Kontes SEO Gudangpoker.com

Kunjungi

Minggu, 20 Januari 2013

Kasus Pemenuhan Kebutuhan Cairan


KETERAMPILAN DASAR KEBIDANAN
KASUS II




















OLEH:
SEMESTER I KELOMPOK III
KELAS NON REGULER


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN
SURABAYA
PRODI KEBIDANAN KAMPUS BANGKALAN
2012 / 2013
NAMA KELOMPOK

                        1. Agnes Ayu Kartika Dewi               (17 / NONREG)
                        2. Anggraini Lutfi Yana                     (18 / NONREG)
                        3. Ilmiyah                                            (19 / NONREG)
                        4. Ladya Ismi Liana                            (20 / NONREG)
                        5. Azzah Izdihar                                 (21 / NONREG)
                        6. Devy Alrina Sari                             (22 / NONREG)
                        7. Dwi Kartika Sari                             (23 / NONREG)
                        8. Dwi Ajeng Prameylia                      (24 /  NONREG )

















KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas terselesaikannya makalah kami mengenai kasus II pada pelajaran Keterampilan Dasar Kebidanan.
Makalah ini disusun sesederhana mungkin agar lebih mudah dipahami tentang bagaimana kebutuhan cairan dan elektrolit bagi tubuh .Tanpa kita sadari betapa sangat berartinya organ tubuh kita, dari itu kita harus tahu bagaimana kebutuhan cairan dan elektrolit.Penulis mengharapkan semoga makalah ini dapat memberi manfaat dan pengetahuan tentang kebutuhan cairan dan elektrolit bagi tubuh.
Mudah-mudahan dengan adanya makalah ini, dapat memberi manfaat kepada para pembaca sebagai dasar untuk lebih memudahkan dalam mempelajari Keterampilan Dasar Kebidanan lebih lanjut. Kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan Makalah ini sehingga dapat terselesaikan dengan mudah karena dukungan dan doa yang telah diberikan, penyusun mengucapkan banyak terima kasih. Segala saran untuk penyempurnaan makalah ini sangat diharapkan dan dengan ini diucapkan banyak terima kasih.Wassalam.






Bangkalan, 30 November 2012



                                                                                                                        Penulis






DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL………………………………….....................……….................…..1
NAMA KELOMPOK...............................................................................................................2
KATA PENGANTAR……………………………………………………......................……3
DAFTAR ISI……………...............…………………………………………..………………4
BAB I. PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang ………………………………………………......…………………....….5
1.2  Perumusan Masalah………………….....…………………………………………….......5
1.3  Tujuan Penulisan......................................…………………………………………..........6
BAB II. PEMBAHASAN
2.1 Istilah-istilah Medis yang Ada Pada Kasus Ny. Monik Beserta Definisi dan Pengertian Masing-masing...................................................................................................................7
2.2 Fisiologi Keseimbangan Cairan dan Elektrolit..........................................................…..7
2.3 Jumlah Kebutuhan Cairan dan Elektrolit yang dibutuhkan Tubuh pada Kondisi Normal......................................................................................……………........………13
2.4 Identifikasi Tanda-Tanda dari Hipovolomik Shock yang dialami Ny. Monik..................14
2.5Gangguan/ Masalah Keseimbangan Cairan dan Elektrolit yang dapat Terjadi pada Ny. Monik Selain Hipovolomik Shock...........................................................................15
2.6Penyebab Terjadinya Gangguan Keseimbangan pada Cairan Tubuh dan Elektrolit........24
2.7 Persiapan yang perlu di lakukan sebelum tindakan infus dan tranfusi darah...................28
BAB III. PENUTUP
3.1 Kesimpulan…………………………………………………………………….......31
3.2 Saran………………………………………………………………………………..32
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................33
BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
     Ny. Monik, umur 36 tahun, dirawat di IRNA C dengan Diagnose (Dx) Retentio Plasenta dan Perdarahan Post Partum / HPP (Haemorargia Post Partum). Saat datang K/u (Keadaan Umum) sangat lemah dengan tanda-tanda Hipovolomik Shock. Saat ini Ny. Monik sedang di Infus RL (Ringer Lactat) dengan tetesan grojok, dan direncanakan untuk dilakukan tranfusi.

1.2  Rumusan Masalah

1.2.1                  Identifikasi istilah-istilah medis yang ada pada kasus Ny. Monik diatas dan            tuliskan pengertian atau definisi masing-masing istilah tersebut?
1.2.2                  Jelaskan tentang fisiologi keseimbangan cairan dan elektrolit, komposisi dan jenis cairan tubuh pada keadaan normal?
1.2.3                  Tentukan jumlah kebutuhan cairan dan elektrolit yang dibutuhkan tubuh pada        kondisi normal?
1.2.4                  Identifikasi tanda-tanda dari Hipovolomik Shock yang dialami Ny. Monik?
1.2.5                  Selain Hipovolomik Shock gangguan / masalah keseimbangan cairan dan    elektrolit apa saja yang dapat terjadi pada Ny. Monik?
1.2.6                  Selain perdarahan, apa sajakah yang dapat menyebabkan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit?
1.2.7                  Persiapan apa saja yang diperlukan sebelum tindakan infus dan tranfusi darah?

1.3  Tujuan

1.3.1                  Untuk mengetahui istilah-istilah medis yang ada pada kasus Ny. Monik beserta      pengertian dan definisi masing-masing
1.3.2                  Untuk mengetahui tentang fisiologi keseimbangan cairan dan elektrolit,      komposisi dan jenis cairan tubuh pada keadaan normal
1.3.3                  Mengetahui jumlah kebutuhan cairan dan elektrolit yang di butuhkan tubuh            pada kondisi normal
1.3.4                  Untuk mengetahui tanda-tanda dari Hipovolmik Shock yang di alami Ny. Monik
1.3.5                  Untuk mengetahui gangguan / masalah keseimbangan cairan dan elektrolit apa       saja yang dapat terjadi pada Ny. Monik selain Hipovolmik Shock
1.3.6                  Untuk Mengetahui apa sajakah yang dapat menyebabkan gangguan            keseimbangan cairan dan elektrolit selain disebabkan oleh pendarahan
1.3.7                  Untuk mengetahui Persiapan apa saja yang diperlukan sebelum tindakan infus        dan tranfusi darah

















BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Istilah-istilah Medis yang Ada Pada Kasus Ny. Monik Beserta Definisi dan Pengertian Masing-masing
2.1.1 Plasenta Lengket (Retensio Plasenta) adalah terlambatnya kelahiran plasenta selama setengah jam setelah kelahiran bayi, atau 1 -2 jam post partum tanpa perdarahan yang berlebihan jika home birth Plasenta harus dikeluarkan karena dapat menimbulkan bahaya perdarahan dan infeksi.
2.1.2 Perdarahan pasca persalinan atau perdarahan post partum adalah perdarahan melebihi 500 ml yang terjadi setelah bayi lahir.
2.1.3 Syok hipovolemik adalah suatu keadaan serius yang terjadi akibat penurunan volume darah. Syok Hipovolemikterjadi jika volume darah tidak adekuat untuk mengisi rongga intravascular.
2.1.4 Infus merupakan cairan solusio untuk mengganti cairan tubuh, sebagai keseimbangan cairan elektrolit dan terapi shock. Tersedia dalam kemasan 250, 500, 1000 ml bags. Ringer’s laktat (RL) mengandung 40 – 50 ml/kg NaCl 0,6 g, CaCl dihidrat 0,02 g, KCl 0,03 g, Sodium laktat 0,31 g (Kirk&Bistner,1985).

