Kontes SEO Gudangpoker.com

Kunjungi

Selasa, 15 Juli 2014

Sembelit Pada Kehamilan

Kasus III
Sembelit pada Ibu Hamil
267222_159829887419125_7032827_n












Oleh :
Kelas Non Reguler

Nur Isnaini                             (09)                   Sudarmi                                   (13)
Ika Rizka Amalia                   (10)                   Mulinda Imanati                     (14)
Utami Tri Oktaviani              (11)                   Putri Arinda Aprilia                (15)
Rosy Rismaya N.D                (12)                   Agustin Dwi Settyowati         (16)





Pembimbing
Rodiyatun,S.Kep. Ns.M.Pd

Poltekkes Kemenkes Surabaya
Prodi  Kebidanan Bangkalan
Tahun Akademik  2012/2013

Kata Pengantar

           Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kesempatan kepada kami sehingga dapat menyelesaikan makalah Keterampilan Dasar Kebidanan yang berjudul Sembelit Pada Ibu Hamil
           Makalah ini kami susun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keterampilaan Dasar Kebidanan.
Atas tersusunya makalah ini kami mengucapakan terimakasih kepada
1.      Ibu Sri Wayanti, S.SiT.M.PH. selaku ketua Program Studi Kebidanan Bangkalan;
2.      Ibu Rodiyatun, S.Kep.Ns.M.Pd. selaku Dosen pengajar mata kuliah Keterampilan Dasar Kebidanan;
3.      Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini.
Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih belum sempurna. Karena itu, kritik dan saran, kami terima dengan senang hati demi sempurnanya makalah ini.
Semoga makalah ini bermanfaat.







Bangkalan,  Desember 2012




                                                                                   Penyusun










BAB I

PENDAHULUAN


1.1   Latar Belakang
1.2   Rumusan Masalah
1.3   Tujuan

























BAB II
PEMBAHASAN
2.1      
JAWABAN
1.      Sistem pencernaan
Organ usus :
·         Usus halus (usus kecil) adalah bagian dari saluran pencernaan yang terletak di antara lambung dan usus besar.
Lapisan usus halus : lapisan mukosa (sebelah dalam), lapisan otot melingkar (sirkuler), lapisan otot memanjang (longitidinal), dan lapisan serosa (sebelah luar). Usus halus terdiri dari 3 bagian :
§  Usus 12 jari (duo denum ) adalah bagian dari usus halus yang terletak setelah lambung dan menghubungkannya ke usus  kosong (jejunum) .  Bagian usus 12 jari merupakan bagian terpendek dari usus halus, dimulai dari bulbo duodenale dan berakhir di ligamentum Treitz.  Usus 12jari merupakan organ retroperitoneal yang tidak terbungkus seluruhnya oleh selaput peritonium
§  Usus kosong (jejenum) adalah bagian kedua dari usu halus, diantara usu 12jari duodenum dan usu penyerapan (ileum).  Pada manusi dewasa, panjang seluruh usus halus antara 2-8 meter, 1-2meter adalah bagian usus kosong kosong
§  Usus penyerapan (ileum) adalah bagian terakhir dari usus halus.  Pada sistem pencernaan manusia, ini memiliki panjang sekitar 2-4meter dan terletak setelah duodenum dan jejunum, dan dilanjutkan oleh usus buntu.  Ileum memiliki pH antara 7 dan 8 (netral atau sedikit basah ) dan berfungsi menyerap vitamin B12 dan garam-garam empedu.
·         Usus besar atau kolon dalam anatomi adalah bagian usus antara usus buntu dan rektum.  Fungsi utama organ ini adalah menyerap air dari feses.  Usus besar terdiri dari :
o   Kolon asendens (kanan)
o   Kolon tranversum
o   Kolon desendens (kiri)
o   Kolon sigmoid (berhubungan dengan rektum)
  1. Anatomi Usus besar

