyarakat di dunia.
2)  Proses-Proses Berulang dalam Evolusi Sosial Budaya
Proses ini mengenai suatu aktivitas dalam sebuah lingkungan atau suatu adat dimana aktivitas yang dilakukan terus berulang. Dan aktivitas yang dimaksud biasanya aktivitas yang menyimpang atau di luar kehendak perilaku. Namun pada suatu ketika dan sering terjadi aktivitas tersebut selalu berulang (recurent) dalam kehidupannya sehari-hari disetiap masyarakat. Sampai akhirnya masyarakat tidak bisa mempertahankan adatnya lagi, karena terbiasa dengan penyimpangan-penyimpangan tersebut. Maka masyarakat terpaksa memberi konsesinya, dan adat serta aturan diubah sesuai dengan keperluan baru dari individu-individu di dalam masyarakat.
3)  Proses Mengarah daKebudayaan dalam Evokusi Kebudayaan
Dengan mengambil jangka perubahan besar yang seolah bersifat menentukan arah (directional) dari sejarah perkembangan masuarakat dan kebudayaan yang bersangkutan. Sebagai contoh misalnya misalnya tingkat kebudayaan manusia yang berawal dari Neolitik, kemudian berubah menjadi Mesolitik dan akhirnya berubah menuju Paleolitik.

e. Proses Difusi
1)  Penyebaran Manusia
Ilmu Paleontropologi memperkirakan bahwa manusia terjadu di daerah Sabana tropical di Afrika Timur, dan sekarang makhluk itu sudah menduduki hamper seluruh permukaan bumi ini. Hal ini dapat diterangkan dengan adanya proses pembiakan dan gerakan penyebaran atau migrasi-migrasi yang disertai dengan proses adaptasi fisik dan social budaya.
2)  Penyebaran Unsur-Unsur Kebudayaan
Bersamaan dengan penyebaran dan  migrasi kelompok-kelompok manusia di muka bumi, turut pula tersebar unsure-unsur kebudayaan dan sejarah dari proses penyebaran unsure penyebaran kebudayaan seluruh penjuru dunia yang disebut proses difusi (diffusion). Salah satu bentuk difusi dibawa oleh kelompok-kelompok yang bermigrasi. Namun bisa juga tanpa adanya migrasi, tetapi karena ada individu-individu yang membawa unsure-unsur kebudayaan itu, dan mereka adalah para pedagang dan pelaut.

f. Akulturasi dan Pembauran atau Asimilasi
1)  Akulturasi
Proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsure-unsur dari suatu kebudayaan asing dengan demikian rupa, sehingga unsure-unsur kebudayaan asing tersebut lambat laun  diteima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri.
2)  Asimilasi
Proses social yang timbul bila ada golongan-golongan manusia dengan latar kebudayaan yang berbeda-beda. Kemudian saling bergaul langsung secara intensif untuk waktu yang lama, sehingga kebudayaan golongan-golongan tadi masing-masing berubah sifatnya yang khas, dan juga unsur-unsurnya masing-masing berubah wujudnya menjadi unsure-unsur kebudayaan yang campuran.

g. Pembaruan (Innovasi)
1)  Inovasi dan Penemuan
Inovasi adalah suatu proses pembaruan dari penggunaan sumber-sumber alam, energi dan modal, pengaturan baru dari tenaga kerja dan penggunaan teknologi baru yang semua akan menyebabkan adanya sistem produksi, dan dibuatnya produk-produk baru. Proses inovasi sangat erat kaitannya dengan teknologi dan ekonomi. Daam suatu penemuan baru biasanya membutuhkan proses sosial yang panjang dan melalui dua tahap khusus yaitu discovery dan invention. Discovery atau penemuan adalah suatu penemuan dari suatu unsur kebudayaan yang baru, baik berupa suatu alat baru, ide baru, yang diciptakan oleh individu atau suatu rangkaian dari beberapa individu dalam masyarakat bersangkuta. Discovery baru menjadi invention apabila masyarakat sudah mengakui, menerima, dan menerapkan penemuan baru itu.
2)  Pendorong Penemuan Baru
Faktor-faktor pendorong bagi individu dalam suatu masyarakat untuk memulai dan mengembangkan penemuan-penemuan baru antara lain:
a)  Kesadaran para individu akan kekurangan dalam kebudayaan.
b)  Mutu dan keahlian dalam suatu kebudayaan.
c)   Sistem perangsang bagi aktivitas mencipta dalam masyarakat.
Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, anatara wujud kebudayaan yang satu tidak bias dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.