2.2 Fisiologi Keseimbangan Cairan dan Elektrolit

              Pengaturan kebutuhan cairan dan elektrolit dalam tubuh diatur oleh ginjal, kulit, paru-paru, dan gastrointestinal.
1.    Ginjal

     Ginjal merupakan organ yang memiliki peran cukup besar dalam pengaturan kebutuhan cairan dan elektrolit.Hal ini terlihat pada fungsi ginjal yakni sebagai pengatur air, pengatur konsentrasi garam dalam darah, pengatur keseimbangan asam basadarah, dan pengaturan ekskresi bahan buangan atau kelebihan garam.
      Proses pengaturan kebutuhan keseimbangan air ini diawali oleh kemampuan bagian ginjal seperti glomerulus sebagai penyaring cairan. Rata-rata setiap satu liter darah mengandung 500 cc plasma yang mengalir melalui glomerulus, 10 persennya disaring keluar. Cairan yang tersaring (filtrate glomerulus), kemudian mengalir melalui tubuli renalis yang sel-selnya menyerap semua bahan yang dibutuhkan.Jumlah urine yang diproduksi ginjal dapat dipengaruhi oleh ADH dan aldosteron dengan rata-rata 1 ml/kg/bb/jam.

2.    Kulit

     Kulit merupakan bagian penting dalam pengaturan cairan yang terkait dengan proses pengaturan panas. Proses ini diatur oleh pusat pengatur panas yang disarafi oleh vasomotorik dengan kemampuan mengendalikan arteriola kutan dengan cara vasodilatasi dan vasokonstriksi. Banyaknya darah yang mengalir melalui pembuluh darah dalam kulit memengaruhi jumlah keringat yang dikeluarkan. Proses pelepasan panas kemudian dapat dilakukan dengan cara penguapan.
     Keringat merupakan sekresi aktif dari kelenjar keringat di bawah pengendalian saraf simpatis.Melalui kelenjar keringat ini suhu dapat diturunkan dengan melepaskan air yang jumlahnya kurang lebih setengah liter sehari.Perangsangan kelenjar keringat dapat diperoleh aktivitas otot, suhu lingkungan, dan melalui kondisi tubuh yang panas.
     Proses pelepasan panas lainnya dilakukan melalui pemancaran, yaitu dengan melepaskan panas ke udara sekitarnya. Cara tersebut berupa cara konduksi dan konveksi. Cara konduksi yaitu pengalihan panas ke benda yang disentuh, sedangkan cara konveksi yaitu mengalirkan udara yang telah panas ke permuaaan yang lebih dingin.
3. Paru-Paru
     Organ paru-paru berperan dalam pengeluaran cairan dengan menghasilkan insensible water loss ± 400 ml/hari. Proses pengeluaran cairan terkait dengan respons akibat perubahan frekuensi dan kedalaman pernapasan (kemampuan bernapas), misalnya orang yang melakukan olahraga berat.
4. Gastrointestinal
     Gastrointestinal merupakan organ saluran pencernaan yang berperan dalam mengeluarkan cairan melalui proses penyerapan dan pengeluaran air. Dalam kondisi normal, cairan yang hilang dalam system ini sekitar 100-200 ml/ hari.Selain itu, pengaturan keseimbangan cairan dapat melalui mekanisme rasa haus yang dikontrol oleh system endokrin (hormonal), yakni anti diuretic hormone (ADH), system aldosteron, prostaglandin, dan glukokortikoid.
1. ADH
     Hormon ini memiliki peran dalam meningkatkan reabsorpsi air sehingga dapat mengendalikan keseimbangan air dalam tubuh. Hormon ini dibentuk oleh hipotalamus yang ada di hipofisis posterior mensekresi ADH dengan  meningkatkan osmolaritas dan menurunkan cairan ekstrasel.
2. Aldosteron
     Hormon ini disekresi oleh kelenjar adrenal di tubulus ginjal dan berfungsi pada absorbs natrium. Proses pengeluaran aldosteron ini diatur oleh adanya perubahan konsentrasi kalium, natrium, dan system angiotensin renin.
3. Prostaglandin
     Prostaglandin merupakan asam lemak yang terdapat pada jaringan yang berfungsi merespons radang, pengendalian tekanan darah, kontraksi uterus, dan pengaturan pergerakan gastrointestinal.Pada ginjal, asam lemak ini berperan dalam mengatur sirkulasi ginjal.
4. Glokokortikoid
     Hormon ini berfungsi mengatur peningkatan reabsorpsi natrium dan air yang menyebabkan volume darah meningkat sehingga terjadi retensi natrium.
     Mekanisme rasa haus diatur dalam rangka memenuhi kebutuhan cairan dengan merangsang pelepasan renin.Pelepasan renin tersebut dapat menimbulkan produksi angiotensin II yang merangsang hipotalamus, sehingga menimbulkan rasa haus.
Kebutuhan Cairan Tubuh bagi Manusia
     Kebutuhan cairan merupakan bagian dari kebutuhan dasar manusia secara fisiologis kebutuhan ini memiliki proporsi besar dalam bagian tubuh dengan hamper 90% dari total berat badan. Sementara itu, sisanya merupakan bagian padat dari dalam tubuh. Secara keseluruhan, persentase cairan tubuh berbeda berdasarkan usia. Persentase cairan tubuh bayi baru lahir sekitar 75% dari total berat badan, pria dewasa 57% dari total berat badan, wanita dewasa 55% dari total berat badan, dan dewasa tua 45% dari total berat badan. Selain itu, persentase jumlah cairan tubuh yang bervariasi juga bergantung pada lemak dalam tubuh dan jenis kelamin.Jika lemak dalam tubuh sedikit, maka cairan tubuh pun besar.Wanita dewasa mempunyai jumlah cairan tubuh lebih sedikit disbanding pada pria, karena jumlah lemak dalam tubuh wanita dewasa lebih banyak dibandingkan dengan lemak dalam tubuh pria dewasa.
Tabel 4.1 Kebutuhan air berdasarkan usia dan berat badan
Usia
Kebutuhan Air
Jumlah Air dalam 24 jam
ml/kg Berat Badan
3 hari
1 tahun
2 tahun
4 tahun
10 tahun
14 tahun
18 tahun
Dewasa
250-300
1150-1300
1350-1500
1600-1800
2000-2500
2200-2700
2200-2700
2400-2600
80-100
120-135
115-125
100-110
70-85
50-60
40-50
20-30

Sumber.Behrman dkk.1996

Cara Perpindahan Cairan

1.    Difusi

     Difusi merupakan bercampurnya molekul-molekul dalam cairan, gas, atau zat padat secara bebas atau acak. Proses diusi dapat terjadi bila dua zat bercampur dalam sel membran. Dalam tubuh, proses difusi air, elektrolit, dan zat-zat lain terjadi melalui membran kapiler yang permeabel. Kecepatan proses difusi bervariasi bergantung pada factor ukuran molekul, konsentrasicairan, dan temperatur cairan.
     Zat dengan molekul yang besar akan bergerak lambat dibanding molekul kecil. Molekul akan lebih mudah berpindah dari larutan berkonsentrasi tinggi ke larutan berkonsentrasi rendah. Larutan dengan konsentrasi yang tinggi akan mempercepat pergerakan molekul, sehingga proses difusi berjalan lebih cepat.