Bagian Anatomi Usus Besar
Usus besar atau kolon memiliki panjang ± 1 meter dan terdiri atas kolon ascendens, kolon transversum, dan kolon descendens. Di antara intestinum tenue (usus halus) dan intestinum crassum (usus besar) terdapat sekum (usus buntu). Pada ujung sekum terdapat tonjolan kecil yang disebut appendiks (umbai cacing) yang berisi massa sel darah putih yang berperan dalam imunitas.
Proses Pencernaan Oleh Usus Besar
Zat - zat sisa di dalam usus besar ini didorong ke bagian belakang dengan gerakan peristaltik. Zat - zat sisa ini masih mengandung banyak air dan garam mineral yang diperlukan oleh tubuh. Air dan garam mineral kemudian diabsorpsi kembali oleh dinding kolon, yaitu kolon ascendens. Zat-zat sisa berada dalam usus besar selama 1 sampai 4 hari. Pada saat itu terjadi proses pembusukan terhadap zat-zat sisa dengan dibantu bakteri Escherichia coli, yang mampu membentuk vitamin K dan B12. Selanjutnya dengan gerakan peristaltik, zat-zat sisa ini terdorong sedikit demi sedikit ke saluran akhir dari pencernaan yaitu rektum dan akhirnya keluar dengan proses defekasi melewati anus.
http://1.bp.blogspot.com/-5Dva_YEfZBk/T5a3ppjZ95I/AAAAAAAAADM/ZXD19G4unfI/s320/gambar+6.10.jpg
Defekasi diawali dengan terjadinya penggelembungan bagian rektum akibat suatu rangsang yang disebut refleks gastrokolik. Kemudian akibat adanya aktivitas kontraksi rektum dan otot sfinkter yang berhubungan mengakibatkan terjadinya defekasi. Di dalam usus besar ini semua proses pencernaan telah selesai dengan sempurna.

FISOLOGI USUS BESAR
ü  USUS BESAR
Usus besar mempunyai berbagai fungsi yang semuanya berkaitan dengan proses akhir isi usus. Fungsi usus besar yang pling penting adalah absorbsi air dan elektrolit, yang sudah hampir selsai dlam kolon dekstra. Kolon sigmoid berfungsi sebagai reservoir yang menampung masa feses yang sudah terdehidrasi hingga berlangsungnya defekasi.
Banyaknya bakteri yang terdapat di dalam usus besar berfungsi mencerna beberapa bahan dan membantu penyerapan zat-zat gizi. Bakteri di dalam usus besar juga berfungsi membuat zat-zat penting, seperti vitamin K. Bakteri ini penting untuk fungsi normal dari usus. Beberapa penyakit serta antibiotik bisa menyebabkan gangguan pada bakteri-bakteri didalam usus besar. Akibatnya terjadi iritasi yang bisa menyebabkan dikeluarkannya lendir dan air, dan terjadilah diare
Anatomi Usus Halus
Usus halus merupakan saluran berkelok-kelok yang panjangnya sekitar 6–8 meter, lebar 25 mm dengan banyak lipatan yang disebut vili atau jonjot-jonjot usus. Vili ini berfungsi memperluas permukaan usus halus yang berpengaruh terhadap proses penyerapan makanan.
Usus halus terbagi menjadi tiga bagian seperti berikut:
a.      Duodenum (usus 12 jari), panjangnya ± 25 cm,
b.     Jejunum (usus kosong), panjangnya ± 7 m,
c.      Ileum (usus penyerapan), panjangnya ± 1 m.