2.6Komponen Kebudayaan
Berdasarkan wujudnya tersebut, kebudayaan dapat digolongkan atas dua komponen utama:
1.  Kebudayaan material
Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhiasan, senjata, dan seterusnya. Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televise, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.
2.  Kebudayaan nonmaterial
Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi kegenerasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.

2.7   Hubungan antara Unsur-unsur Kebudayaan  
Komponen-komponen atau unsure-unsur utama dari kebudayaan antara lain:
1. Peralatan dan Perlengakapan Hidup (Teknologi)
Teknologi merupakan salah satu komponen kebudayaan. Teknologi menyangkut cara-cara atau teknik memproduksi, memakai, serta memelihara segala peralatan dan perlengkapan . teknologi muncul dalam cara-cara manusia mengekspresikan rasa keindahan, atau dalam memproduksi hasil-hasil kesenian.
Masyarakat kecil yang berpindah-pindah atau masyarakat pedesaan yang hidup dari pertanian paling sedikit mengenal delapan macam teknologi tradisional (disebut juga system peralatan dan unsur kebudayaan fisik), yaitu:
a.  Alat-lata produktif
b.  Senjata
c.  Wadah
d.  Alat-alat menyalakan api
e.  Makanan
f.   Pakaian
g.  Tempat berlindung dan perumahan
h.  Alat-alat transportasi.

2.  Sistem Mata Pencaharian Hidup
Perhatikan para ilmuan pada sistem mata pencaharian ini terfokus pada masalah-masalah mata pencaharian tradisional aja, di anataranya:
a.  Berburu dan meramu
b.  Berternak
c.  Bercocok tanam di ladang
d.  Menangkap ikan

3.  Sistem Kekerabatan dan Organisasi Sosial
Sistem Kekerabatan merupakan bagian yang sangat penting dalam struktur sosial. Meyer Fortes mengemukakan bahwa sistem kekerabatan suatu masyarakat dapat dipergunakan untuk menggambarkan sturktur sosial dari masyarakat yang bersangkutan. Kekerabatan adalah unit-unit sosial yang terdiri dari bebrapa keluarga yang memiliki hubungan darah atau hubungan perkawinan. Anggota kekerabatan terdiri atas ayah, ibu, anak, menantu, cucu, kakak, adik, paman, bibi, kakek, nenek dan seterusnya. Dalam kajian sosiologi antropologi, ada beberapa macam kelompok kekerabatan dari yang jumlahnya relatif kecil hingga besar seperti keluarga ambilineal, klan, fatri, dan paroh masyarakat. Di masyarakat umum kita juga mengenal kelompok kekerabatan lain seperti keluarga inti, keluarga luas, keluarga bilateral, dan keluarga unilateral.
Sementara itu, organisasi sosial adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hokum maupun yang tidak berbadan hokum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan Negara. Sebagai makhluk yang selalu hidup bersama-sama, manusia membentuk organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat mereka capai sendiri.

4.   Bahasa
Bahasa adalah alat atau perwujudan budaya  yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi atau berhubungan, baik lewat tulisan, lisan, ataupun gerakan (bahasa isyarat), dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau kemauan kepada lawan bicaranya atau orang lain. Melalui bahasa, manusia dapat menyesuaikan diri dengan adat istiadat, tingkah laku, tata karma masyrakat, dan sekaligus mudah membaurkan dirinya dengan segala bentuk masyrakat.
Bahasa memiliki beberapa fungsi yang dapat dibagi menjadi fungsi umum dan fungsi khusus. Fungsi bahasa secara umum adalah sebagai alat untuk berekspresi, berkomunikasi dan alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi soaial. Sedangkan fungsi bahasa secara khusus adalah untuk mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari, mewujudkan seni (sastra), mempelajari naskah-naskah kuno, dan untuk mengeksploitasi ilmu pengetahuan dan teknologi.