2.    Osmosis

     Osmosis adalah proses perpindahan pelarut murni (seperti air) melalui membran semipermeabel, biasanya terjadi dari larutan dengan konsentrasi yang kurang pekat  ke larutan dengan konsentrasi lebih pekat, sehingga larutan yang berkonsentrasi rendah volumenya akan berkurang, sedangkan larutan yang berkonsentrasi  lebih tinggi akan bertambah volumenya. Solute adalah zat terlarut, sedangkan  solvent adalah pelarutnya. Garam adalah solute, sedangkan air merupakan solvent. Prose osmosis ini penting dalam pengaturan keseimbangan cairan ekstra dan intrasel. Osmolaritas adalah cara untuk mengukur kepekatan larutan dengan menggunakan satuan mol.
     Natrium dalam NaCl berperan penting dalam pengaturan keseimbangan cairan dalam tubuh. Apabila ada tiga jenis larutan garam dengan kepekatan yang berbeda dab di dalamnya di masukkan sel darah merah, maka larutan yang mempunyai kepekatan sama  dengan sel tersebut yang akan seimbang dan berdifusi lebih dahulu. Larutan isotonic merupakan larutan yang mempunyai kepekatan sama dengan larutan yang di campur. Larutan NaCl 0,9% merupakan larutan yang isotonik karena larutan tersebut mempunyai kepekatan yang sama dengan larutan dalam sistem vascular. Larutan hipotonik mempunyai kepekatan lebih rendah di banding dengan larutan intasel.

3.    Transpor Aktif

     Proses perpindahan cairan tubuh dapat menggunakan mekanisme transpor aktif. Transport aktif merupakan gerak zat yang akan berdifusi dan berosmosis yang memerlukan aktifitas metabolik dan pengeluaran energi untuk menggerakkan berbagai materi guna menembus membrane sel ( Potter, 1997). Proses ini dapat menerima / memindahkan molekul dari konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi. Proses ini penting untuk mempertahankan natrium dalam cairan intra dan ekstrasel. Sebagai contoh natrium dan kalium, dimana natrium di pompa keluar sel dan kalium di pompa masuk di dalam sel.

Faktor yang Berpengaruh dalam Pengaturan Cairan

            Proses pengaturan cairan di pengaruhi oleh dua factor yakni tekanan cairan dan membrane semipermeabel.

1.      Tekanan Cairan

     Proses difusi dan osmosis melibatkan adanya tekanan cairan. Dalam proses osmosis, tekanan osmotik merupakan kemampuan partikel pelarut untuk menarik larutan melalui membran. Bila terdapat dua larutan dengan perbedaan konsentrasimaka larutan yang konsentrasi molekulnya lebih pekat dan tidak dapat bergabung disebut koloid. Sedangkan larutan dengan kepekatan yang sama dan dapat bergabung, maka larutan itu disebut kristaloid. Sebagai contoh: koloid adalah apabila protein bercampur dengan plasma, sedangkan larutan kristaloid adalah larutan garam. Secara normal, perpindahan cairan menembus membrane sel permeabel tidak terjadi. Prinsip tekanan osmotic ini sangat penting dalam proses pemberian cairan intravena. Biasanya larutan yang sering di gunakan dalam pemberian infus intarvena bersifat isotonic karena mempunyai konsentrasi yang sama dengan plasma darah. Hal ini penting untuk mencegah perpindahan cairan dan elektrolit ke dalam intrasel.Larutan intravena yang hipotonik, yaitu larutan yang mempunyai konsentrasi kurang pekat disbanding dengan konsentrasi plasma darah. Hal ini menyebabkan tekanan osmotic plasma akan lebih besar dibandingkan dengan tekanan osmotic cairan interstisial karena konsentrasi protein dalam plasma lebih besar di banding cairan interstisial dan molekul protein lebih besar, sehingga membentuk larutan koloid dan sulit menenmbus membrane semipermiabel.
     Tekanan hidrostatik adalah kemampuan tiap molekul larutan yang bergerak dalam ruang tertutup.Hal ini penting untuk pengaturan keseimbangan cairan ekstra dan intrasel.

2.      Membran semipermiabel

     Merupakan penyaring agar cairan yang bermolekul besar tidak tergabung. Membrane semipermiabel ini terdapat pada dinding kapiler pembuluh darah, yang terdapat di seluruh tubuh sehingga molekul atau zat lain tidak berpindah ke jaringan.

Jenis Cairan

1.    Cairan zat gizi (nutrient)

Pasien yang istirahat di tempat tidur memerlukan kalori 450 kalori setiap hari. Cairan nutrient dapat di berikan melalui intar

2.3 Jumlah Kebutuhan Cairan dan Elektrolit yang dibutuhkan Tubuh pada Kondisi Normal

     Jumlah kebutuhan cairan dan elektrolit yang di butuhkan tubuh pada kondisi normal , kurang lebih 60% dari berat badan , 2/3 bagian berada di intrasel dan 1/3 bagian berada di ekstrasel  yang merupakan terdiri dari cairan dan elektrolit di dalam tubuh kita .
Ø  Kebutuhan cairan

     Kebutuhan cairan dewasa berkisar sekitar 2400-2600 jumlah air dalam 24 jam dan 20-30 ml/kg berat badan.
60%  berat badan tubuh adalah
-        Cairan intrasel (CIS) 40% dari berat badan.
-        Cairan ekstrasel (CES) 20% dari berat badan yang terdiri dari:
a.                   Cairan intravaskuler (plasma) 5 % dari berat badan.
b.                   Cairan interstisil 15 %  dari berat badan.

Ø  Kebutuhan elektrolit

     Elektrolit terdapat pada sseluruh cairan tubuh.Cairan tubuh mengandung oksigen,nutrien,dan sisa metabolisme yang semua nya di sebut oksigen.
-         Terdapat komposisi Elektrolit dalam plasma :
a.                   Dari CES :  Natrium   : 135-145 m Eq/L
Klorida            : 100-106 m Eq/L
b.                   Dari CIS  :  Kalium     : 3,5 – 5,5 mEq/liter
Phospat           : 3 – 4,5 mg/liter

     Pengukuran elektrolit dalam satuan mili ekuivalen per liter cairan tubuh atau miligram per 100ml (mg/100ml ).
2.4. Identifikasi Tanda-Tanda dari Hipovolomik Shock yang dialami Ny. Monik
     Gejala syok hipovolemik cukup bervariasi, tergantung pada usia, kondisi premorbid, besarnya volume cairan yang hilang, dan lamanya berlangsung. Kecepatan kehilangan cairan tubuh merupakan faktor kritis respons kompensasi.Pasien muda dapat dengan mudah mengkompensasi kehilangan cairan dengan jumlah sedang dengan vasokonstriksi dan takhikardia. Kehilangan volume yang cukp besar dalam waktu lambat, meskipun terjadi pada pasien usia lanjut, masih dapat ditolerir juga dibandingkan kehilangan dalam waktu yang cepat atau singkat. Apabila syok telah terjadi, tanda-tandanya akan jelas. Pada keadaan hipovolemia, penurunan darah lebih dari 15 mmHg dan tidak segera kembali dalam beberapa menit.

Adalah penting untuk mengenali tanda-tanda syok, yaitu:
1.    Kulit dingin, pucat, dan vena kulit kolaps akibat penurunan pengisian kapiler selalu berkaitan dengan berkurangnya perfusi jaringan.
2.    Takhikardia: peningkatan laju jantung dan kontraktilitas adalah respons homeostasis penting untuk hipovolemia. Peningkatan kecepatan aliran darah ke mikrosirkulasi berfungsi mengurangi asidosis jaringan.
3.    Hipotensi: karena tekanan darah adalah produk resistensi pembuluh darah sistemik dan curah jantung, vasokonstriksi perifer adalah faktor yang esensial dalam mempertahankan tekanan darah. Autoregulasi aliran darah otak dapat dipertahankan selama tekanan arteri turun tidak di bawah 70 mmHg.
4.    Oliguria: produksi urin umumnya akan berkurang pada syok hipovolemik. Oliguria pada orang dewasa terjadi jika jumlah urin kurang dari 30 ml/jam.

