Kontes SEO Gudangpoker.com

Kunjungi

Sabtu, 07 November 2009

Cindy Rera 2


Lucid Atray, dia adalah orang yang ku sayangi. Memang dengan profesinya sebagai artis, itu mempersulit kami bertemu. Tapi aku merasa itu bukanlah suatu halanggan. Karena sejak hari itu, lucid memenuhi pikiranku.
Saat itu, aku masih ingat dengan jelas. Lucid datang ke arahku. Yang saat itu aku barusan membeli keperluan panti.
” hei siapa kau?” tanyanya tapi tak kupedulikan dengan melewatinya.
” aku tanya sekali lagi, kau ini siapa?”
Responku tetap. Aku masih melanjutkan langkahku pergi melewatinya. Sedang dia, masih berkata ” siapa kau”.
Tapi tiba-tiba dia mendahuluiku. Kemudian memelukku.
” tolong bantu aku, sebentar saja” katanya berbisik saat dia memelukku.
Aku ingin memberontak saaat itu. Tapi tak sanggup. Pelukkannya terlalu hangat untukku, untuk seseorang yang tidak pernah mendapat pelukan sepertiku. Aku hanya diam menikmati.
Kudengar sayup-sayup langkah beberapa orang melewati kami, sambil berteriak ” kemana dia” dan menyebut nama ” lucid”.
Setelah hampir sepuluh menit, kehangatan itu kurasakan. Kemudian setelah itu pemuda yang sekarang kukenal sebagai lucid itu, melepaskan lengannya yang tadi memelukku erat.
” maaf, aku tadi..........”
Belum sempat dia menjelaskan, aku malah menamparnya. Duh aku binggung, kenapa juga aku menamparnya. Aku tersentak kaget, begitu juga dia, lalu aku beranjak pergi, tanpa memikirkan bagaimana nasibnya.
Dia menarik tanganku. Erat sekali. Sampai tanganku sakit.
” lepaskan!!!! Atau aku teriak, lelaki mesum!!!” ancamku.
Dia hanya memberikan tatapan sinis padaku. Jelas saja aku ketakutan. Kemudian dia menarik kencang tubuhku. Entah dimanan dia akan menarikku. Setelah kusadari, dia membawaku pulang ke panti.
Di depan pintu itulah baru dia melepaskan cengkramannya. Membekas di pergelanggan tanganku. Tatapannya beda saat melihat gedung panti. Begitu miris.
Mungkin saat itu dia telah merebut perhatianku padanya, tapi aku masih tak bersedia.
” orang asing, kau mau berbuat jahat disini ya?”
” hahahaaaaaa............. kau ini ada-ada saja, Gadis bodoh. Aku hanya kagum saja kau ternyata tinggal di tempat seperti ini. Asal tahu saja aku masih berbuat baik padamu. Ini dompetmu.”
“ah……..terima kasih”
“ asal kamu tahu saja, maaf sebelumnya aku tadi memelukmu. Aku hanya perlu bantuanmu sebentar, untuk meloloskan diri dari mereka”
Aku masih tidak percaya dengan semua ini. Setelah dia berbalik, baru kusadari, tubuh tegap yang ditutupi jaket tebal itu sepertinya ku kenal.
” umh tunggu!!!!”
” ada apalai?”
Aku masih malu menatapnya. Aku salah mengartikan tindakannya. Aku malu sekali sampai menundukkan kepala.
” wah...wah..........kakak ini pacarnya kak rera yah?”
” masuk yuk kak,,,,,”
” iya masuk kedalam”
” ayo masuk, bermain bersama kami”
Tanpa sadar seluruh adik-adikku keluar panti, dan menarik-narik celana lucid.
Akhirnya, dia malah jadi membantuku untuk menidurkan adi-adikku. Dia juga sepertinya lelah.
” terima kasih” kataku sambil menyodorkan segelas minuman.
” mereka mengasyikkan”
” umh, ya begitulah”
” boleh aku kesini setiap hari?”
” itu kalau kamu mau?”
” terima kasih”
Sejak saat itu aku tahu, lucid orang yang baik. Setiap kedatangannya dia selalu membawa hadiah, mainan, dan sejumlah uang untuk kami hidup. Tapi aku tak bisa terus begini. Aku tak boleh mengantungkan lucid. Aku harus mandiri.
” terima kasih ya untuk semuanya”
” justru aku yang harusnya berterima kasih padamu. Kau memberiku semua yang tak bisa kudapatkan dulu. Kesenangan, kebersamaan, waktu luang, dan........”
Aku hanya bisa heran padanya. Dia memang sungguh baik. Tapi kalau ini terlalu baik namanya.
___>_<___

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Your CommEnT........