5.  Kesenian
Kesenian mengacu pada nilai keindahan (estetika) yang berasal dari ekspresi hasrat manusia akan keindahan yang dinikmati dengan mata ataupun telinga. Sebagai makhluk yang mempunyai cita rasa tinggi, manusia menghasilkan berbagai corak kesenian mulai dari yang sederhana hingga perwujudan kesenian yang kompleks.

6.  Sistem Kepercayaan
Ada kalanya pengetahuan, pemahaman, dan daya tahan fisik manusia dalam menguasai dalam menguasai dan mengungkap rahasia – rahasia alam sangat terbatas. Secara bersamaan, muncul keyakinan akan adanya penguasa tertinggi dari sistem jagat raya ini, yang juga mengendalikan manusia sebagai salah satu bagian jagad raya. Sehubungan dengan itu, baik secara individual maupun hidup bermasyarakat, manusia tidak dapat dilepaskan dari religi atau sistem kepercayaan kepada penguasa alam semesta.
Agama dan sistem kepercayaan lainnya sering kali terintegrasi dengan kebudayaan. Agama (bahasa inggris:Religion, yang berasal dari bahasa latin religare, yang berarti menambatkan”), adalah sebuah unsur kebidanan yang penting dalam sejarah umat manusia. Dictionary of Philosophy and Religion (kamus filosopi dan agama) mendefinisikan Agama sebagai berikut :
Sebuah institusi dengan keanggotaan yang diakui dan bisa berkumpul bersama untuk beribadah, dan menerima sebuah paket doktrin yang menawarkan hal yang terkait dengan sikap yang harus diambil oleh individu untuk mendapatkan kebahagian sejati.
Agama biasanya memiliki suatu prinsip, seperti”10 Firman” dalam agama keristen “ 5 rukun Islam “ dalam Agama islam. Kadang-kadang agama dilibatkan dalam sistem pemerintahan , seperti misalnya dalam sistem teokrasi. Agama juga mempengaruhi kesenian.

2.8  Berbagai Agama dan Kepercayaan di dunia Kaitannya dengan Kebudayaan
1.  Agama samawi
Tiga agama besar, Yahudi, Keristen dan Islam, sering dikelompokkan sebagai agama samawi atau agama Abrahamik. Ketiga agama tersebut memiliki tradisi yang sama namun juga perbedaan-perbedaan yang mendasar dalam inti ajarannya. Ketiganya telah memberika pengaruh yang besar dalam kebudayaan manusia di berbagai belahan dunia.
Yahudi adalah salah satu agama, yang jika tidak disebut sebagi yang pertama, adalah agama monotheistic. Terdapat nilai-nilai dan sejarah umat Yahudi yang juga direferensikan dalam agama Abrahamik lainnya, seperti Keristen dan Islam.Saat ini umat Yahudi berjumlah lebih dari 13 juta jiwa.
Kristen (protestan dan katolik) adalah agama yang, banyak merubah wajah kebudayaan Eropa dalam 1.700 tahun terakhir. Pemikiran para filsuf modern pun banyak terpengaruh oleh para filsuf Kristen semacam St. Thomas Aquinas dan Erasmus. Saat ini diperkirakan terdapat antara 1,5 s.d. 2,1 miliyar pemuluk agama Kristen diseluruh dunia.
Islam memiliki nilai-nlilai dan norma agama yang banyak mempengaruhi Kebudayaan  Timur Tengah dan Afrika Utara, dan sebagian wilayah Asia Tenggara. Saat ini terdapat lebih dari 1,5 miliyar pemeluk agama islam di dunia.