     Pada penderita yang mengalami hipovolemia selama beberapa saat, dia akan menunjukkan adanya tanda-tanda dehidrasi seperti:
a.        Turunnya turgor jaringan;
b.        Mengentalnya sekresi oral dan trakhea, bibir dan lidah menjadi kering
c.        Bola mata cekung.

2.5    Gangguan/ Masalah Keseimbangan Cairan dan Elektrolit yang dapat Terjadi pada Ny. Monik Selain Hipovolomik Shock

Gangguan Keseimbangan Elektrolit :

1.Hiponatremia

 Definisi   : kadar Na+ serum di bawah normal (< 135 mEq/L)
Karena      : CHF, gangguan ginjal dan sindroma nefrotik, hipotiroid, penyakit Addison
Tanda dan Gejala :
·      Jika Na plasma turun 10 mEq/L dalam beberapa jam, pasien mungkin mual, muntah,   sakit kepala dan keram otot.
·      Jika Na plasma turun 10 mEq/L dalam satu jam, bisa terjadi sakit kepala hebat, letargi, kejang, disorientasi dan koma.
Mungkin pasien memiliki tanda-tanda penyakit dasar (seperti gagal jantung, penyakit Addison).
·      Jika hiponatremia terjadi sekunder akibat kehilangan cairan, mungkin ada tanda-tanda syok seperti hipotensi dan takikardi

2.Hipernatremia

 Definisi   : Na+ serum di atas normal (>145 mEq/L)
Karena      : Kehilangan Na+ melalui ginjal misalnya pada terapi diuretik, diuresis osmotik, diabetes insipidus, sekrosis tubulus akut, uropati pasca obstruksi, nefropati hiperkalsemik; atau karena hiperalimentasi dan pemberian cairan hipertonik lain.
Tanda dan Gejala : iritabilitas otot, bingung, ataksia, tremor, kejang dan koma yang sekunder terhadap hipernatremia.




3. Hipokalemia

Definisi    : kadar K+ serum di bawah normal (< 3,5 mEq/L)

·       Etiologi
     Kehilangan K+ melalui saluran cerna (misalnya pada muntah-muntah, sedot nasogastrik, diare, sindrom malabsorpsi, penyalahgunaan pencahar)
  
·       Diuretik
Asupan K+ yang tidak cukup dari diet
Ekskresi berlebihan melalui ginjal
Maldistribusi K+
Hiperaldosteron

     Tanda dan Gejala : Lemah (terutama otot-otot proksimal), mungkin arefleksia, hipotensi ortostatik, penurunan motilitas saluran cerna yang menyebabkan ileus. Hiperpolarisasi myokard terjadi pada hipokalemia dan dapat menyebabkan denyut ektopik ventrikel, reentry phenomena, dan kelainan konduksi.EKG sering memperlihatkan gelombang T datar, gelombang U, dan depresi segmen ST.

4. Hiperkalemia

 Definisi   : kadar K+ serum di atas normal (> 5,5 mEq/L)

·       Etiologi :

     Ekskresi renal tidak adekuat; misalnya pada gagal ginjal akut atau kronik, diuretik hemat kalium, penghambat ACE.
    Beban kalium dari nekrosis sel yang masif yang disebabkan trauma (crush injuries), pembedahan mayor, luka bakar, emboli arteri akut, hemolisis, perdarahan saluran cerna atau rhabdomyolisis. Sumber eksogen meliputi suplementasi kalium dan pengganti garam, transfusi darah dan penisilin dosis tinggi juga harus dipikirkan.
    Perpindahan dari intra ke ekstraseluler; misalnya pada asidosis, digitalisasi, defisiensi insulin atau peningkatan cepat dari osmolalitas darah. Insufisiensi adrenal Pseudohiperkalemia. Sekunder terhadap hemolisis sampel darah atau pemasangan torniket terlalu lama Hipoaldosteron.

     Tanda dan Gejala : Efek terpenting adalah perubahan eksitabilitas jantung. EKG memperlihatkan perubahan-perubahan sekuensial seiring dengan peninggian kalium serum. Pada permulaan, terlihat gelombang T runcing (K+ > 6,5 mEq/L). Ini disusul dengan interval PR memanjang, amplitudo gelombang P mengecil, kompleks QRS melebar (K+ = 7 sampai 8 mEq/L). Akhirnya interval QT memanjang dan menjurus ke pola sine-wave. Fibrilasi ventrikel dan asistole cenderung terjadi pada K+ > 10 mEq/L. Temuan-temuan lain meliputi parestesi, kelemahan, arefleksia dan paralisis ascenden.

a.       Dehidrasi.

     Dehidrasi adalah suatu gangguan dalam keseimbangan air yang disertai output yang melebihi intake sehingga jumlah air pada tubuh berkurang. Meskipun yang hilang adalah cairan tubuh, tetapi dehidrasi juga disertai gangguan elektrolit.
            Dehidrasi dapat terjadi karena :
·       Kekurangan air ( water defletion)
·       Kekurangan Natrium ( sodium defletion)
·       Kekurangan air dan natrium secara bersama-sama.

Kekurangan air atau dehidrasi primer :

     Terjadi karena masuknya air sangat terbatas, misalnya pada pasien pendarahan post partum.Gejala-gejala khas pada dehidrasi primer adalah: haus, air liur sedikit sekali sehingga mulut kering, oliguria, sampai anuri, sangat lemah, timbulnya gangguan mental seperti halusinasi dan delirium.
     Pada stadium awal kekurangan cairan ion natrium dan klor ikut menghilang dengan cairan tubuh, tetapi akhirnya tertadi reabsorpsi ion melalui tubulus ginjal yang berlebihan, sehingga cairan ekstrasel mengandung natrium dan klor berlebihan dan terjadi hipertoni.
     Hal ini menyebabkan air keluar dari sel sehingga terjadi dehidrasi intrasel dan inilah yang menimbulkan rasa haus.Selain itu terjadi perangsangan pada hipofisis yang kemudian melepaskan hormon antidiuritik sehingga terjadi oliguria.

Dehidrasi sekunder (sodium defletion)

     Dehidrasi yang terjadi karena tubuh kehilangan cairan tubuh yang mengandung elektrolit.Kekurangan natrium sering terjadi akibat keluarnya cairan melalui saluran pencernaan pada keadaan muntah-muntah dan diare yang hebat. Hilangnya natrium melalui air kemih tidak biasa, tetapi dalam keadaan tertentu dapat terjadi seperti pada; penyakit addison, asidosis yang terjadi akibat diabetis, penyakit ginjal tertentu. Sering pada penyakit-penyakit ini diperberat dengan adanya muntah-muntah.

     Akibat kekurangan natrium terjadi hipotoni ektrasel sehingga tekanan osmotik menurun.Hal ini menghambat dikeluarkannya hormon antidiuretik sehingga ginjal mengeluarkan air, agar tercapai konsentrasi cairan ekstrasel yang normal.Akibatnya volume plasma dan cairan interstisial menurun. Selain itu, karena terdapat hipotoni ekstrasel, air akan masuk ke dalam sel.Gejala-gejala dehidrasi sekunder : nausea, muntah-munyah, kekejangan, sakit kepala, perasaan lesu dan lelah.

     Akibat turunnya volume darah maka cardiac output juga menurun, sehingga tekanan darah juga menurun dan sering menyebabkan pingsan kalau berdiri lama dan filtrasi glomerulos menurun, sehingga terjadi penimbunan nitrogen.Air kemih sebenarnya tidak mengandung natrium klorida, selain itu juga terjadi gangguan keseimbangan asam basa dan hemokonsentrasi.