Struktur Usus Halus
http://2.bp.blogspot.com/-NJJkxcoaBAc/T5a3l9gm3fI/AAAAAAAAADE/S99RjfS59I0/s320/gambar+6.8.jpg
Kimus yang berasal dari lambung mengandung molekul molekul pati yang telah dicernakan di mulut dan lambung, molekul-molekul protein yang telah dicernakan di lambung, molekul - molekul lemak yang belum dicernakan serta zat - zat lain. Selama di usus halus, semua molekul pati dicernakan lebih sempurna menjadi molekul-molekul glukosa. Sementara itu molekul-molekul protein dicerna menjadi molekul-molekul asam amino, dan semua molekul lemak dicerna menjadi molekul gliserol dan asam lemak.
Pencernaan makanan yang terjadi di usus halus lebih banyak bersifat kimiawi. Berbagai macam enzim diperlukan untuk membantu proses pencernaan kimiawi ini.
Hati, pankreas, dan kelenjar-kelenjar yang terdapat di dalam dinding usus halus mampu menghasilkan getah pencernaan. Getah ini bercampur dengan kimus di dalam usus halus. Getah pencernaan yang berperan di usus halus ini berupa cairan empedu, getah pankreas, dan getah usus.
a.   Cairan Empedu
Cairan empedu berwarna kuning kehijauan, 86% berupa air, dan tidak mengandung enzim. Akan tetapi, mengandung mucin dan garam empedu yang berperan dalam pencernaan makanan. Cairan empedu tersusun atas bahan-bahan berikut.
1.     Air, berguna sebagai pelarut utama.
2.     Mucin, berguna untuk membasahi dan melicinkan duodenum agar tidak terjadi iritasi pada dinding usus.
3.     Garam empedu, mengandung natrium karbonat yang mengakibatkan empedu bersifat alkali. Garam empedu juga berfungsi menurunkan tegangan permukaan lemak dan air (mengemulsikan lemak).
Cairan ini dihasilkan oleh hati. Hati merupakan kelenjar pencernaan terbesar dalam tubuh yang beratnya ± 2 kg. Dalam sistem pencernaan, hati berfungsi sebagai pembentuk empedu, tempat penimbunan zat-zat makanan dari darah dan penyerapan unsur besi dari darah yang telah rusak. Selain itu, hati juga berfungsi membentuk darah pada janin atau pada keadaan darurat, pembentukan fibrinogen dan heparin untuk disalurkan ke peredaran darah serta pengaturan suhu tubuh.
Empedu mengalir dari hati melalui saluran empedu dan masuk ke usus halus. Dalam proses pencernaan ini, empedu berperan dalam proses pencernaan lemak, yaitu sebelum lemak dicernakan, lemak harus bereaksi dengan empedu terlebih dahulu. Selain itu, cairan empedu berfungsi menetralkan asam klorida dalam kimus, menghentikan aktivitas pepsin pada protein, dan merangsang gerak peristaltik usus.

b. Getah Pankreas
Getah pankreas dihasilkan di dalam organ pankreas. Pankreas ini berperan sebagai kelenjar eksokrin yang menghasilkan getah pankreas ke dalam saluran pencernaan dan sebagai kelenjar endokrin yang menghasilkan hormon insulin. Hormon ini dikeluarkan oleh sel-sel berbentuk pulau pulau yang disebut pulau - pulau langerhans. Insulin ini berfungsi menjaga gula darah agar tetap normal dan mencegah diabetes melitus.
Getah pankreas ini dari pankreas mengalir melalui saluran pankreas masuk ke usus halus. Dalam pankreas terdapat tiga macam enzim, yaitu lipase yang membantu dalam pemecahan lemak, tripsin membantu dalam pemecahan protein , dan amilase membantu dalam pemecahan pati.
c.   Getah Usus
Pada dinding usus halus banyak terdapat kelenjar yang mampu menghasilkan getah usus. Getah usus mengandung enzim-enzim seperti berikut.
1.           Sukrase, berfungsi membantu mempercepat proses pemecahan sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa.
2.          Maltase, berfungsi membantu mempercepat proses pemecahan maltosa menjadi dua molekul glukosa.
3.         Laktase, berfungsi membantu mempercepat proses pemecahan laktosa menjadi glukosa dan galaktosa.
4.         Enzim peptidase, berfungsi membantu mempercepat proses pemecahan peptida menjadi asam amino.
Monosakarida, asam amino, asam lemak, dan gliserol hasil pencernaan terakhir di usus halus mulai diabsorpsi atau diserap melalui dinding usus halus terutama di bagian jejunum dan ileum. Selain itu vitamin dan mineral juga diserap. Vitamin-vitamin yang larut dalam lemak, penyerapannya bersama dengan pelarutnya, sedangkan vitamin yang larut dalam air penyerapannya dilakukan oleh jonjot usus.
Penyerapan mineral sangat beragam berkaitan dengan sifat kimia tiap-tiap mineral dan perbedaan struktur bagian bagian usus. Sepanjang usus halus sangat efisien dalam penyerapan Na+, tetapi tidak untuk Cl–, HCO3–, dan ion-ion bivalen. Ion K+ penyerapannya terbatas di jejunum. Penyerapan Fe++ terjadi di duodenum dan jejunum.
Proses penyerapan di usus halus ini dilakukan oleh villi (jonjot-jonjot usus). Di dalam villi ini terdapat pembuluh darah, pembuluh kil (limfa), dan sel goblet. Di sini asam amino dan glukosa diserap dan diangkut oleh darah menuju hati melalui sistem vena porta hepatikus, sedangkan asam lemak bereaksi terlebih dahulu dengan garam empedu membentuk emulsi lemak. Emulsi lemak bersama gliserol diserap ke dalam villi. Selanjutnya di dalam villi, asam lemak dilepaskan, kemudian asam lemak mengikat gliserin dan membentuk lemak kembali. Lemak yang terbentuk masuk ke tengah villi, yaitu ke dalam pembuluh kil (limfa).
Melalui pembuluh kil, emulsi lemak menuju vena sedangkan garam empedu masuk ke dalam darah menuju hati dan dibentuk lagi menjadi empedu. Bahan-bahan yang tidak dapat diserap di usus halus akan didorong menuju usus besar (kolon).