2.  Agama dan Filosofi dari Timur
Agama dan Filosofi sering kali saling terkait satu sama lain pada kebudayan Asia. Agama dan filosofi di Asia kebanyakan berasal dari India dan China, dan sepanjang benua Asia melalui difusi kebudayaan dan migrasi.
Hinduisme adalah sumber dari Buddhisme, cabang Mahayana yang menyebar di sepanjang  utara dan timur india sampai Tibet, China, Mangolia, Jepang dan China selatan sampai Vetnam. Theravada buddhisme menyebar di sekitar Asia Tenggara, termasuk Sri langka, bagian barat laut China, Kamboja, Laos, Myanmar, dan Thailand.
Agama Hindu dari India, mengajarkan pentingnya elemen nonmateri sementara sebuah pemikiran India lainnya, Carvaka, menekankan untuk mencarai kenikmatan dunia .
Khonghucu dan Taoisme, dua filosofi yang berasal dari china, mempengaruhi baik religi, seni, politik, maupun tradiisi filosofi di seluruh Asia.
Pada abad ke-20, dikedua Negara berpenduduk paling padat se-Asia, dua aliran filosofi politik tercipta. Mahatma Gandha memberikan  pengertian baru tentang Ahmisa, inti dari kepercayaan hindu maupun Jaina, dan membrikan difinisi baru tentang konsep  antikekerasan dan anti perang. Pada priode yang sama, filosofi komonisme Mao Zadong menjadi sistem kepercayaan sekuler yang sangat kuat di China.

3. Agama Tradisional
Agama tradisional atau terkadang disebut sebagai “agama nenek moyang”,dianut oleh sebagian suku pedalaman di Asia,Afrika,dan Amerika. Pengaruh mereka cukup besar,mungkin bias dianggap telah menyerap kedalam kebudayaan atau bahkan menjadi agama Negara,seperti misalnya agama Shinto. Seperti kebanyakan agama lainya,agama lainnya,agama tradisional menjawab kebutuhan rohani manusia akan ketentraman hati di saat bermasalah,tertimpa musibah,dan menyediakan ritual yang ditujukan untuk kebahagiaan manusia itu sendiri.

4. “American Dream”
American Dream atau “mimpi orang Amerika” dalam bahasa Indonesia adalah sebuah kepercayaan yang dipercayai oleh banyak orang di Amerika Serikat. Mereka percaya melalui kerja keras,pengorbanan dan kebulatan tekad tanpa memperdulikan status social,seseorang dapat mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Gagasan ini berakar dari sebuah keyakinan bahwa Amerika Serikat adalah sebuah “kota di atas bukit”(atau city upon a hill) “cahaya untuk nega-negara”( a light unto the nations),yang memiliki nilai dan kekayaan yang telah ada sejak kedatangan para penjajah Eropa sampai generasi berikutnya.

5. Pernikahan
Agama sering kali mempengaruhi pernikahan dan perilaku seksual. Kebanyakan gereja Kristen memberikan pemberkatan kepada pasangan yang menikah,gereja biasanya memasukkan acara pengucapan janji pernikahan dihadapan tamu,sebagai bukti bahwa komunitas tersebut menerima pernikahan mereka. Umat Kristen juga melihat hubungan antara Yesus Kristus dangan gerejanya. Gereja katolik Roma mempercayai bahwa sebuah perceraian adalah salah dan orang yang bercerai tidak dapat dinikahkan kembali di gereja. Sementara agama Islam memandang pernikahan sebagai suatu kewajiban. Islam menganjurkan untuk tidak melakukan perceraian namun memperbolehkannya.
2.9  Ilmu Pengetahuan dan Perubahan Sosial Budaya
Sistem Ilmu dan Pengetahuan
Secara sederhana pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia tentang benda,sifat,keadaan,dan harapan-harapan. Pengetahuan dimiliki oleh semua suku bangsa di dunia. Mereka memperoleh pengetahuan melalui pengalaman,intuisi,wahyu,dan berpikir menurut logika atau percobaan-percobaan yang bersifat empiris (trial and error).
Sistem pengetahuan tersebut dikelompokkan menjadi ;
a.  Pengetahuan tentang alam
b.  Penagetahuan tentang tumbuh-tumbuhan dan hewan disekitarnya