·       Sumber masukan dan hilangnya cairan tubuh

1.    Intake cairan normal

Orang dewasa sehat memasukkan cairan normal sejumlah 90% dari intake cairan setiap harinya (sekitar 250 cc) . Sekitar 10% intake cairan (200-300 cc) dihasilkan dari produk metabolisme seluler

2.    Hilangnya cairan normal
    
     Balans cairan setiap hari dipertahankan, karena paru-paru, kulit, saluran cerna dan ginjal mengekresikan sejumlah cairan sama dengan intake cairan total . IWL (insensible water loss) adalah hilangnya cairan yang tidak dapat dilihat atau diukur dan terjadi melalui evaporasi dan respirasi (kira-kira 500 cc) . Sensiible Water Loss adalah hilangnya cairan yang dapat kita amati yaitu melalui urine keringat dan feces. Ginjal mengsekresikan air dalam urin kira-kira 800 - 1500 cc per hari.Hilangnya cairan melalui kulit sekitar 500 - 600 cc melalui keringat dan penguapan.Jumlah ini dapat bervariasi tergantung pada suhu lingkungan atau dalam tubuh individu.Karena kebanyakan air yang dihasilkan, oleh saluran cerna direabsorbsi, hilangnya air dalam feces sekitar 100 - 200 cc per hari. Karena output urine setiap hari hampir sama dengan sejumlah intake cairan, balans cairan individu dapat diperkirakan dengan membandingkan intake cairan oral dan output urine

·       Sumber masukkan dan pengeluaran elektrolit tubuh

1.      Masukkan elektrolit tubuh
Didaptkan dari masukkan cairan atau makanan yang masuk ke dalam tubuh   

2.  Ekresi elektrolit
Elektrolit dikeluarkan selama eliminasi cairan tubuh yang berlebihan dengan berbagai alasan :
·       Ekresi elektrolit melalui ginjal  padasaat pemberian terapi diuretika.
·       Eliminasi elektrolit melalui gastro intestinal pada saat terjadi diare.
·       Eliminasi cairan melalui saluran cerna bagian atas ; hidrogen dan potassium
·       Eliminasi cairan melaui saluran cerna bagian bawah ; bikarbonat
·       Diaphoresis yang berlebihan : sodium dan klorida





Dinamika balans cairan tubuh  :

·       Transport pasif

     Transport pasif tidak memerlukan energi untuk menggerakkan air (molekul atau partikel terlarut) kembali dan melewati membran sel di antara ruang cairan .Mekanisme ini yaitu osmosis dan difusi. Distribusi cairan tubuh dipertahankan oleh
1.      Tekanan osmotik : tekanan yang mendesak membran semi permiabel.Cairan bergerak dari area berkonsentrasi rendah sampai mencapai kesamaan .
2.      Tekanan hidrostatik : tekanan pada cairan yang mendesak ke arah keluar melawan pusat tekanan (mis; jantung memompa darah yang menghasilkan tekanan pada dinding pembuluh darah).

     Adanya konsentrasi zat terlarut (misalnya sodium) akan menarik pelarut melalui membran permiable, jika zat terlarut tidak dapat mengalami difusi melalui membran. Osmose terjadi jika ada perbedaan tekanan yaitu konsentrasi air dalam larutan pada satu sisi membran lebih tinggi dari yang lain. Pada difusi zat terlarut bergerak dari area berkonsentrasi tinggi ke tempat berkonsentrasi lebih rendah. Jika pembatas ruangitu adalah membran sel cairan akan ditekan melewati membran bila terdsapat tekanan yang lebih tinggi, yaitu keadaan dimana tekanan hidrostatik lebih besar pada satu sisisnya daripada yang lain. Cairan  mencapai ekuilibrium atau keseimbangan dengan bergerak dari area bertekanan hidrostatik lebih tinggi ke area bertekanan lebih rendah. Jika air bergerak melalui membran semi permiabel molekul yang lebih kecil akan bergerak bersama air.  Molekul yang lebih besar akan tetap berada pada satu sisi membran.

Dinamakan filtrasi

     Proses fisika yang membantu pertukaran cairan pada tingkat intra vaskuler dan interstisial dinamakan dinamika kapiler atau hukum Starling .Kapiler merupakan pembuluh dengan ketebalan selapis sel yang membatasi cairan intravaskuler dan interstisial. Dinamika kapiler secara langsung berhubungan dengan tekanan hidrostatik yang berbeda antara ujung kapiler vena dan ujung kapiler arteri .
     Air , elektrolit dan nutrien sel dipompa dari ujungkapiler arteri ke arah luar oleh pompa aktif jantung (tekanan hidrostatik) melalui dinding membran sel kapiler. Pa da saat yang sama, sisa - sisa produk sel dan elektrolit ditarik ke ujung kapiler vena dengan tekanan osmotik yang dihasilkan oleh sifat magnetik protein lasma. Protein plasma meliputi : Albumin, yang menjaga tekanan koloid osmotik di dalam cairan ekstraseluler dan integritas dinding sel. Globulin, bertanggung jawab untuk fungsi immunologi. Fibrinogen, bertanggung jawab untuk pembekuan darah.
     Protein berperan pada dinamika balans cairan dengan menjaga cairan tetap di dalam sel dan menjaga cairan dalam ruang ektraseluler. Tekanan hidrostatik secara umum oleh aktifitas pompa jantung pada ujung arteri kapiler adalah 32 mmHg sementara tekanan osmotik dalam ruang interstisial 4 mmHg total 36 mmHg  tekanan ke arah luar.
     Dalam kapiler, protein plasma (terutama albumin) memelihara stabilitas tekanan koloidosmotik 22 mmHg .Protein plasma ini tidak permiabel melalui sel dinding kapiler. Tekanan koloid osmotik dikombinasi dengan tekanan hidrostatik jaringan 4 mmHg sama dengan 26 mmHg. Perbadaan tekanan jaringan 10 mmHg (36 - 26 mmHg) adalah kekuatan mendesak keluar cairan dari plasma. Tekanan hidrostatik plasma berturut-turut menurun dengan makin sedikit dan makin jauhnya dari jantung menjadi 17 mmHg di ujung kapiler vena, sementara tekanan osmotik jaringan kembali konstan 4 mmHg. Kekuatan total desakan pada ujung kapiler vena menjadi hanya 21 mmHg. Pada saat yang sama tekanan hidrostatik interstisial meningkat sedikit menjadi 6 mmHg, ditambah tekanan koloid osmotik yang tidak berubah 22 mmHg menghasilkan tekanan total 28 mmHg, menarik kembali cairan ke plasma. Kekuatan menarik cairan ke plasma pada ujung kapiler vena adalah 7 mmHg (28 - 21 mmHg).Cairan yang lepas dari plasma ke ruang interstisial dikembalikan ke sirkulasi oleh sistim limpatik yang memelihara volume darah yang normal.

·       Tranport aktif

     Transport aktif terjadi jika larutan/substansi yang melewati membran sel membutuhakan pengeluaran energi. Proses pompa aktif bekerja dari energi yang terlepas saat molekul ADP pecah. Energi ini menguatkan gerakkan substansi(gerakan melawan tekanan/konsentrasi yang lebih tinggi). Transpor aktif dapat menggerakkan substansi yang berbeda kedalam atau keluar sel secara serempak. Contoh transport aktif adalah pompa Na dan K dimana ion Na dipompa ke dalam dan ion K dipompa keluar sel setiap perubahan yang terjadi. Elektrolit-elektorlit lain juga dipompa keluar dan kedalam sel. Pompa sodium dan potassium berperan sebagai kunci dalam memelihara volume cairan intrase(ICF). Aliran keluar ion Na mengimbangi tekanan osmotik yang dihasilkan oleh protein intra sel untuk menekan kelebihan air kedalam sel.