FISIOLOGI USUS HALUS

Usus halus memiliki panjang kurang lebihnya 6 meter pada manusia,usus halus (small intestine) merupakan bagian dari sistempencernaan yang terpanjang.Pada organ ini penyederhana-an zat yang kompleks akan dirubahdan diurai menjadi bentuk yang lebih sederhana lagi daripada hasilpencernaan dari tahap-tahap sebelum-nya, dan sebagian besar zat-zat tersebut diserap oleh darah yang ada di pembuluh kapiler yangtersebar di usus halus ini dengan cara berdifusi, untuk selanjutnyadidistribusikan bagi seluruh bagian tubuh yang membutuhkannya.

  1. Faktor yang mempengaruhi defekasi
1.      Usia
Setiap tahap perkembangan/usia memiliki kemampuan mengontrol proses defekasi yang berbeda.  Bayi belum memiliki kemampuan mengontrol secara penuh dalam buang air besar, sedangkan orang dewasa sudah memiliki kemampuan mengontrol secara penuh, kemudian pada usia lanjut proses pengontrolan tersebut mengalami penurunan.
2.      Diet
Diet, pola, atau jenis makanan yang dikonsumsi dapat memengaruhi proses defekasi.  Makanan yang memiliki kandungan serat tinggi dapat membantu proses percepatan defekasi dan jumlah yang dikonsumsi pun dapat memengaruhinya.
3.      Asupan cairan
Pemasukan cairan yang kurang dalam tubuh membuat defekasi menjadi keras.  Oleh karena itu, proses absorpsi air yang kurang menyebabkan kesulitan proses defekasi.
4.      Aktivitas
Aktivitas dapat memengaruhi proses defekasi karena melalui aktivitas tonu oto abdomen, pelvis, dan diafragma dapat membantu kelancaran proses defekasi.  Hal ini kemudian membuat proses gerakan peristaltik pada daerah kolon dapat bertambah baik.
5.      Pengobatan
Pengobatan juga dapat memengaruhi proses defekasi, seperti penggunaan Laksantif atau Antasida yang terlalu sering.  Kedua jenis tersebut dapat melunakkan feses dan meningkatkan peristaltik usus.  Penggunaan lama menyebabkan usus besar kehilangan tonus ototnya dan menjadi kurang respontif terhadap stimulasi yang diberikan oleh laksantif.
6.      Gaya Hidup
Kebiasaan atau gaya hidup dapat memengaruhi proses defekasi.  Hal ini dapat terlihat pada seseorang yang memiliki gaya hidup sehat / kebiasaan melakukan buang air besar di tempat yang bersih atau toilet, ketika seseorang tersebut buang air besar di tempat yang terbuka atau tempat yang kotor, maka ia akan mengalami kesulitan dalam proses defekasi.