2.10  Kebudayaan dan Pengobatan Tradisional
Masing-masing kebudayaan memiliki berbagai pengobatan untuk penyembuhan anggota masyarakatnya yang sakit. Berbeda dengan ilmu kedokteran yang menganggap bahwa penyebab penyakit adalah kuman, kemudian diberi obat antibiotika dan obat tersebut dapat mematikan kuman penyebab penyakit. Pada masyarakat tradisional, tidak semua penyakit itu disebabkan oleh penyebab biologis. Kadangkala mereka menghubung-hubungkan dengan sesuatu yang gaib, sihir, roh jahat atau iblis yang mengganggu manusia dan menyebabkan sakit.
Banyak suku di Indonesia menganggap bahwa penyakit itu timbul akibat guna-guna. Orang yang terkena guna-guna akan mendatangi dukun untuk meminta pertolongan. Masing-masing suku di Indonesia memiliki dukun atau tetua adat sebagai penyembuh orang yang terkena guna-guna tersebut. Cara yang digunakan juga berbeda-beda masing-masing suku. Begitu pula suku-suku di dunia, mereka menggunakan pengobatan tradisional masing-masing untuk menyembuhkan anggota sukunya yang sakit.
Suku Azande di Afrika Tengah mempunyai kepercayaan bahwa jika anggota sukunya jari kakinya tertusuk sewaktu sedang berjalan melalui  jalan biasa dan dia terkena penyakit tuberkulosis maka dia dianggap terkena serangan sihir. Penyakit itu disebabkan oleh serangan tukang sihirdan korban tidak akan sembuh sampai serangan itu berhenti.
Orang Kwakuit di bagian barat Kanada percaya bahwa penyakit dapat disebabkan oleh dimasukkannya benda asing ke dalam tubuh dan yang terkena dapat mencari pertolongan ke dukun. Dukun itu biasa disebut Shaman. Dengan suatu upacara penyembuhan maka Shaman akan mengeluarkan benda asing itu dari tubuh pasien.

2.11Implementasi Sosial Budaya dan Pengaruhnya Terhadap Kesehatan Masyarakat
Nilai-nilai sosial  budaya banyak ditemukan pada tradisi-tradisi yang turun-temurun mempengaruhi pola pikir dan cara pandang kita dalam melakukan sesuatu, begitu juga pengaruhnya dengan kesehatan masyarakat. Berikut beberapa contoh yang dapat dijadikan pembanding seberapa besar pengaruh sosial budaya dalam praktik kesehatan masyarakat.
a.  Pengaruh social budaya pada saat kehamilan
1)  Enggannya ibu hamil memeriksakan kehamilannya pada bidan di puskesmas atau sarana kesehatan lainnya. Mereka lebih senang memeriksakan kehamilannya dengan dukun kampung karena dianggap sudah terpercaya dan turun-temurun dilakukan. Padahal, dukun kampung tersebut tidak memiliki pengetahuan standar dalam pelayanan kehamilan yang normal.
2)  Pada saat hamil, ibu hamil dilarang makan ikan, telur atau makanan bergizi lainnya karena dipercaya akan menimbulkan bau amis saat melahirkan. Hal ini sebenarnya tidak perlu dilakukan karena berbahaya bagi kesehatan ibu dan dapat mengakibatkan ibu kekuran gan asupan gizi akan protein yang terkandung pada ikan