Ginjal :
     Ginjal adalah pengatur keseimbangan natrium dan cairan dalam ECF, sel dalam Glomerulus mengsekresi enzim renin jika mendapat rangsangan penurunan sodium dan menurunnya volume plasma.Renin mengaktifkan angiotengsin I dan kemudian secara enzimatik berubah menjadi angiotengsin II, suatu vasokonstriktor. Angiotengsin II secara selektif mengkontriksi arteriol di nephron, jika sodium serum menurun pada peningkatan volume plasma , filtrasi glomerulus akan meningkat sehingga terjadi peningkatan output urine. Jika sodium serum tinggi dengan volume plasma rendah atau normal, filtrasi glomerulus akan menurun sehingga output urine menurun titik. Angiotengsin II juga menyebabkan lepasnya hormon aldosteron dari korteks adrenal.Hormon ini bekerja pada tubulus distal, menyebabkan reabsorbsi sodium dan air serta ekresi potassium.

1.    Anti diuretika hormon (ADH)

Berfungsi untuk mencegah tubuh kekurangan air melalui mekanisme peningkatan rearsobsi natrium dan air ditubulus ginjal.ADH diproduksi karena adanya stimulasi yang disebabkan oleh peningkatan osmolaritas, penurunan volume CES.
·       Mekanisme penyerapan disistim pencernaan dan mekanisme haus di hipotalamus yang mencegah tubuh kekuranga air.
·       Aldosteron (diproduksi di korteks ginjal). Bekerja ditubulus ginjal untuk mengabsorpsi natrium (sifat mengikat cairan), mengekresikan kalium dan meningkatkan sirkulasi.
·       Parathormon (PTH). Meningkatkan absoprsi kalsium dalam usus, meningkatkan pengeluaran kalsium dari tulang dan meningkatkan ekskresi ion fosfat oleh ginjal.
·       Mekanisme pergerakkan cairan dan elektrolit
·       Cairan, elektrolit, gas, dan molekul-molekul kecil bergerak bebas melalui membran semipermiabel keseluruh bagian tubuh. Pergerakkan ini terjadi terus-menerus untuk membawa oksigen dan nutrisi bagi sel dan mengeluarkan sisa methabolisme dari sel, pergerakkan tersebut terjadi karena adanya mekanisme diffusi, osmosis, dan filtrasi.


Sistem Cardiovaskuler
                                                                                                                                                     Sistim ini mengatur volume cairan, sensorik tekanan dan atrial natriuretik faktor.Volume darah yang normal membuat jantung memompa darah ke ginjal pada tekanan yang optimal dimana perfusi ginjal adekuat untuk membentuk urina. Peubahan voluma darah secara langsung mempengaruhi tekanan darah arteri dan output urine. Meningkatnya volume darah akan meningkatkan kardiak output. Peningkatan CO menyebabkan tekanan arteri meningkat yang secara langsung mempengaruhi ginjal, menyebabkan meningkatnya output urine, begitu sebaliknya bila terjadi penurunan volume darah yang merupakan upaya mempertahankan volume darah yang stabil pada keadaan intake cairan sehari-hari.

     Baroreseptor arteri dan sensor tekanan darah (reseptor stretch) pada pembuluh darah yang lebih besar (aorta, arteri karotis) berespon terhadap perubahan volume darah;
1.    Meningkatnya tekanan arteri menyebabkan baroreseptor berespon dan stretch reseptor mengirimkan impuls untuk menghambat sistim saraf simpatetik.
2.    Refleks susunan saraf simpatetik menyebabkan dilatasi arteriol ginjal yang selanjutnya meningkatkan output urine.

     Faktor nutriuretik atriel (ANF) adalah hormon polipeptida yang disekresi oleh atrial jantung ke dalam darah yang merentangkan atrial oleh meningkatnya volume darah. Sinyal ANF pada ginjal menurunkan reabsorbsi tubulus terhadap natrium sebagai hasilnya osmolaritas dan output urine meningkat, volume darah menurun. ANF mempunyai efek jangka pendek terhadap volume darah: Hormon ini nampak sebagai penetralisir mekanisme pengaturan pada keadaan kronik meningkatnya volume darah.

Saluran cerna

     Organ saluran cerna mencerna makanan, sehingga dapat diabsorbsi oleh tubuh. Proses enzimatik dan hormonal dalam pencernaan, dikombinasi dengan transpor aktif dan pasif merupakan mekanisme dimana saluran cerna berpartisipasi dalam pengaturan volume cairan. Setelah awal pencernaan di gaster, caira bercampur air dan sekresi saluran cerna (dalam 24 jam volume sekitar 9 liter) bergerak ke usus halus.Sekitar 85 - 95 % air diabsorbsi dan sari-sari makanan ditransport ke plasma melewati usus halus.  Kolon mengabsorbsi air 500 - 1000 ml dan menyerap elektrolit sebelum bergerak menuju rektum dan anus yang akan dikeluarkan sebagai faeses.

Secara endokrin

     Pengatur utama intake cairan adalah pusat rasa haus di hipotalamus.Seseorang minum/berhenti minum sebagai respon umpan balik sinyal dari pusat rasa haus dan saluran cerna.Penurunan ICF di sel pusat rasa haus ditambah menurunnya jumlah cairan dalam usus merangsang seseorang untuk minum.Sel osmoreseptor di hipotalamus posterior berespon terhadap perubahan osmolaritas ECF.Jika osmolaritas meningkat, kelenjar piktuiritari mensekresi hormon ADH.Jika osmolaritas ECF menurun, sekresi ADH dihambat.ADH bekerja ditubulus distal untuk meningkatkan permebilitas membran terhadap air sehingga meningkatkan reabsorbsi air.Reseptor di sensorik mukosa salura cerna dibawah pengaruh ADH mengabsorbsi air diusus besar (kolon). Volume ICF pada pusat rasa haus yang meningkat menghambat keinginan untuk minum, segera mekanisme umpan balik rsa haus dan fungsi ADH  bekerja sebaliknya terhadap air untuk memlihara keadaan homeostasis. Adrenal mengontrol keseimbangan cairan dan elektrolit melalui sekresi hormon steroid terutama aldosteron.Paratiroid membantu mempertahankan keseimbangan elektrolit melalui sekresi hormon paratiroid.

2.6    Penyebab Terjadinya Gangguan Keseimbangan pada Cairan Tubuh dan Elektrolit

2.6.1                  Diare
Diare adalah frekwensi buang air besar dalam bentuk cairan lebih dari tiga kali, dalam satu hari .Biasanya berlangsung dua hari atau lebih, selain itu tinja atau feses penderita masih memiliki kandungan air berlebihan, kira – kira 200 gram.Diare merupakan keadaan yang paling sering menyebabkan kehilangan cairan dalam jumlah besar.Di seluruh dunia, 4 juta anak-anak meninggal setiap tahun karena dehidrasi akibat diare.

2.6.2                  Nefritis
Nefritis adalah kerusakan pada bagian glomerulusginjal akibat infeksi kuman umumnya bakteristreptococcus. Akibat nefritis ini seseorang akan menderita uremia atau edema. Uremia adalah masuknya kembali urine (C5H4N4O3) dan urea ke dalam pembuluh darah sedangkan edema adalah penimbunan air di kaki karena terganggunya reabsorpsi air.



2.6.3                  Anoreksia
Anoreksia nervosa(AN) adalah sebuah gangguan makan yang ditandai dengan penolakan untuk mempertahankan berat badan yang sehat dan rasa takut yang berlebihan terhadap peningkatan berat badan akibat pencitraan diri yang menyimpang.Karena kekurangan asupan makan inilah, tubuh mengalami kekurangan garam mineral yang berakibat terjadi ketidakseimbangan elektrolit dalam tubuh penderita.