7.      Penyakit
Beberapa penyakit dapat memengaruhi proses defekasi, biasanya penyakit-penyakit tersebut berhubungan langsung dengan sistem pencernaan, seperti gastroenteristis atau penyakit infeksi lainnya.
8.      Nyeri
Adanya nyeri dapat memengaruhi kemampuan atau keinginan untuk defekasi, seperti nyeri pada kasus hemoroid, dan episiotomi.
9.      Kerusakan Sensoris dan Motoris
Kerusakan pada sistem sensoris dan motoris dapat memengaruhi proses defekasi karena dapat menimbulkan proses penurunan stimulasi sensoris dalam melakukan defakasi.  Hal tersebut dapat diakibatkan karena kerusakan pada tulang belakang atau kerusakan saraf lainnya.
10.  Tindakan Mengatasi Masalah Eliminasi Alvi (Buang air Besar)
  1. Menyiapkan Feses untuk bahan pemeriksaan
Menyiapkan feses untuk bahan pemeriksaan merupakan tindakan yang dilakukan untuk mengambil feses sebagai bahan pemeriksaan. Pemeriksaan tersebut yaitu pemeriksaan lengkap dan pemeriksaan kultur (pembiakan).
1)      Pemeriksaan feses lengkap merupakan pemeriksaan feses yang terdiri atas pemeriksaan warna, bau, konsistensi, lendir, darah dll.
2)      Pemeriksaan feses kultur merupakan pemeriksaan feses melalui biakan dengan cara toucher.
Mengeluarkan feses dengan jari                           
            Merupakan tindakan memasukkan jari ke dalam rectum pasien untuk mengambil atau menghancurkan massa feses sekaligus mengeluarkannya. Indikasi tindakan ini adalah apabila massa feses terlalu keras dan dalam pemberian enema tidak berhasil, maka terjadi konstipasi serta pengerasan feses yang tidak mampu dikeluarkan oleh manual.
  1. Persiapan alat dan bahan melakukan pemeriksaan feses         :
1)      Tempat penampungan atau botol penampung beserta penutup
2)      Etiket khusus
3)      Dua batang lidi kapas sebagai alat untuk mengambil feses
Prosedur kerja :                                              
1)      Cuci tangan
2)      Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
3)      Anjurkan untuk buang air besar lalu ambil feses melalui lidi kapas yang telah dikeluarkan. Setelah selesai, dianjurkan untuk membresihkan daerah sekitar anus
4)      Asupan bahan pemeriksaan ke dalam botol yang telah disediakan
5)      Catat nama pasien dan tanggal pengambilan bahan pemeriksaan
6)      Cuci tangan
Persiapan alat dan bahan mengeluarkan feses dengan jari :
1)      Sarung tangan.
2)      Minyak pelumas/jelly.
3)      Alat penampung atau pispot.
4)      Pengalas.
- Prosedur kerja :
1.      Cuci tangan.
2.      Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilaksanakan.
3.      Gunakan sarung tangan dan beri minyak pelumas (jelly) pada jari telunjuk.
4.      Atur posisi miring dengan lutut fleksi.
5.      Masukkan jari ke dalam rectum dan dorong perlahan-lahan sepanjang dinding rectum ke arah umbilicus (kea rah massa feses yang impaksi)
6.      Secara perlahan-lahan, lunakkan massa dengan massage daerah feses yang impaksi (arahkan jari pada inti yang keras).
7.      Gunakan pispot bila ingin buang air besar atau bantu ke toilet.
8.      Lepaskan sarung tangan, kemudian catat jumlah feses yang keluar, warna, kepadatan, dan respons pasien.
9.      Cuci tangan.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Your CommEnT........