b.  Pengaruh sosial pada masa kelahiran
1)  Pemberian kunyit atau bahan dapur lain pada tali pusar yang sudah dipercaya turun-temurun. Kemudian, menekan tali pusar tersebut dengan logam. Hal ini tidak boleh dilakukan karena sebenarnya akan mengakibatkan iritasi dan infeksi kuman pada tali pusar bayi baru lahir.
2)  Apabila proses persalinan yang ditolong dukun kampung menyebabkan kematian ibu atau anak. Maka hal itu dianggap wajar karena dipercaya ibu hamil telah melanggar pantangan yang diberikan oleh si dukun.
3)   Plasenta bayi baru lahir,setelah di cuci hendak nya di injak dulu oleh kakaknya jika bayi tsb memiliki kakak. Jika mempercayai mitos tersebut jika tidak terpenuhi malah akan timbul beban pada keluarga, jadi sebaik nya tidak dilakukan.
4)  Plasenta bayi di beri sisir,gula merah, kelapa,pensil,kertas,dan kembang tujuh rupa kemudian di masukkan ke dalam kendi baru dikuburkan. Jika mempercayai mitos tersebut ,jika tidak terpenuhi malah akan timbul beban pada keluarga.  Jadi sebaik nya tidak dilakukan.
5)   Pusar bayi yang puput di simpan dan jika bayi sudah besar,pusat tersebut bisa jadi obat untuk bayi,caranya tali pusat di rendam dan di minum kan kepada si bayi. Mitos seperti ini malah merugikan karna jika sampai terminum oleh bayi maka akan membiarkan mikroorganisme yang ada di plasenta akan masuk ke tubuh bayi.
6)  Wanita-wanita Hausa yang tinggal di sekitar Zaria Nigeria utara, secara tradisi memakan garam kurang selama priode nifas, untuk meningkatkan produksi air susunya. Merka juga menganggap bahwa hawa dingin adalah penyebab penyakit. Oleh sebab itu mereka memanasi tubuhnya paling kurang selama 40 hari setelah melahirkan. Diet garam yang berlebihan dan hawa panas, merupakan penyebab timbulnya kegagalan jantung. Faktor budaya disini adalah kebiasaan makan garam yang berlebihan dan memanasi tubuh adalah faktor pencetus terjadinya kegagalan jantung.

c.  Pengaruh sosial budaya terhadap pelayanan kesehatan
1)  Pengobatan tradisional biasanya mengunakan cara-cara menyakitkan seperti mengiris-iris bagian tubuh atau dengan memanasi penderita,akan tidak puas hanya dengan memberikan pil untuk diminum. Hal tersebut diatas bisa menjadi suatu penghalang dalam memberikan pelayanan kesehatan, tapi dengan berjalannya waktu mereka akan berfikir dan menerima.
2)   Contoh lain dari Papua Nugini dan Nigeria. ”pigbel” sejenis penyakit berat yang dapat menimbulkan kematian disebabkan oleh kuman clodistrium perfringens type C. Penduduk papua Nugini yang tinggal didaratan tinggi biasanya sedikit makan daging. Oleh sebab itu, cenderung untuk menderita kekurangan enzim protetase dalam usus. Bila suatu perayaan tradisional diadakan, mereka makan daging babi dalam jumlah banyak tapi tungku tempat masaknya tidak cukup panas untuk memasak daging dengan baik sehingga kuman clostridia masih dapat berkembang. Makanan pokok mereka adalah kentang, mengandung tripsin inhibitor, oleh sebab itu racun dari kuman yang seharusnya terurai oleh tripsin, menjadi terlindung. Tripsin inhibitor juga dihasilkan oleh cacing ascaris yang banyak terdapat pada penduduk tersebut. Kuman dapat  juga berkembang dalam daging yang kurang dicernakan, dan secara bebas mengeluarkan racunnya.
3)  Bentuk pengobatan yang di berikan biasanya hanya berdasarkan anggapan mereka sendiri tentang bagaimana penyakit itu timbul. Kalau mereka menganggap penyakit itu disebabkan oleh hal-hal yang supernatural atau magis, maka digunakan pengobatan secara tradisional. Pengobatan modern dipilih bila meraka duga penyebabnya adalah fator ilmiah. Ini dapat merupakan sumber konflik bagi tenaga kesehatan, bila ternyata pengobatan yang mereka pilih berlawana denganpemikiran secara medis.
4)   Masyarakat pada umumnya menyatakan bahwa sakit panas dan kejang-kejang disebabkan oleh hantu. Di Sukabumi disebut hantu gegep, sedangkan di Sumatra Barat disebabkan hantu jahat. Di Indramayu pengobatannya adalah dengan dengan pergi ke dukun atau memasukkan bayi ke bawah tempat tidur yang ditutupi jaring tanpa membawa ke pelayanan kesehatan.
5)   Banyak masyarakat pedalaman tidak mempercayai kemampuan petugas kesehatan karena kurangnya informasi yang mereka dapatkan di tempat terpencil. Mereka lebih senang melakukan ritual-ritual khusus saat terserang penyakit daripada datang ke unit kesehatan terdekat.
6)  Masih banyaknya masyarakat yang enggan melakukan pencegahan kehamilan atau pelayanan Keluarga Berencana karena bertentangan dengan budaya ataupun kepercayaan yang dianut. Sehingga mereka cenderung memilih memiliki anak banyak. Hal ini sebenarnya merugikan karena dapat menimbulkan ledakan penduduk dan ketidakseimbangan jumlah populasi masyarakat di Indonesia dengan kesempatan kerja yang tersedia.
7)  Masih minimnya kepedulian masyarakat tentang pemahaman konsep sehat sakit. Mereka menganggap sakit adalah keadaan jika sama ssekali tidak dapat melakukan aktifitas. Bahkan mereka tidak senang mencegah penyakit melainkan hanya bersifat pengobatan sehingga seringkali baru dilakukan pengobatan saat kondisinya parah sehingga tingkat kesembuhannya sangat kecil.






















BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Kebudayaan atau disebut juga kultur merupakan keseluruhan cara hidup manusia sebagai warisan sosial yang diperoleh individu dari kelompoknya. Pengetahuan tentang suatu kebudayaan tertentu dapat digunakan untuk meramalkan berbagai kepercayaan dan perilaku anggotanya, termasuk hal yang berkaitan dengan kesehatan. Untuk itu petugas kesehatan perlu mempelajari kebudayaan sebagai upaya mengetahui perilaku masyarakat di kebudayaan tersebut sehingga dapat turut berperan serta memperbaiki status kesehatan di masyarakat. Kebudayaan dalam hubungannya dengan kesehatan sangat berpengaruh terlebih apabila terdapat penetrasi kebudayaan, yang dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara, yaitu penetrasi secara damai dan kekerasan. Hal ini dapat membawa pengaruh yang baik bahkan yang buruk.
Perkembangan kebudayaan individu juga mempengaruhi kesehatan masyarakat. Setiap individu memiliki pemikiran dan cara sendiri dalam memilih ketika ia dihadapkan pada kebudayaan yang berbeda, yaitu dengan cara Monokulturalisme, Letikultur, Melting pot, dan Multikulturalisme. Untuk mempelajari kebudayaannya sendiri, individu memiliki beberapa proses, yaitu Proses Internalisasi, Proses Sosialisasi, Proses Enkulturasi, Proses Evolusi Sosial, Proses Difusi, Akulturasi dan Pembaruan atau Asimilasi, dan Pembaruan (Innovasi)
Perkembangan sosial budaya mempengaruhi perkembangan agama, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pengobatan. Jadi, dapat disimpulkan kesehatan masyarakat tergantung dari bagaimana peran sosial budaya itu sendiri dan beberapa aspek lain yang mempengaruhinya.

3.2.Saran
Semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi pembaca dan apabila ada kekurangan, kami mohon saran dan kritik membangun sehingga dapat kami tingkatkan dikemudian hari.



DAFTAR PUSTAKA
Syafrudin, Mariam. 2010. SOSIAL BUDAYA DASAR Untuk Mahasiswa Kebidanan. Jakarta : Trans Info Media
Yunus, Rachmah, dkk. 2010. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar Untuk Kebidanan. Yogyakarta : Fitramaya
Usman, Pelly. Pengukuran Intensitas Konflik Dalam Masyarakat Majemuk; Jurnal Antropologi Sosial Budaya ETNOVISI•Vol. 1•No.2•Oktober 2005 hal: 5-6
Dikutip dari tulisan, Multikulturalisme, Demokrasi, Dan Pendidikan, Shodiq M. Hum disampaikan pada pelatihan Pendidikan Multikulturalisme Untuk Guru-guru Madrasah










Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Your CommEnT........