2.6.4                  Gagal ginjal akut (GGA)
Gagal ginjal adalah keadaan dimana ginjal tidak dapat melakukan kerja sesuai dengan fungsinya. Berkaitan dengan keseimbangan cairan, dengan ketidakmampuan ginjal melakukan fungsinya maka keseimbangan cairan dalam darah tidak akan di filtrasi ataupun di reabsorbsi oleh ginjal sehingga cairan tersebut masih akan bercampur dalam darah.

2.6.5                  Gangguan pernafasan seperti kanker oesofagus
Pada kasus kanker oesofagus maka akan menganggu system pencernaan terutama proses penelanan makanan yang mengandung garam mineral dan air.

2.6.6                  Koma
Pasien koma tidak dapat dibangunkan, tidak memberikan respons normal terhadap rasa sakit atau rangsangan cahaya, tidak memiliki siklus tidur-bangun, dan tidak dapat melakukan tindakan sukarela. Sehingga jika penderita tidak ditanggani dengan benar akan mengalami dehidrasi akibat tidak mendapat asupan makanan dan cairan tubuh yang benar.

2.6.7                  Hidrofobia
ketakutan yg berlebih-lebihan dan tidak normal pada air, sehingga memungkinkan penderita untuk menghindari mengkonsumsi air yang berakibat pada ketidakseimbangan kebutuhan cairan dalam tubuh.

2.6.8                  Terdampar di laut atau padang pasir
Terdampar di laut dan padang pasir dalam waktu yang lama akan mengakibatkan kekurangan cairan (dehidrasi), berkaitan dengan jangka waktu yang lama, sedikitnya persediaan makanan dan iklim dan suhu tempat saat itu.

2.6.9                  Muntah-muntah yang hebat
Muntah sering menyebabkan dehidrasi karena sangat sulit untuk menggantikan cairan yang keluar dengan cara minum. Tubuh kehilangan banyak cairan saat berkeringat. Kondisi lingkungan yang panas akan menyebabkan tubuh berusaha mengatur suhu tubuh dengan mengeluarkan keringat. Bila keadaan ini berlangsung lama sementara pemasukan cairan kurang maka tubuh dapat jatuh ke dalam kondisi dehidrasi.

2.6.10              Penderita luka bakar yang hebat
Penderita luka bakar dapat mengalami dehidrasi akibat keluarnya cairan berlebihan pada kulit yang rusak oleh luka bakar. Semakin luas luka bakar yang diderita semakin hebat dehidrasi yang akan mengikutinya.

2.6.11              Diabetes insipidus
Diabetes insipidus (DI) adalah suatu kondisi yang ditandai oleh rasa haus yang berlebihan dan ekskresi dalam jumlah besar sangat diencerkan urin, dengan pengurangan asupan cairan karena tidak berpengaruh pada yang terakhir.Ada beberapa jenis DI, masing-masing dengan penyebab yang berbeda.Jenis yang paling umum adalah DI neurogenik, disebabkan oleh kekurangan arginine vasopressin (AVP), juga dikenal sebagai hormon antidiuretik (ADH).Jenis umum yang kedua DI nephrogenic diabetes insipidus, yang disebabkan oleh ketidakpekaan dari ginjal untuk ADH.Hal ini juga bisa menjadi artefak iatrogenik penggunaan narkoba.

2.6.12    Ileostomi
Ileostomi adalah bedah pembuatan lubang antara illeum dan dinding abdomen untuk tujuan diversi fekal. Karena ileum merupakan salah satu selaput mukosa yang ada ditubuh, jika pernah mengalami operasi maka akan sering terjadi gangguan fungsi kerja normalnya yang akan menganggu penyerapan sari-sari makanan yang dibutuhkan tubuh, termasuk kebutuhan akan garam mineral untuk tubuh.

2.6.13    Diaphoresis
Diaphoresis adalah keadaan dimana keluar keringat yang berlebihan, keluar keringat secara hebat, bisa disebabkan karena kelainan ekskresi kelenjar keringat pada kulit ataupun keadaan alamiah saat melahirkan yang nantinya akan mengakibatkan dehidrasi.

2.6.14    Diuretic
Diuretik adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada suatu kondisi, sifat atau penyebab naiknya laju urinasi, misalnya dengan obat penambah frekuensi urinasi, berarti pemaksaan agar laju urinasi menjadi lebih dari biasanya.Hal ini dapat menganggu keseimbangan cairan dalam tubuh akibat banyaknya urin yang dikeluarkan.

2.6.15    DM (diabetes mellitus)
Diabetes Mellitus merupakan suatu penyakit kronik yang kompleks yang melibatkan kelainan metabolisme karbohidrat, protein dan lemak dan berkembangnya komplikasi makrovaskuler, mikrovaskuler dan neurologis. Akibat banyaknya glukosa yang larut dalam darah, maka tubuh akan menyeimbangkan dengan banyak melarutkan banyak air sehingga darah tidak pekat. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi maka akan terjadi komplikasi dalam tubuh.

2.6.16    Defisiensi aldosteron
Hormone aldosteron berperan dalam pengaturan urinasi.Oleh karena itulah kelainan peyeksresian hormone ini dapat mempengaruhi keseimbangan cairan tubuh.

2.6.17    Penyakit Addison
penyakit Addison terjadi akibat kurangnya kortisol, aldosteron, ddan androgen. Isufisiensi kortisol menyebabkan berkurangnya glukoneogenesis, penurunan glikogen hati, dan peningkatan kepekaan jarinagan perifer terhadap insulin.


2.6.18    Ascites
Ascites adalah akumulasi dari cairan (biasanya cairan serous yang adalah cairan kuning pucat dan bening) dalam rongga perut (peritoneal). Asas dasarnya adalah serupa pada pembentukan dari edema ditempat lain di tubuh yang disebabkan oleh ketidakseimbangan tekanan antara sirkulasi dalam (sistim tekanan tinggi) dan luar, dalam kasus ini, rongga perut (ruang tekanan rendah). Kenaikan dalam tekanan darah portal dan pengurangan dalam albumin (protein yang diangkut dalam darah) mungkin bertangung jawab dalam pembentukan gradien tekanan dan berakibat pada ascites perut.

2.6.19 Efusi pleura
Efusi pleura merupakan penyakit saluran pernapasan. Akibat terganggunya saluran pernafasan, system transportasi dan kadar O2 dan CO2 dalam tubuh ikut terganggu, hal ini dapat mempengaruhi transportasi zat-zat yang dibutuhkan oleh tubuh.

2.6.20    Hipoalbuminuria
Hipoalbuminemia adalah suatu simtoma rendahnya kadaralbumin di dalam serum darah akibat abnormalitas. Oleh karena albumin merupakan protein, maka hipoalbuminemia merupakan salah satu bentuk hipoproteinemia.

2.6.21    Peritonitis (penimbunan cairan 4-6 L dirongga peritoneal)
Peritonitis (radang selaput rongga perut) Peritonitis adalah peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada selaput rongga perut yang mengakibatkan terganggunya penyerapan asupan sari-sari makanan dan garam mineral.

2.6.22    Obstruksi usus (terjadi penimbunan cairan 5-10 L)
Obstruksi usus dapat didefinisikan sebagai gangguan (apapun penyebabnya) aliran normal isi usus sepanjang saluran usus.Menyebabkan terganggunya penyerapan sari-sari makanan dan garam mineral.

2.6.23              Pengangkatan kelenjar gondok (paratiroid)
Pengangkatan kelenjar gondok jelas mempengaruhi keseimbangan cairan tubuh, Karena terdapat hormone yang mempengaruhi pengaturan jumlah garam-garam mineral dalam darah.





2.7    Persiapan yang perlu di lakukan sebelum tindakan infus dan tranfusi darah

1.Pemberian cairan melalui infus
     Pemberian cairan melalui infuse merupakan memasukkan cairan melalui intervena yang dilakukan pasien dengan bantuan perangkat infus.Tindakan ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan cairan dan infuse.Tindakan ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit serta sebagai tindakan pengobatan dan pemberian makanan.
v  Persiapan Alat dan Bahan

1.    Standar infuse.
2.    Perangkat infuse.
3.    Cairan sesuai dengan kebutuhan pasien.
4.    Jarum infus/abocath atau sejenisnya sesuai dengan ukuran.
5.    Pengalas.
6.    Tourniquet / pembendung.
7.    Kapas alcohol 70%
8.    Plester.
9.    Gunting.
10.     Kasa steril.
11.     Betadine TM
12.     Sarung tangan.

v  Prosedur Kerja
1.      Cuci tangan
2.      Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
3.      Hubungan cairan dan perangkat infuse dengan memasukkan kedalam botol infus (cairan)
4.      Isi cairan ke dalam perangkat infus dengan menekan bagian ruang tetesan hingga ruangan tetesan terisi sebagian,kemudian buka penutup hingga selang terisi dan keluar udaranya.
5.      Letakkan pengalas.
6.      Lakukan pembendungan dengan tourniquet.
7.      Gunakan sarung tangan
8.      Disinfeksi daerah yang akan di suntik.
9.      Lakukan penusukka dengan arah jarum ke atas.
10.  Cek apakah sudah mengenai vena dengan cirri darah keluar melalui jarum infuse/abocath.
11.  Tarik jarum infuse dan hubungkan dengan selang infuse.
12.  Buka tetesan.
13.  Lakukan dengan disinfeksi dengan Betadine TM dan tutup dengan kasa steril.
14.  Catat respon yang terjdi.
15.  Cuci tangan.

2. Tranfusi Darah
     Tranfusi darah merupakan tindakan memasukkan darahmelalui vena dengan seperangkat alat tranfusi pada pasien yang membuuhkan darah.Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan dan memperbaiki perfusi jaringan.

v Persiapan Alat dan Bahan

1.      Standar infuse
2.      Perangkat tranfusi.
3.      NaCl 0,9 %
4.      Darah sesuai dengan kebutuha pasien.
5.      Jarum infus/abocath atau sejenisnya sesuai deng ukuran.
6.      Pengalas.
7.      Tourniquet/pembendung.
8.      Kapas alcohol 70%.
9.      Plaster.
10.  Gunting .
11.  Kasa steril
12.  Betadini TM
13.  Sarung tangan

v Prosedur Kerja

1.      Cuci tangan.
2.      Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan.
3.      Hubungkan cairan NaCl 0,9% ke dalam perangkat tranfusi dengan menekan bagian  menusukkannya.
4.      Isi cairan Nacl 0,9%ke dalam perangkat  tranfusi dengan menekan bagian ruang tetesan terisi sebagian.Kemudian buka penutup,hingga selang terisi dan udaranya keluar.
5.      Letakkan pengalas.
6.      Lakukan pembendungan dngan ourniquet.
7.      Gunakan sarung tangan.
8.      Disinfeksi daerah yang akan disuntik.
9.      Lakukan penusukka dengan arah jarum ke atas.
10.  Cek apakah sudah mengenai vena dengan cirri darah keluar melalui jarum infuse/abocath.
11.  Tarik jarum infuse dan hubungkan dengan selang infuse.
12.  Buka tetesan.
13.  Lakukan dengan disinfeksi dengan Betadine TM dan tutup dengan kasa steril.
14.  Beri tanggal dan jam pelaksanaan infuse pada plester
15.  Setelah NaCl 0,9% masuk sekitar ± 15 menit,ganti dengan darah yang sudah disiapkan.
16.  Darah sebelum dimasukkan, terlebih dahulu di chek warna darah. Identitas pasien, jenis golongan darah, dan tanggal kadaluarsa.
17.  Lakukan observasi tanda-tanda vital selama pemakaian.
18.  Catat respons terjadi.
19.  Cuci tangan.





BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
Kebutuhan cairan merupakan bagian dari kebutuhan dasar manusia secara fisiologis dan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti usia, jenis kelamin, berat badan, dan kondisi tubuh. Cara perpindahan cairan tubuh agar kebutuhan cairan intrasel terpenuhi ada 3, yaitu difusi, osmosis dan traspor aktif. Faktor yang berpengaruh dalam pengaturan cairan yaitu tekanan cairand an membran semipermeable.
Jumlah kebutuhan cairan dan elektrolit yang di butuhkan tubuh pada kondisi normal , kurang lebih 60% dari berat badan , 2/3 bagian berada di intrasel dan 1/3 bagian berada di ekstrasel  yang merupakan terdiri dari cairan dan elektrolit di dalam tubuh kita .
Gangguanatau  masalah keseimbangan cairan dan elektrolit yang dapat terjadi selain hipovolomik shock adalah hiponatremia, hipernatremia, hipokalsemia, hiperkalsemia, hipokalemia, hiperkalemia, hipomagnesia, dan hipermagnesia. Gangguan keubutah cairan ini didasari oleh kekurangan cairan tubuh dan elektrolit dari kebutuhan normal tubuh atau yang sering disebut dengan dehidrasi. Adapun dehidrasi dibagi lagi menjadi tiga yaitu dehidrasi primer, dehidrasi sekunder dan dehidrasi tersier.
Penyebab terjadinya gangguan keseimbangan pada cairan tubuh dan elektrolit bermacam-macam, seperti Diare,Nefritis, Anoreksia, Gagal ginjal akut (GGA),Koma, Hidrofobia, Terdampar di laut atau padang pasir, Muntah-muntah yang hebat, Penderita luka bakar yang hebat, Diabetes insipidus (DI), Ileostomi, Diaphoresis, Diuretic, DM (diabetes mellitus), Defisiensi aldosteron, Penyakit Addison, Ascites, Efusi pleura, Hipoalbuminuria, Peritonitis (penimbunan cairan 4-6 L dirongga peritoneal), Obstruksi usus (terjadi penimbunan cairan 5-10 L), Pengangkatan kelenjar gondok (paratiroid).

3.2  Saran
Kebutuhan cairan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia, oleh karena itu kita sebagai manusia harus selalu bisa menjaga keseimbangan cairan di dalam tubuh. Jika terdapat ketidakseimbangan dalam cairan dan  elektrolit di dalam tubuh akan berakibat pada terganggunya semua sistem yang berkerja karena ketidakseimbangan ini akan langsung mengganggu kerja sel yang merupakan penyusun terkecil dari jaringan. Penjagaan keseimbangan cairan dalam tubuh ini bisa dimulai dengan minum air putih 18 gelas sehari. Karena lebih baik mencegah daripada mengobati.
































DAFTAR PUSTAKA
http://www.bidankita.com/joomla-license/all-about-childbirth/420-plasenta-lengket-retensio-plasenta
http://www.lusa.web.id/perdarahan-post-partum-perdarahan-pasca-persalinan/
http://sehat-enak.blogspot.com/2010/03/syok-shock.html
http://www.pojok-vet.com/Obat-dll/infus-rl.html
Uliyah,Musrifatul.2008.Keterampilan Dasar Kebidanan Praktik Klinik.Jakarta:Salemba Medika
Prawirohardjo, Sarwono.2009.Ilmu Kebidanan.Jakarta:PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Your CommEnT........